BACK YOUNG

BACK YOUNG
11. Sang fakboy


__ADS_3

...Hallo👋...


...Happy reading 💜...


...•••...


Sekarang Feby tengah termerenung di kamarnya sambil memikirkan perkataan Hani saat di sekolah.


...***...


“Setelah itu Jovan membenci Feby dan besoknya ada berita kalau Feby menyerang Tania seorang yang tengah dekat dengan Jovan.” Jawab Hani menjelaskan.


“Tunggu.”


“Maksud lo, Tania yang sekelas sama gue?” tanya Feby


“Hm, Tania Putri yang peringkat satu di kelas kakak.” Jawab Hani.


“Hadueh Hani Hani gue udah bilang jangan sebut gue kakak panggil aja lo.” Ucap Feby kesal, Hani hanya tersenyum kikuk setelah mendengar cibiran Feby.


"Lupa, udah kebiasaan nyebut kakak." Ucap Hani.


“Eh, tapi kenapa Feby melakukan itu?” Lanjut Feby bertanya.


“Katanya sih dia cemburu karena jovan memilih Tania.” Jawab Hani.


...***...


“Gue kira alasan gue bertransmigrasi untuk mempersenang diri, lah ini? Malah mempersulit diri.” Gerutu Feby kesal.


“Masa sih si Feby ngelakuin yang kayak begituan? Gue pikir sih nggak mungkin deh!” Gumam Feby sambil melihat keluar jendela.


Tak lama setelah Feby bergumam seperti itu, tiba-tiba ada mobil yang membawa motor berhenti di depan rumah Feby.


“KAK! ADA YANG NYARI NIH."


"KAK CEPET  KE SINI."


“Asik motor fakboy datang.” Ucap Feby senang setelah itu ia memakai sweater oversize nya dan berlari keluar dari kamarnya.


Di rumah hanya ada Devin dan Feby karena Gina dan Heri belum pulang bekerja, dari tadi Devin sudah meneriaki nama Feby karena Devin pikir kalau seseorang yang ada di depan rumahnya adalah tamu kakaknya.


Feby keluar dari rumahnya dan langsung menghampiri seorang yang berada di dekat mobil.


“Ini motor saya pak? Kok warna nya nggak sesuai ya?” Tanya Feby memastikan.


“Iya, ini motor kamu..tidak sesuai gimana maksudnya? ” Tanya pria itu penasaran.


“Saya pesen warna biru tapi yang dateng malah hitam-coklat? Tapi gak papa lah ini juga bagus kok mirip bocah gaul.” Jawab Feby tidak mempersalahkan motornya.


“Kalau begitu saya minta maaf atas kesalahannya, dan ini..tolong tanda tangan sebagai tanda sudah di terima.” Ucap pria itu sopan seraya menyerahkan sebuah kertas kepadanya Feby.


Devin hanya mengintip di kaca rumahnya, ia sangat penasaran dengan apa yang di lakukan kakaknya, kakaknya terlihat seperti sedang menandatangani kertas.


“Apa yang kak Feby lakukan? Apa dia membeli motor?” Gumam Devin serasa ada kebahagiaan di hatinya.


“Kalau kak Feby beli motor berarti gue bisa minjem dong? Asik gue bisa caper ke cewek dengan motor Vespa itu." Gumam Devin semakin bersemangat.


Pria itu menurunkan motornya dan memberikan surat-surat kepada Feby dan juga memberikan kuncinya kepada Feby.


“Kalau begitu saya pamit dulu.” Ucap pria itu sopan.


"Gak mampir dulu pak?" Kata Feby.


“Gak usah dek ini sudah cukup kok.” Jawab pria itu.


“Kalau gitu Terima kasih banyak pak.”  Ucap  Feby sopan.


Setelah orang yang mengantarkan motor itu pergi, Feby langsung memasukan motonya ke dalam halaman rumahnya dan Devin langsung keluar dari persembunyiannya.


“Kak itu motor siapa?” Tanya devin langsung berjalan menuju Feby.


“Bukannya lo udah bilang kalau mau panggil lo-gue biar tambah akrab?” Tanya Feby tak langsung menjawab pertanyaan Devin.


“Gak jadi ah aku manggil kakak aja biar sopan.” Jawab Devin sambil tersenyum.


"Hati nya sebersih pikiran gue, bagaimana gue bisa menjadikannya seorang fakboy? Jiwa gue seakan terguncang dengan katanya yang sopan itu.” Batin Feby meneliti wajah Devin.


“Ada apa kak?” Tanya Devin lembut.


“Wahh ckckck! Bagaimana ini? Apa gue harus menyuruhnya menjadi fakboy? Atau menggugurkannya?” Batin Feby bertanya.


“Tidak..aku tidak apa-apa.” Jawab Feby tanpa di sadari mengatakan kata aku.


“Itu motor siapa kak?” Tanya Devin penasaran.


“Ini motor baru kita.” Jawab Feby bersemangat.


“Maksud kakak? ” Tanya Devin memastikan.

__ADS_1


“Ini motor baru kita Steven.” Jawab Feby dengan lancar.


Dugaan Devin tidak pernah salah, kakaknya pasti akan memberikannya motor baru.


“Wahh serius kak? Aku boleh coba gak?” Seru Devin berbinar.


Mendengar perkataan Devin, Feby jadi memikirkan hal yang seru jika ia jalan-jalan sama adiknya.


“Lo mau coba?” Tanya Feby menelisik wajah Devin yang bahagia, Devin hanya mengangguk sebagai jawaban.


“Oke, sekarang juga kita jalan..tunggu Devin lo harus pake helm ini dan gue juga akan pake helm..kita akan jalan-jalan jauh” Ucap Feby lebih bersemangat.


“Asik!” Seru Devin bahagia setelah itu ia langsung menaiki motornya di ikuti oleh Feby yang duduk di jok belakang.


“KEBUUT VIN!” Teriak Feby agar Devin mengendarai motornya dengan kecepatan ngebut.


“OKEE SIAPA TAKUT.” Jawab Devin mengebutkan motor barunya.


“VIN NANTI KALAU NEMU CAFE KITA NEPI DULU SOALNYA GUE BELUM MAKAN.” Ucap Feby lantang supaya bisa di dengar oleh Devin.


“TADI KAKAK DI RUMAH UDAH MAKAN SAMA INDOME MASA MAU MAKAN LAGI?”


Tanya Devin heran dengan kakaknya.


“TADI CUMA MAKAN CANTIK, MAKAN JELITA NYA BELUM.” Jawab Feby merasa tidak kenyang.


“LO NGEJALANIN MOTORNYA MANJA GINI SIH? NGEBUT DIKIT NAPA?” Cerocos Feby karena Devin melajukan motornya pelan.


•••


Feby dan Devin sudah berada di sebuah cafe yang cukup sepi, hanya beberapa meja yang terisi, Feby dan Devin duduk di sebrang sebelah seorang pemuda yang sepertinya tengah berkumpul.


Feby duduk dengan kaki ngangkat sebelah, Devin tidak menghiraukannya karena tidak mengetahui, soalnya ia sedang fokus membaca daftar menu.


Terlihat seorang pria yang memandang Feby dengan tatapan bingung, ia tampak seperti mengenali wanita itu.


“Bukan nya itu si Feby ya?” Tanya Reza kepada ketiga temannya.


Jovan melirik ke samping, ke arah yang di maksud Reza dan benar saja ia melihat Feby yang sedang makan dengan kaki yang di angkat sebelah.


"Kok aneh ya?" Batin Jovan.


“Feby siapa?” Tanya Benua penasaran karena ia tidak mengetahui gadis yang tengah di bicarakan nya.


“Itu loh cewek yang pernah nembak si Jovan." Ucap Aldo membuat Jovan langsung melemparkan tatapan tajam kepada Aldo.


“Serius? Wah! baru sebulan gue pergi, gue udah ketinggalan berita nih, terus gimana di terima gak ceweknya?” Tanya Benua penasaran.


Benua langsung melihat kea rah Feby, lalu ia menyeringit karena sikap Feby sangat tidak feminim, seharusnya wanita muda itu jaga image biar kelihatan anggun tapi beda dengan Feby yang sangat tidak mencerminkan kefeminiman.


"Menarik." Batin Benua tersenyum.


“Kenapa? Dia kayak orang baik loh, gak seperti cewek lain?" Tanya Benua.


“Baik dari segi mananya? lo tahu gak sehabis nembak gue besoknya dia nyelakain Tania gebetan gue, lo gak lihat dia lagi makan sama cowok, mana cowoknya berondong lagi, gue yakin sih kalau dia lagi ehkm.” Jawab Jovan kesal.


“Oh.” Ucap Benua datar.


•••


Devin Tengah menatap kakaknya yang sedang makan sambil mengangkat kaki, ia heran kenapa kakaknya tidak tahu malu untuk melakukan hal itu di tempat umum.


“Apa kakak gak malu? Disini banyak orang loh.” Tanya Devin sambil menyantap makanannya


“Malu kenapa? Hei Devin! Gue disini juga bayar! lagian apa salahnya sih duduk kayak gini?” Jawab Feby kesal.


“Ya setidaknya feminim sedikit lah, di sini kan banyak cowok? kakak gak malu?” Tanya Devin lagi.


Feby melihat sekeliling ternyata benar banyak wanita dan pria disana, ia tak sengaja melihat sekumpulan cowok di sebrang sana.


Ia menyeringit saat salah satu pria itu menatap tajam kearahnya.


“Itu kan si bujang lapuk?” Gumam Feby bertanya, ucapannya terdengar oleh Devin.


“Siapa kak?” Tanya Devin penasaran lalu ia melirik kearah objek yang di pandang Feby, ia tidak tahu kalau itu adalah seorang yang Feby kenal, jadi ia hanya melihat sekilas setelah itu ia kembali makan.


“Bujang lapuk.” Jawab Feby masih menatap pria itu.


“Bujang lapuk siapa?” Tanya Devin lebih penasaran.


“Orang gila, udah ah jangan banyak wawancara bingung gue jawabnya.” Seru Feby kepada Devin, Devin  hanya menganggukkan kepala dan kembali melanjutkan makan jelitanya.


•••


“Lo sama Venus lebih awal siapa datangnya?” tanya Reza berbelit kepada Benua.


“Maksudnya?” Tanya Benua tidak mengerti.


“Maksudnya lo sama Venus lebih dulu siapa yang datang ke Indonesia?” Jawab Reza menjelaskan.

__ADS_1


“Oh, lebih dulu gue.” Jawab Benua datar.


“Si Venus kapan datangnya?” Tanya Aldo sudah tidak sabar untuk melihat ketuanya kembali.


Tak lama setelah Jovan berkata seperti itu, Venus datang membuat semua orang melihat kagum ke arahnya, terkecuali Feby yang bingung dengan apa yang di ributkan oleh mereka.


"Apa dia venus?"


"Dia sangat ganteng!"


"Gue harus tampil cantik!"


"Setelah lama menghilang dia lebih ganteng dari sebelumnya."


“Mereka pada ribut kenapa?” Gumam Feby bertanya, lalu ia melihat seorang pria ganteng yang berjalan ke arah Jovan dan teman-temannya.


“Daebak!! Apa dia salah satu teman si bujang lapuk itu? Ck! Gue kira siapa.” Gumam Feby menghiraukan pria yang tengah menjadi perbincangan.


...


“Yoo! Venus lo udah datang?” Seru Aldo berbinar begitu melihat Venus.


Venus tidak menjawab pertanyaan Aldo ia malah langsung  duduk di kursi.


“Sorry I'm late.” Ujar Venus kepada teman-temannya.


“No problem, gue ngerti kok.” Jawab Jovan.


“Eh Ven, gimana mudik lo? Betah gak?” Tanya Benua kepada Venus.


“Nggak, gue lebih betah di sini.” Jawab Venus datar.


“Kenapa? Di sana bahkan banyak wanita cantik, seksi mulus oh.. bahenol” ucap Reza mengagumi wanita seksi


“Gue gak suka” Lagi-lagi jawaban Venus bikin beku


“Fiks kelainan lo masa cewek cantik nan bahenol lo tolak?” ucap Aldo penasaran dengan pola pikir Venus


“Bukan nolak tapi bukan selera g..” Ucapan Venus terpotong karena mendengar suara orang yang ada di sampingnya kanannya berbicara cukup keras.


"Kakak mau makan lagi? Kakak udah makan dua kali!"


"Gue belum makan untuk penutupan atau lebih tepatnya gue belum makan manjalita, tadi kan gue makan cantik terus sekarang gue makan jelita dan makan manjalita belum, jadi nanti anter gue beli Indomie atau mi sukses aja deh biar isinya 2."


"Itu perut atau kadut?”


“Lo jadi adek jangan solimi ya! gini-gini gue bisa bikin tulang lo bengkok!”


“Udah ya jangan banyak speak lagi, gue mau bayar dulu jangan kemana-mana!”


Venus menyeringit saat mendengarkan percakapan itu, ia berpikir kalau wanita itu sangat rakus, beda dengan Jovan yang masih mencerna perkataan Feby.


“Oh jadi lelaki itu adiknya Feby? Gue pikir si Feby main berondong.” Ujar Aldo.


“Setuju, gue juga berpikir seperti itu.” Sahut Reza membenarkan perkataan Aldo.


"Dugaan gue bener, dia gak seburuk yang di katakan Jovan." Batin Benua.


Meskipun Jovan udah mengatakan hal yang nggak benar tentang Feby kepada teman-temannya, tapi ia tidak peduli karena rasa bencinya sangat dalam terhadap gadis itu.


...


Feby sudah membayar pesanannya setelah itu Feby berjalan keluar, Feby lupa akan Devin yang masih nunggu sendirian, saat teringat Feby langsung berbalik dan berteriak dengan keras supaya Devin mendengarnya.


“DEVIN! CEPETAN! LO MALAH DUDUK CANTIK! GUE UDAH MAU BALIK NIIH!” Teriak Feby membuat semua orang menatapnya termasuk Venus dan teman-temannya.


Saat ini Devin sudah malu setengah mati dengan kakaknya, ia berjalan seolah dia tidak mengenali Feby, Feby geram karena Devin berjalan dengan santuy di tengah kerusuhan nya.


“WOI! CEPETAN ATUH JUSTIN, MENI HARARESE! SUSAH AMAT LO!” Teriak Feby geram karena Devin sangat lambat.


Karena tidak kuat menahan malu, Devin langsung berlari dan langsung membawa kakaknya keluar. Dari tadi Reza gak bisa berhenti ketawa saat mendengar Feby berbicara bahasa sunda.


“Fiks Feby panutan gue!” Seru Reza si sela-sela tawanya.


“Feby siapa?” Tanya Venus penasaran.


“Feby itu loh.” Jawab Reza sambil melirik Jovan, tapi Jovan malah memandang tajam ke arah Reza seolah mengatakan “Jangan bilang kalo Feby nembak gue”


“Bukan apa-apa kok! Oh iya lo besok sekolah kan?” Tanya Reza mengalihkan pembicaraan.


“Iya besok gue sekolah. Oh iya gimana dengan Tania? Lo udah jadian?” Tanya Venus kepada Jovan.


“Belum! kita gak punya hubungan apapun." Jawab Jovan menunduk.


“Apa karena gadis itu?” Tanya Venus memicingkan matanya.


...See you next part.....


...Maap ya part nya garing...

__ADS_1


...20 komen next part😁...


...[D E S T I F A H I L A]...


__ADS_2