BACK YOUNG

BACK YOUNG
30. Mantan gebetan


__ADS_3

...Hallo👋...


...H A P P P Y R E A D I N G💜...


Saat ini Feby sedang duduk sambil mendengarkan penjelasan guru yang berada di depannya, walaupun ia tak masuk pelajaran pertama tapi ia tidak akan bolos full time.


"Sstt, karin! Tadi pelajaran yang pertama pelajaran fisika ya?" Tanya Feby berbisik kepada Karin.


"Bukan, tadi pelajaran pak koko seni budaya, kalau pak Nanang ngajar di kelas yang lain." Jawab Karin berbisik.


"Oh." Monolong Feby. Kalau Feby tahu tadi bukan pelajaran pak Nanang pasti Feby gak akan bolos.


"Rin! Pulang kapan?" Tanya Feby yang sudah utah uger karena ingin pulang.


"Sepuluh menit lagi." Jawab Karin sambil melirik jam tangannya.


Lagi-lagi Feby harus bersabar menghadapi cobaan ini.


Akhirnya yang ditunggu-tunggu sudah tiba, Feby sekarang sudah bebas dari yang namanya belajar di kelas, tanpa menunggu lama Feby segera pergi dari sana.


"Terima kasih kasih atas nikmat yang telah engkau berikan." Gumam Feby bersyukur.


Halte, di sinilah sekarang Feby sedang duduk, ia menunggu bus yang lewat tapi yang di tunggu tak kunjung datang. Hingga ada satu mobil mewah yang berhenti di hadapannya.


"Mobil Bupati kah?" Gumam Feby bertanya.


Jendela mobil itu terbuka dan menampilkan seseorang yang sudah tidak aneh untuk di lihat.


"Ah lo! Gue kira ada bapak dpr nyamperin gue!" Gerutu Feby saat melihat wajah Benua.


"Hehe, lo kok belum pulang? Lagi nunggu angkot ya?" Tanya Benua.


"Nunggu bus, bukan angkot." Jawab Feby.


Feby berharap jika Benua akan memberikan tumpangan kepadanya, dia sudah terlalu lelah untuk menunggu kedatangan kendaraan umum.


"Oh.. Mau pulang bareng g.." Ucapan Benua terpotong karena Feby sudah berlari memasuki mobilnya. Ia tidak mempermasalahkan itu malahan ia senang karena tidak perlu susah payah untuk membujuknya pulang bareng.


"Gercep banget lo, kayak demo bansos." Ucap Benua begitu Feby memasuki mobilnya.


"Biasalah, gue kan gak mau nyusahin orang jadi gue harus cepat." Ucap Feby mencoba ramah.


Setelah itu Benua menjalakan mobilnya dengan kecepatan biasa, itung-itung ia lagi jalan-jalan sama Feby.


"Ben, mobil lo gak lagi kurang bensin kan?" Tanya Feby.


"Emangnya kenapa?" Tanya Benua tidak mengerti.


"Gue tahu apa yang gue katakan ini tidak sopan tapi, gue mohon sekali aja kita muter-muter dulu, maksud gue, gue kan lagi banyak pikiran jadi gue mau jalan-jalan dulu gituh, gak langsung pulang, biar gue yang isiin bensin nya, gimana?" Jelas Feby membuat Benua kegirangan. Tentu tidak masalah jika Feby mengajaknya jalan-jalan dulu. Bahkan hal itu adalah kesempatan Benua untuk lebih dekat dengan Feby.


"Lo mau jalan-jalan kemana emangnya?" Tanya Benua mencoba bersikap cool.


"Kemana aja, muter-muter juga gak apa-apa." Jawab Feby.


"Gimana kalau kita ke restoran?" Tanya Benua.


"Ah lo mah makan mulu! Gak ada acara lain apa selain makan?" Jawab Feby keheranan. Sebenarnya Feby tidak menolak tawaran Benua, cuma ia harus sedikit jual mahal dan jika sudah menyangkut soal makanan, Feby tidak akan terus berhenti makan itulah yang ia takutkan, takut menguras habis duit Benua.


"Masa muter-muter doang? Gak bosan apa?" Tanya Benua merasa heran dengan keinginan Feby.


"Ya gak apa-apalah, daripada makan kan gak ada duit?" Jawab Feby.


"Wahh lo bilang gue gak punya duit? Salah besar lo! Nih lihat dompet gue." Ucap Benua sambil meraba-raba saku celananya tapi ia tidak menemukan tanda-tanda barang yang ia cari. Karena merasa tidak menemukan dompetnya Benua menghentikan mobilnya


"Kenapa lo?" Tanya Feby bingung karena melihat Benua yang sedang panik.


"Dompet gue hilang." Jawabnya sambil meraba-raba seluruh pakaiannya.


"Itu pasti azab karena lo terlalu sombong!" Seru Feby.


"Gimana dong? Kita gak bisa ke restoran?" Tanya Benua ragu.


"Gak apa-apa, yang penting dompet lo ketemu dulu, urusan makan belakangan." Jawab Feby.


"Yaudah, tapi kalau lo lapar gimana?" Tanya Benua.


"Tenang aja gue murid Limbad, jadi gue bisa nahan lapar." Jawab Feby sombong.


Setelah mendengar itu Benua melanjutkan kembali perjalanannya yang tertunda, meskipun dalam hati ia menggerutu karena gagal mentraktir Feby.


Kryukk

__ADS_1


Suara perut Benua sudah menggerumuh. Feby yang mendengar itu langsung melirik Benua, tapi Benua memalingkan wajahnya.


"Lo lapar?" Tanya Feby.


"Nggak, perut gue selalu gini, tapi gue gak lapar kok." Jawab Benua mencoba menyelamatkan wajahnya dari rasa malu.


Belum sempat Feby menjawab, Feby melihat sebuah acara di pinggir jalan, bisa di pastikan kalau acara itu ada nikahan. Seketika Feby mendapat ide brilian.


"Ben, hentikan mobilnya." Ucap Feby membuat benua menghentikan mobilnya.


"Kenapa? Apa ada sesuatu?" Tanya Benua bingung.


"Mau sehebat apapun lo menyangkal, gue tahu kalau lo lagi laper." Ucap Feby.


"A..apaan sih! Gak! gue gak lapar!" Sangkal Benua.


"Lihat kebelakang lo." Ucap Feby dan Benua pun menurutinya.


"Gue gak lihat apa-apa." Ujar Benua yang tidak melihat apapun selain jok mobilnya.


Feby menggerakkan kepala Benua menghadap ke sisi agar melihat sebuah acara yang Feby maksud.


"Kita pura-pura aja jadi tamu undangan, lumayan dapat makanan gratis." Ucap Feby.


"Gimana?" Tanya Feby. Mereka saling pandang pertanda kalau Benua mengerti apa yang di maksud Feby.


"Gue gak mau!" Tolak Benua mentah.


"Kenapa lo gak mau? Gengsi? Perut lo udah keroncong gitu, masa gak lapar?" Tanya Feby kesal karena Benua menolak ajakannya.


Benua merasa heran kepada jalan pikir Feby, apa di tidak malu untuk berpura-pura menjadi tamu undangan?


"Bukan gitu tapi..lo gak malu apa?" Tanya Benua.


"Nggak, gue sedang laper jadi gue gak malu." Jawab Feby cepat.


Benua tampak berpikir "Ah kelamaan mikir lo! cepet keburu ludes tuh makanan." Ucap Feby.


Dengan berat hati Benua pun menuruti kemauan Feby, mereka turun dari mobil tidak lupa memakai jaket untuk menutup logo sekolahnya, dan memakai masker untuk menutupi wajahnya.


"Ben, nanti kalau lo kawin mau ada hiburan dangdut atau apa?" Tanya Feby kepada Benua.


"Maksud lo?" Tanya Feby tidak mengerti.


"Buruan ah kelamaan lo!" Ucap Benua sambil memegang tangan Feby dan masuk kedalam acara itu.


Terlihat acara nikahan itu sangat mewah dan megah, tapi bukan itu yang membuat Feby terkagum, melainkan makanan yang berjejer di sebuah meja panjang. Tanpa berpikir panjang Feby membawa Benua menuju tempat itu.


"Permisi, saya Olla teman mempelai wanita dan ini-"


"Pacar nya." Ucap Benua memotong pembicaraan Feby.


"Kok pacar sih?" Tanya Feby berbisik.


"Ini cuma pura-pura, lo maunya asli?" Jawab Benua berbisik.


"Oh iya, silahkan dinikmati, semoga suka." Ucap salah satu penjaga makanan itu.


"Terimakasih, mbak." Ucap Feby sambil membawa makanan. Jujur saat ini Feby ingin tertawa terbahak-bahak karena tidak tahu malu mengaku-ngaku sebagai tamu undangan.


"Feby ini beneran gak apa-apa?" Tanya Benua tertawa.


"Udah gak apa-apa, kalau ada sesuatu biar lo yang tanggung jawab." Jawab Feby kalem. Setelah itu mereka duduk di kursi tamu sambil membawa makanan.


Dari tadi mereka tak berhenti tertawa, karena mengganggap kalau mereka sangat memalukan.


"Asli ini pertama kali gue kayak gini." Ucap Benua.


"Ini juga kali pertama gue gak tahu malu kayak gini, ini juga gak sepenuhnya salah gue, kalau lo gak lapar gue juga gak akan kesini." Jawab Feby.


"Kan udah gue bilang gue gak lapar." Ujar Benua membuat pertahanan.


"Udah deh ah! Gue tahu lo itu sedang lapar tapi gengsi." Ucap Feby.


"Serah lo aja deh." Ujar Benua melanjutkan acara makannya.


Di tengah-tengah Feby makan, mata Feby tak sengaja melihat pengantin yang sedang Photoshot, lebih tepatnya Feby memandang kearah mempelai pria. Pria itu tampak tidak asing seperti Feby sering melihatnya.


"Marsel? Si manusia zalim itu?" Batin Feby terkejut.


Marsel itu mantan gebetannya waktu Zolla duduk di bangku SMA, ia sangat tidak menyangka jika bertemu mantan gebetannya sedang duduk di pelaminan bersama wanita lain. Seketika bayangan kenangan muncul di pikiran Feby.

__ADS_1


"Kenapa kakak lebih memilih sela? Aku juga gak kalah cantik dari sela?" Tanya Zolla sambil menangis.


"Lo bukan tipe gue! Tipe gue itu cewek dingin,pendiam! gak kayak lo hiperaktif!" Jawab marsel sambil memalingkan wajahnya.


"Apa kakak gak peka? Sikap kakak sudah kayak kulkas berjalan dan itu membuat aku dingin!" Jawab Zolla mengelap air matanya.


"Apa kakak gak bisa menerima aku? Aku bisa menjadi orang yang kakak inginkan." Lanjut Zolla.


"Sudah gue bilang gue gak cinta sama lo!" Seru Marsel sambil melemparkan potongan-potongan kertas kecil kewajah Zolla.


Setahun setelah itu..


"Zolla gue minta maaf karena pernah berkata kasar sama lo dan gue juga menyesal karena telah ngagcuhin lo." Ucap Marsel menahan tangan Zolla yang hendak pergi.


"Maaf ya, aku gak suka cowok dingin dan pendiam, tipe cowok aku itu yang humoris bukan es batu kayak kakak." Ucap Zolla menghempaskan kasar tangan Marsel.


"Gue minta satu kesempatan lagi kepada lo, gue udah salah memilih." Ucapnya sedih.


"Udah aku bilang aku gak cinta sama kakak, haruskah aku melemparkan batu kerikil kewajah kakak agar kakak mengerti? seperti dulu kakak melemparkan potongan kertas kewajahku?" Tanya Zolla menirukan gaya marsel.


"Daebak! Gue kira lo masih nunggu gue tapi ternyata lo udah berpaling dari gue." Gumam Feby masih menatap pria yang menjadi pengantin itu.


"Lo kenapa?" Tanya Benua kepada Feby yang sedang melamun.


Feby tersadar dari lamunannya "Ah nggak.. Gue gak apa-apa kok, lo udah selesai belum makanannya?" Tanya Feby mengalihkan pembicaraan.


"Udah." Jawab Benua.


"Kalaj gitu kita balik sekarang yuk?" Lanjut Benua.


"Hm, gue juga udah enek lihat tuh pengantin." Ujar Feby berdiri dari duduknya.


"Apa kita harus salaman dulu sama pengantinnya?" Tanya Benua kepada Feby.


"Ya iyalah, gila banget kalau udah makan langsung pergi." Jawab Feby.


Setelah itu mereka berjalan ke arah kedua pengantin itu.


"Eh kakak happy wadding ya kak, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah." Ucap Feby sambil memeluk pengantin wanita itu.


"Makasih." Ucap pengantin wanita itu.


"Happy wadding bro, jaga baik-baik istri lo!" Ucap Benua sok kenal sambil memukul bahu pengantin pria.


"Thank you bro!" Jawab pengantin pria itu.


"Buruan gue malu." Bisik Benua kepada Feby.


"Gue juga malu, tunggu sebentar." Jawab Feby berbisik.


Serasa cukup acara sok kenalnya, Benua langsung membawa pergi Feby dari sana dan segera membawa Feby masuk kedalam mobil. Setelah sampai di mobil Benua langsung menancap gas mobilnya.


"Ben tadi lo malu gak?" Tanya Feby tertawa.


"Lo gak lihat wajah gue udah merah kayak gini?" Tanya Benua tidak santai.


"Weess slow Broo! Btw lo pernah kayak gini gak sebelumnya?" Tanya Feby bersemangat.


"Belum, ini kali pertama gue malu-maluin diri sendiri." Jawanya julid.


"Anggap aja ini adalah momentum sekali seumur hidup." Ucap Feby tersenyum.


Benua melirik Feby yang sedang tersenyum itu, tanpa di sadari ia juga ikut tersenyum. Memang ini adalah kali pertamanya ia melakukan hal seperti ini, sebelumnya ia tidak pernah, bahkan keluar pun tidak jauh dari kata cafe atau tempat tongkrongan.


...See you next part👋...


...Kalo part nya garing? Komen ...


...Maaf gariiing kalo kalian mau aku bisa udah adegan kok😌😣...


...Kalo part nya seru? Komen...


...Kalo punya saran dan kritik? Komen...


...Kalo mau demo? Komen...


...Kalo mau mengusulkan cast? Komen...


...Kalo ada typo? Komen...


...D E S T I F A H I L A...

__ADS_1


__ADS_2