BACK YOUNG

BACK YOUNG
32. Terkunci


__ADS_3

...Hallo👋...


...H A P P Y R E A D I N G💜...


Sinar mentari sudah mulai menerjang masuk kedalam mata wanita yang tengah tertidur dengan pulas. Hingga ia membuka matanya karena tak kuat menahan cahaya matahari yang menyorot matanya.


"Udah pagi kah?" Gumam Feby sambil menatap langit-langit rumahnya.


TIIN..


Saat sedang asik saling pandang dengan langit-langit rumah, Feby di kejutkan dengan suara klakson dari luar rumahnya. Feby turun dari ranjang dan melihat dari jendela.


"Bu Rena? Kenapa dia kesini?" Tanya Feby, Setelah itu ia berlari keluar guna memastikan kedatangan Rena.


"Feby ada tamu di luar, katanya teman kamu." Ucap Gina kepada Feby yang baru keluar dari mobil.


"Iya Bu itu teman aku." Ucap Feby seraya berlari keluar rumah.


"Bu Rena? Ada Hani juga, kamu kesini?" Ucap Feby tidak percaya kalau disana ada Hani juga.


"Kakak gak sekolah?" Tanya Hani yang sudah siap dengan seragam sekolahnya, sedangkan Feby? Ia masih memakai trainig sama kaosnya.


"Masuk dulu." Ucap Feby menyuruh kedua orang di hadapannya untuk masuk ke dalam.


"Ibu? Kenapa gak di bangunin sih? Udah sing ini." Ucap Feby kesal karena bangun kesiangan.


"Dari tadi ibu gedor-gedor pintu, tidak ada jawaban." Ucap Gina membuat perlindungan diri.


"Yasudah deh kali ini aku salah, Bu ini Hani teman aku katanya mau numpang makan." Ucap Feby yang membuat mental Hani down.


"Nih orang kalau ngomong suka bener." Batin Hani.


"Apa-apan sih kamu? Kalau ngomong suka bener?" Tanya Hani.


"Hush! Kamu jangan begitu sama tamu!" seryu Gina sambil mengibaskan tangannya di depan muka Feby.


"Kami kesini karena ingin menjemput Feby bareng sekolah." Ucap Rena meluruskan.


"Iya Bu, silahkan duduk dulu." Ucap Gina sopan sambil menyuruh Rena dan Hani duduk.


"Aku mau di ganti pakaian dulu." Ucap Feby.


"Gak mandi?" Tanya Hani.


"Udah kemarin." Jawab Feby seraya pergi ke kamar nya.


"Hani katanya Feby punya adik cowok? Mana kok gak kelihatan?" Tanya Rena berbisik kepada Hani.


"Gak tahu aku juga belum pernah ketemu." Jawab Hani berbisik.


"Sebentar ya saya mau ngambil makanan." Ucap Gina.


"Gak apat tente, saya gak lapar kok." Ucap Hani menghentikan aksi Gina.


"Tapi ini makanan buat sarapan." Ucap Gina ragu-ragu. Hani yang mendengar itu ia menahan tawanya karena malu.


"Oh, maaf tante saya kira buat aku." Ucap Hani menahan rasa malunya.


Gina terkekeh kecil setelah itu ia pergi ke dapur mengambil makanan buat sarapan.


Belum lama mereka berbisik-bisik tentang Devin. Orang yang jadi bahan gosip sudah duduk di hadapan mereka. Baik Hani ataupun Rena mereka terkesima dengan visual adik Feby.


Hani diam terpaku saat melihat Devin membereskan rambutnya yang berantakan, ia pikir baru pertama kali melihat wajah ganteng seperti Devin.


"Omaygat! Orang seperti dia gak baik buat kesehatan." Batin Hani mencoba menenangkan jantungnya.


"The real of fakboy!" Batin Rena menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hello guys welcome back!" Seru Feby begitu keluar dari kamarnya.


"Ibu mana?" Tanya Feby karena tidak melihat keberadaan Gina.


"Di dapur." Jawab Devin sambil memainkan ponselnya. Hani yang mendengar suara Devin ia merasa dunianya teralihkan.


"Oh." Monolong Feby, setelah itu ia duduk di tengah-tengah Hani dan Rena.


"Itu adek aku, ganteng gak?" Tanya Feby berbisik kepada Renq.


"Hm, ganteng banget." Jawab Rena.


Feby tersenyum penuh kemenangan, lalu ia beralih bertanya kepada Hani.


"Lo lihat kan adek gue? Gimana ganteng gak? Mirip Jaehyun gak?" Tanya Feby.


"Pake banget pokona mah, top lah." Jawab Hani masih tidak bisa mengalihkan pandangannya.


"Tapi sayang, dia udah punya pacar." Ucap Feby membuat Hani gangguan mental.


"Ah yang bener lo?" Tanya Hani masih tidak percaya.


"Hm, kemarin gue denger dia ngegombal sama pacarnya." Jawab Feby merasa tidak tega melihat Hani.


"Sabar bro, gue juga gagal karena tidak membuat dia jadi fakboy." Ucap Feby memberi semangat kepada Hani.


•••


Saat ini mereka sedang berada di perjalanan kesekolah, karena tadi Feby terlalu lama bergulat di kamar mandi akhirnya mereka jadi terlambat masuk sekolah.


"Gara-gara kakak sih tadi pake acara berak segala jadi kesiangan kita, Bu jalananin mobilnya cepetan dikit." Ucap Hani tidak kalem karena moodnya sedang tidak bersahabat. Semenjak tahu Devin punya pacar, Hani menjadi kesal sendiri di tambah lagi kesiangan masuk sekolah.


"Panggil lo-gue." Ucap Feby tegas.

__ADS_1


"Bu biasa aja ngejalanin mobilnya jangan terlalu ngebut toh kita udah kesiangan." Ucap Feby enteng seperti tidak ada beban.


"Kak!" Seru Hani kesal.


"Lo-gue!" Ucap Feby mengingatkan.


Hani menghela nafas pasrah, setelah itu ia duduk dengan damai sambil memainkan ponselnya.


"Bu gimana dong si Devin? Dia udah punya pacar! Gagal deh mau bikin dia jadi fakboy." Ucap Feby kepada Rena.


"Kamu pikirannya fakboi mulu, ya syukurlah kalau adik kamu udah punya pacar, itu tanda kamu tidak di izinkan untuk membawa Devin kejalan yang sesat." Jawab Rena menasehati.


"Tapi aku pengen banget punya adik fakboy" Ucap Feby.


•••


Setelah mengarungi perjalanan. Kini mereka sudah sampai di depan gerbang SMA Darmawangsa.


"Bu aku masuk dulu ya?" Ucap Feby seraya mencium tangan Rena.


"Hm. Belajar yang bener jangan banyak bercanda !"


"Aku juga masuk dulu." Ucap Hani ketus setelah itu ia keluar mendahului Feby.


"Biasa, mentalnya down karena tahu kalau Devin sudah punya pacar." Ucap Feby menjelaskan keadaan Hani.


"Kamu kasih nomor cogan aja biar Hani bisa kembali semangat." Saran Rena.


"Oke." Jawab Feby, setelahnya ia keluar menyusul Hani.


"Lo marah? Ah gak seru lo udah gede juga, masa marah-marahan?" Tanya Feby sambil menyenggol lengan Hani.


"Aku gak marah cuma.." Jawab Hani menggantung.


"Cuma apa?" Tanya Feby penasaran.


"Apa kita akan di hukum?" Tanya Hani sambil melihat kearah gerbang, banyak disana anggota osis yang sudah berjaga di depan gerbang.


Feby melihat kearah yang dilihat Hani, ia terkejut saat melihat orang-orang yang bemuka judes itu.


"Bismilah dulu." Ucap Feby sambil berjalan ke depan.


"Telat 10 menit, di hukum 10 jam." Ucap wanita yang sudah Feby ketahui kalau dia wakil ketua osis.


Feby terkekeh pelan "Neng kok tega banget hukum gue 10 jam?" Tanya Feby kesal.


"Bersihkan wc, menyapu semua lantai atau membersihkan gudang?" Tanya wanita itu tidak tahu ampun


"Bersihkan wc." Jawab Hani cepat.


"Maaf untuk membersihkan wc sudah di isi." Ucap wanita wakil ketos itu.


"Bersihin gudang deh." Ucap Feby final.


Hani mengangguk setuju "Kami bersihin gudang aja." Ucapnya teguh.


Waketos itu mengangguk setuju, setelah itu ia mengantar Feby dan Hani ke gudah untuk menanggung hukumannya.


"Hati-hati pintunya rusak jadi jangan mainin pintu." Ucap waketos itu.


"Iya, gue juga tahu, gue kan bukan anak kecil.' Ucap Hani.


"Sekarang silahkan beresin." Ucap waketos itu seraya pergi dari sana. Setelah waketos itu pergi akhirnya hani bisa bernapas dengan lega.


"Anjir sangar banget dah ngasih hukuman, gak tanggung-tanggung!" Gerutu Hani kesal.


"Namanya hukuman kagak ada yang nanggung! Udah kita harus terima hukuman ini dengan lapang dada." Ujar Feby pasrah.


Saat mau masuk kedalam gudah, mereka di kejutkan dengan kedatangan Jovan dan Chelsea.


Feby menyeringit "Ngapain lo kesini? Mau ngena-ngena?" Sewot Feby.


"Minggir lo!" Seru Jovan sambil menabrak tangan Feby, cukup keras hingga Feby meringis.


"Anjrit lo ya! Ngapain lo kesini? Pake nyelakain Feby lagi!" Bentak Hani menyerongot kepada Jovan.


"Heh lo jangan bentak-bentak jovan dong! Kita itu di hukum karena kesiangan! Kalau saja bukan pak Jaya yang menyuruh ogah banget gue harus dihukum!" Bela Chelsea karena Hani membentak Jovan.


"Lempar batu sembunyi tangan! **** lo pada!" Serongot Hani kepada Chelsea dan Jovan. Jovan yang sudah terpancing emosi, ia langsung meninju pintu gudah sehingga semua orang langsung terdiam.


"Gue sedang gak mood ngeladeni lo! Jadi jangan main-main sama gue atau lo akan tahu akibatnya." Geram Jovan kepada Hani.


"Dia udah ngeluarin semboyan senggol bacok, jangan cari gara-gara sama dia." Bisik Feby kepada Hani.


"Hadirin rahimakumllah! Daripada berantem gak ngebantu hukuman kita tapi malah menambah penat kelapa, jadi gue sarankan untuk kita segera membersihkan gudang! Permisi!" Ucap Feby seraya masuk gudang diikuti oleh Hani.


Jovan melirik gudang dengan malasnya, kalau saja yang menyuruhnya bukan pak Jaya, susah pasti ia akan menghajar habis-habisan.


"Jovan kamu gak masuk?" Tanya Chelsea lembut.


"Lo aja, ogah gue." Jawab Jovan datar.


"Heh bujang lapuk lo masih mau berdiri cantik disana? Buruan bantuin gue!" Titah Feby dari dalam sana.


"Lo juga Chelsea! Lo kesini mau apa? Mau apel sama si bujang lapuk atau mau nyelesin hukuman?" Tanya Feby jengah karena kedua manusia azab itu masih setia berdiam manja sambil melipat tangan di dada.


Karena tidak mau menambah pusing, Feby akhirnya memberikan mereka, lalu ia pun segera menjalankan hukumannya bersama Hani.


"Si kemed masih diluar?" Tanya Hani mempertanyakan keberadaan Jovan dan Chelsea.


"Hm, masih diluar dengan gaya sok mandornya." Jawab Feby.

__ADS_1


"Hani tolong buang ini, biar sampahnya gak terlalu menumpuk." Ucap Feby sambil menyerahkan sampah kepada Hani, dengan senang hati Hani menerimanya, setelahnya ia pergi dari sana.


"Chelsea bawaain nih gue kerepotan kalau bawa sampahnya sendirian." Ucap Hani kepada Chelsea yang sedang memegang knop pintu.


"Kalau gue gak mau gimana?" Tanya Chelsea mengejek.


"Gue bakar congor lo!" Jawab Hani kesal.


"HEI YANG ADA DISANA! BISA BANTUIN GUE SEBENTAR GAK?" Teriak feby dari dalam sana.


Karena tidak mau bersama Feby akhirnya Chelsea membantu Hani membuang sampah. Sekarang tinggal Jovan sendiri yang masih nganggur.


Mau tidak mau Jovan akhirnya masuk kedalam untuk membantu Feby.


"Ada apa?" Ketus Jovan.


"Bisa geserin ini kesana gak?" Tanya Feby sambil menunjuk kearah pintu.


"Terus?" Ketus Jovan yang membuat kesabaran Feby teruji.


"Bantuin gue geserin ini kedekat pintu! Ini berat kalau gue sendiri yang gesernya!" Ucap Feby menahan kesal.


Jovan membawa benda itu dengan entengnya tanpa ada keluhan berat, hal itu membuat Feby terkagum, ternyata si Jovan punya bakat terpendam! batin Feby.


Karena terlalu asik dengan pekerjaannya Jovan menutup pintu dengan keras menggunakan kakinya agar memudahkan pekerjaannya.


Feby terdiam seribu bahasa, kata-kata waketos itu masih teringat jelas di pikirkannaya, pintu itu agak rusak.


"Jovan?" Ucao Feby membuat Jovan menoleh.


"Apa? Mau minta bantuan lagi? Gak sudi gue!" Ucap Jovan nyerocos.


"Pintu kenapa di tutup? Lo tahukan kata waketos pintunya rusak?" Tanya Feby mulai berpikir yang aneh-aneh.


"Nggak." Jawab Jovan santai.


"KALAU KITA TERKUNCI DISINI BAGAIMANA? LO MAU TANGGUNG JAWAB HAH?" Teriak Feby panik.


Jovan tidak percaya yang di katakan Feby, ia memegang knop pintu hendak membukanya. Sekarang ia percaya dengan yang dikatakan Feby, mereka terkunci di dalam gudang .


"Apa pintunya gak bisa di buka?" Tanya Feby panik.


"Lo sih pake acarq tutup pintu segala! Kalau tutup usia lo, gue iklas!" Gerutu Feby.


"Gue juga gak tahu kalau pintunya rusak." Ucap Jovan masih santai


Feby menghela nafas kasar "Ah susah ngomong sama orang santuy kayak lo! Dog lo! Dog!" Gerutu Feby membuat Jovan marah.


"Lo gak usah kasar seperti itu juga! Lo sadar diri aja, lo disini siapa? Lo hanya numpang!" Ucap Jovan tajam.


"Lo kok jadi nyerang gue sih? Harusnya gue yang marah sama lo karena lo udah bikin pintu gudang terkunci!" Gerutu Feby tidak terima di kata-katai oleh Jovan.


"Lo tanggung jawab dong sebagai lelaki! Bukannya koar-koar gak jelas!" Seru Feby.


Jovan sudah benar-benar muak dengan suara Feby ingin rasanya ia menyumpal mulut Feby dengan batu tumpang.


Jovan mengerahkan semua tenaganya agar bisa membuka pintu itu, tapi pikirannya tidak fokus karena Feby terus berceloteh.


"Buka sekarang gue gak mau terkunci bareng manusia kayak lo." Ucap Feby.


"Lo pikir gue mau sama cewek tidak tahu diri kayak lo?" Gerutu Jovan kesal. Feby yang mendengar kata tidak tahu diri itu, langsung menggampar kepala Jovan sampai Jovan meringis kesakitan.


"AHKK! ANJING LO!" Teriak Jovan sambil memegang kepalanya.


"CEPET BUKA PINTUNYA! KALAU NGGAK GUE GAMPAR LAGI LO!" Ancam Feby karena sudah terlewat kesal.


Dengan perasaan yang masih kesal Jovan mencoba membuka pintunya agar bisa terbuka.


"Si Hani mana lagi? Kok lama cuma buang sampah doang?" Tanya Feby cemas.


Jovan yang melihat itu ia jadi terpikir dengan perkataan Venus tentang Feby yang kehilangan ingatannya.


"Kok gue ngerasa gak percaya ya kalau dia OD obat penenang?" Batin Jovan.


"Dilihat dari tingkahnya, kayanya orang ini kagak ada masalah hidup." Lanjut Jovan berpikir.


"HANI? LO KOK LAMA SIH? HANI?" Teriak Feby cemas.


"HANI? HA.. PUAH!" Teriakan Feby terpotong karena Jovan memasukan kertas kedalam mulut Feby.


"Apa-apaan sih? Bangsat!" Gerutu Feby kesal karena mulutnya dimasukin sampah.


"Makannya lo jangan berteriak di dekat kuping gue! Berisik gue dengarnya!" Ucap Jovan ngegas.


...See you next part👋...


...Kalo part nya garing? Komen ...


...Maaf gariiing😌😣...


...Kalo part nya seru? Komen...


...Kalo punya saran dan kritik? Komen...


...Kalo mau demo? Komen...


...Kalo mau mengusulkan cast? Komen...


...Kalo ada typo? Komen...


...D E S T I F A H I L A...

__ADS_1


__ADS_2