BACK YOUNG

BACK YOUNG
7.Hani


__ADS_3

...Hallo guys🙆...


...Wellkombek 💁...


Feby sudah sampai di depan kelas 12 IPS 3, suasana kelasnya bisa di bilang  ramai dan berisik tapi saat Feby mengetuk pintu suasana kelas mendadak hening.


"Apa dia masih mengejar Jovan? Sedangkan Jovan sudah menolaknya di depan umum?"


"Cih tidak tahu malu!"


"Caper si udik!"


"Udah di tolak masih aja caper."


"Nadjis."


Feby merasa terbebani dengan clotehan mereka yang sangat menggangu kesehatan telinga, tapi ia masih bisa menangkalnya.


“Gue mau cari Hani Amelia.” Ucap Feby membuat semua orang terkejut.


Dulu Feby selalu berbicara aku-kamu, bukan lo-gue itulah yang membuat mereka terkejut, terlebih lagi Feby selalu berbicara dengan nada sopan tapi berbeda dengan yang sekarang mereka dengar, nada bicaranya terdengar kasar.


“PUNTEN! Gue cari Hani.” Ucap Feby  membangunkan semua orang yang tengah melamun.


Karena merasa terpanggil Hani pun berjalan ke arah pintu dan mendapati seseorang yang Hani tahu tapi tidak ia kenal. Hani mengetahui Feby, karena nama Feby sempat viral satu sekolah gara-gara nembak seorang pria most wanted sekolah yaitu Jovanka.


“Ada apa?” Tanya Hani penasaran.


“Ada sesuatu yang harus gue bicarain kepada lo, nanti sepulang sekolah bisa gak? Atau sekarang juga boleh kalau lo ada waktu? yang penting gue harus bicara ini sekarang juga.” Ucap Feby dengan nada serius.


Hani yang mendengar itu merasa tertegun karena nada bicara Feby seperti orang yang sudah akrab.


“Sekarang aja, kalo nanti sepulang sekolah gue gak bisa.” Jawab Hani.


Feby sudah mengetahui jika Hani tidak mempunyai waktu jika berbicara saat pulang sekolah, maka dari itu ia memancing Hani agar bisa bicara sekarang.


“Oke, lo mau kita bicara diamana?” Tanya Feby.


“Serah lo aja.” Jawab Hani datar.


“Giamana kalo di kantin?” Tanya Feby memastikan.


“Nggak ah mending di belakang sekolah aja.” Jawab Hani.


"Tadi katanya terserah gue?" Batin Zolla julid.


----


Mereka berdua sudah sampai di belakang sekolah, Feby duduk di kursi yang sudah tidak terpakai sedangkan Hani berdiri di hadapan Feby.


“Hani sebenarnya gue Zolla.” Ucap Feby langsung ke inti.


Mendengar itu Hani langsung tertawa dan memandang tajam pada arah Feby


“Ahh...Feby Feby! Gue udah tahu siasat lo! Lo lagi cari teman kan? Sorry gue gak sudi berteman sama orang kayak lo!” Ucap Hani tajam.


“Gue serius Hani! Gue Zolla! Zolla Carllet.”


Jawab Feby masih menatap Hani.


“Lo jangan bawa-bawa kak Zolla, gak lucu tau gak? Gue gak akan biarin mulut kotor lo untuk menyebutkan nama kak Zolla.” Ucap Hani dingin seraya menatap tajam Feby.


Feby sudah mengetahui kalau Hani tidak akan percaya begitu saja, ia sudah tahu betul bagaimana sifat Hani.


“Kalo lo masih gak percaya, lo boleh tanya gue, tentang rahasia lo dan Zolla.” Ucap Feby.


“Bagaimana gue bisa mempercayai lo?” Tanya Hani sudah mulai curiga.


“Iya tanya gue! Tentang apa aja deh yang bikin lo percaya.” Jawab Feby sarkas.

__ADS_1


Feby sudah menunggu pertanyaan dari Hani tapi Hani masih belum juga buka suara, karena Feby orang yang tidak sabaran jadi dia yang akan menjelaskan.


“Dengerin ya? gue jamin lo pasti bakal percaya dengan cerita gue, Lo itu Hani Amelia, dari kelas satu Sma lo udah bekerja di caffe FriendZone, caffe itu milik Zolla Carllet bener kan?” Tanya Feby dan mendapat anggukan dari Hani.


“Gue bilang juga apa? Oke lanjut, ehh..si Zolla itu anak dari pak Natan dan Bu Farida, terus dia punya adik laknat bernama Bella, bener kan?” Tanya Feby memastikan lagi dan Hani langsung membenarkan perkataan Feby.


“Si Zolla itu punya teman namanya Bu Rena, bahkan si Zolla menitipkan black card ke si ibu Rena, dan si Zolla juga menitipkan sertifikat kepemilikan caffe kepada lo kan?” Tanya Feby lagi.


“Itu semua benar, tapi kenapa bisa kakak jadi begini?” Tanya Hani penasaran.


“Nah itu yang gue juga gak tahu! Lo tau gak setelah gue berikan sertifikat itu pada lo, besoknya gue ketabrak truk dan akhirnya gue terbangun jadi si anak ini.” Jawab Feby sama-sama tidak mengerti.


“Pantas saja sudah dua Minggu ini kak Zolla tidak masuk caffe, tapi kalo boleh tau kenapa kakak bisa tertabrak?” Tanya Hani masih penasaran.


“Hani lo bisa bayangin gak? Saat itu gue pulang kerja malam-malam, tapi saat gue sampai di rumah? orang tua gue lagi mengadakan pesta ulang tahun si Bellalang, dan pagi harinya mereka semua pergi berlibur ke pantai tanpa gue! Tanpa urang!” Jelas Feby merasa pilu.


Setelah berbicara seperti itu, Feby tak sengaja melihat tutup kaleng khong guan yang berbentuk lingkaran lalu dia pun mengambilnya.


“Anjay lihat softlens gue.” Ucap Feby  sambil mendekatkan tutup kaleng ke matanya.


Awalnya Hani merasa sedih dengan cerita Feby yang memilukan tapi karena melihat tingkah Feby yang kayak tukang lawak, Hani yang awalnya ingin nangis menjadi tertawa.


“Kak Zolla bisa gak sih serius? Aku udah ingin nangis loh, emang kakak gak sedih?”  Tanya Hani di selingi tawaan.


“Gue udah lupa cara bersedih, lagipula sekarang gue udah punya keluarga yang sayang sama gue, jadi gak penting buat sedih-sedih lagi.” Jawab Feby sangat meyakinkan.


“Eh btw gue yang sekarang punya adek laki loh, mana adek gue ganteng lagi, lo mau gue kenalin? Namanya Devin.” Lanjut Feby.


“Serius kak? Setahu aku Feby tidak punya adik deh.” Jawab Hani bingung.


“Gue juga gak ngerti sama ini bocah, dia kagak bersyukur banget dah punya orang tua yang sayang, punya adik yang ganteng. Setahu gue di ingatannya, dia gak pernah berbicara dengan baik sama ibunya atau bapaknyaya, dia juga gak ngakuin adiknya.” Jawab Feby.


“Lo tau Devin gak? Dia seangkatan sama lo, gue dan dia cuma beda beberapa menit tapi kita gak kembar.” Jelas Feby.


“Di sini gak ada yang namanya Devin.” Jawab Hani kembali di buat bingung.


“Ah masa sih?" Belum sempat Feby menyelesaikan perkataannya, Hani sudah memotong pembicaraannya.


Feby yang sedang duduk santai langsung mendadak bad mood, karena ia sangat membenci belajar di kelas, ia lebih suka belajar di lapangan.


____


Mereka berdua sedang berjalan di koridor sekolah, semua orang menatap tajam dan jijiq kearah Feby.


“Serius deh Han gue risih di tatap kayak gitu.” Seru Feby, Hani hanya melirik sekilas lalu menjawab.


“Kakak harus bisa menerima kehidupan yang sekarang, aku yakin kakak bisa mengubahnya suatu saat nanti.” Jawab  Hani menyemangati Feby.


"Hani kok mau jalan bareng si udik?"


"Hot news!"


"Daebak, si Feby udah punya temen cuy."


"Wahh ninja pedas."


"Gak malu apa jalan sama si miskin?"


Itulah beberapa clotehan dari siswa dan siswi di SMA Darmawangsa, Feby tidak merasa tersindir oleh mereka, karena ia mengetahui kalau itu cibiran diperuntukkan untuk Feby yang asli bukan untuk dirinya sendiri.


Sekarang Feby sudah duduk di bangkunya, lagi-lagi mereka menatap sisnis ke arah Feby tak sedikit dari merek membicarakan di depan Feby, karena merasa risih dengan orang yang membicarakannya, Feby langsung melemparkan penghapus ke kepala orang itu, setelah itu ia langsung menundukan kepalanya di meja, orang itu celingak-celinguk guna mencari si pelaku tapi tidak ia temukan.


“Makanya jangan maen-maen sama Zolla Carllet.” Batin Feby tersenyum puas.


Sekarang kelas 12 IPA 1 sedang fokus belajar oleh pak Nanang guru fisika, bel pulang masih 20 menit lagi, karena pak Nanang bukan orang yang kejam jadi ia selalu mengasih bonus kepada muridnya.


“Yang bisa ngerjain ini, semua bisa pulang duluan.” Ucap pak Nanang yang membuat semua orang di kelas langsung heboh termasuk Feby.


Grudug...

__ADS_1


Suara gesekan bangku dan meja yang Feby duduki, mereka semua langsung menoleh ke sumber suara, ternyata Feby sudah berlari ke depan untuk menyelesaikan soal.


Feby mengambil spidol dan langsung mengisi soal rumus fisika, mereka yang ada di sana tertegun dengan sikap Feby yang bisa terbilang berbuah. Feby sudah menyelesaikan soalnya, lalu ia berbalik dan mendapati pak Nanang.


“Untuk jawabannya sudah bener, tapi itu pakai rumus yang sederhana ya? Kalo bisa nanti kamu tingkatkan dengan menggunakan rumus yang susah, kalo begitu kalian bisa pulang sekarang. ” Ucap pak Nanang membuat heboh seisi kelas.


YEAAAHHH.


WIKWIWW.


FEBYY AKU PADAMU.


TERIMA KASIH FEBY.


Mendengar instruksi dari pak Nanang, semangat hidup Feny jadi bertambah.


Namun mereka yang ada di kelas masih nge lag sekaligus seneng karena bisa pulang lebih awal, pak Nanang bilang rumusnya sederhana? Satu papan tulis dia bilang sederhana? Gimana nanti kalo rumus yang susah? Sampe langit-langit  kelas mungkin keisi oleh rumus?


“Terimakasih pak, kalo begitu saya pamit pulang dulu ya pak.” Ucap Feby semangat.


Tubuh Feby serasa menjadi wonder mowan yang menyelamatkan dunia, bagaimana tidak? ia sudah berhasil membuat semua orang yang ada di kelas bisa pulang duluan.


Feby berjalan ke arah bangkunya tak sedikit mereka yang menatap Feby kagum, sisnis, tersenyum dan tajam.


Sekarang kelas Feby sudah bubar, tidak ada siapa-siapa di kelas selain Feby dan wanita yang wajahnya bisa terbilang cantik.


"Apa dia siswa populer?" Gumam Feby mempertanyakan seorang wanita yang ada di sebrang sana.


Feby sudah berdiri dari duduknya tapi wanita yang duduk di sebrang sana masih tetap fokus pada bukunya, seperti mengerjakan tugas yang rumit.


Sebenarnya Zolla tidak terlalu peduli dengannya tapi saat melihat wanita merobek bukunya dan menundukkan kepalanya seperti orang yang sedang stres, Feby menghampiri wanita tersebut dan menepuk pundak wanita itu, terlihat jelas wajahnya merah dengan mata yang berkaca-kaca.


"Lo kenapa?” Tanya Feby


Wanita itu tak kunjung menjawab tapi wanita itu menyodorkan buku yang berisi soal-soal fisika. Feby sudah mengerti apa yang terjadi dengan wanita itu, dia stres karena tidak bisa mengerjakan soal-soalnya seperti Feby.


“Menurut gue ini sudah bener kok cuma, ini salah saat penjumlahannya.” Ucap Feby mencoba menenangkan wanita itu.


“Benarkah? Bagaimana lo tahu itu?” Tanya wanita yang name tag Tania sedikit penasaran.


“Nggak tahu.” Jawab Feby cepat.


“Feby? Kenapa lo selama ini pura-pura bodoh? Gue sudah sering melihat lo mengerjakan tugas-tugas dengan benar, tapi kenapa lo baru menunjukkannya sekarang? ” Tanya Tania kepada Feby.


Mendengar pertanyaan Tania alis Feby berkerut, bukankah dia selama ini bodoh? Tapi kenapa Tania bilang kalau dia pintar? Apa karena Feby tidak percaya diri?


Pertanyaan itu masih terngiang di dalam pikirannya.


"Kenapa wanita ini banyak rahasia?"  Batin Feby.


“Apa maksud kamu?” Tanya Feby penasaran.


“Apa karena dia?” Bukanya menjawab Tania malah memandang tajam Feby.


"Apa dia sedang membenci gue? Atau dia peduli sama gue?" Batin Zolla semakin penasaran.


“Dia? maksudnya dia siapa? Apa dia itu wan..” Ucapan Feby terpotong karena seseorang dari luar sudah memanggil namanya.


“KAK FEBY?” Teriak Hani.


“Gu..gue pergi dulu, sampai ketemu.” Ucap Feby gugup.


Wanita itu hanya memandang Feby tanpa berniat menjawab perkataan Feby, Feby melihat kebelakang dan ia masih mendapati Tania yang sedang memandanginya datar.


"Kok jadi ngeri gue?" Batin Feby bergidik ngeri.


...Sorry chapternya garing🙍...


...Vote dan komen atuh da nggak susah meren......

__ADS_1


...-D E S T I F A H I L A-...


__ADS_2