
...Hallođź‘‹...
Sekarang Feby, Hani dan Rena sedang dalam perjalanan ke cafe milik Zolla, tadi Rena dan Hani sempat lama menunggu kedatangan Feby yang hilang di telan toilet.
“Kamu tadi dari mana saja? Kita udah tunggu dari tadi.” Tanya Rena kepada Feby, Feby menjadi gugup ia tak bisa menjawab kalau dirinya telah menolong Venus.
“Ta..tadi toilet nya penuh, jadi aku nunggunya lama.” Jawab Feby berbohong, ia berharap kalau Rena tidak menanyakan pertanyaan itu lagi.
“Oh, ibu kira kamu terjadi sesuatu.” Ucap Rena
“Tidak kok, tidak terjadi sesuatu.” Jawab Feby.
“Ah iya, kita ke cafe kak Zolla dulu kan?” Tanya Hani yang berada di samping Feby.
“Sebenarnya aku masih ragu untuk kesana, bagaimana kalau para pelayan di sana gak tahu aku?” Ujar Feby merasa ragu.
“Kamu bilang aja kalau kamu adik Zolla, kamu kesana untuk menggantikan posisi Zolla.” Ucap Rena.
“Aku akan menyerahkan caffe itu ke orang tua aku.” Ucap Feby membuat Rena menghentikan mobilnya.
“Apa?” Tanya Rena dan Hani serempak.
“Kamu serius?” Tanya Rena memastikan .
“Aku serius.” Jawab Feby dengan keteguhan hatinya.
“Tapi kenapa?” Tanya Hani masih butuh penjelasan.
“Jika nanti aku kembali ke tubuh aku, aku ingin semuanya selesai, aku gak akan menyembunyikan kebohongan lagi dan aku ingin di sayangi orang tuaku.” jawayb Feby.
“Kalau itu mau kamu ibu tidak akan larang, tapi kamu harus benar-benar pikirkan lagi tentang masalah ini.” Jelas Rena sambil menjalankan kembali mobilnya.
“Aku sudah memikirkan konsekuensinya jadi aku sudah gak ragu lagi.” Ucap Feby.
Sementara itu Hani hanya diam, ia tak berani bicara soal masalah Zolla karena ia takut salah bicara.
...•••...
Saat ini para trio gen sudah berada di ruangan pribadi cafe milik Zolla, meskipun awalnya agak ragu untuk masuk tapi kini Feby sudah merasa percaya diri.
“Hani kamu nyimpen sertifikat nya dimana?” Tanya Feby yang sedang sibuk mencari sertifikat cafe.
“Aku simpan di lemari itu kak.” Jawan Hani menunjuk lemari tempat ia menyimpan sertifikatnya.
Feby langsung berjalan menuju lemari itu dan segara mencari sertifikat itu, tapi Feby tidak menemukan keberadaan sertifikat itu.
“Disini tidak ada.” Ucap Feby.
Karena ucapan Feby barusan kini Hani dan Rena turun tangan untuk membantu menemukan keberadaan sertifikat itu.
Mereka mencari di segela sudut dan segala lemari tapi mereka tidak menemukannya, hal itu membuat Feby merasa gelisah, takut kalau sertifikatnya tidak di temukan.
“Coba kamu ingat-ingat dimana terakhir kamu nyimpan.” Ucap Feby kepada Hani.
Hani baru sadar kalau terakhir kali yang menyimpan sertifikat itu adalah Zolla.
“Dulu kan sertifikat itu kakak yang simpan?” Ucap Hani.
“Iya bener kata Hani, kamu yang terakhir kali nyimpan sertifikat itu.” Timbal Rena.
“Benarkah? Aku yang terakhir? Tapi aku gak ingat sama sekali.” Ucap Feby gelisah.
“Ahh bagaimana ini? Bagaimana kalau tidak ketemu? Apa aku akan kehilangan cafe ini?” Lanjut Feby semakin gelisah.
“Kakak tenang dulu oke, tarik nafas dalam-dalam setelah itu tahan dua jam terus nanti mati.” Ucap Hani membuat Feby tertawa di dalam kegelisahan.
“Hani bukan saatnya bercanda, bantu dulu aku cari sertifikat.” Ucap Feby antara ingin tertawa atau sedih.
“Ibu keluarkan jurus ibuu, Hani kamu kerahkan semua kemampuan kamu kita cari bareng-bareng.” Ucap Feby.
“Kakak menurut aku sertifikat itu tidak hilang.” Ucap Hani membuat Feby dan Rena meliriknya.
“Dari mana kamu tahu itu?” Tanya Feby bingung.
“Karena hati ak gak gelisah, kalau hati aku gelisah maka sertifikat itu hilang.” kelas Hani membuat Feby dan Rena cengo.
“Kamu punya ikatan batin?” Tanya Rena curiga.
“Tidak, tapi aku punya respon positif dari hati.” Jawab Hani ngaco.
“Beneran kamu bisa lakukan itu? Kalau gitu apa kamu tahu nanti ibu bakal punya pendamping hidup?” Tanya Rena semangat.
“Aku tidak tahu hal seperti itu, tapi bukan itu maksud aku, maksudku aku bisa merasakan jika barang itu hilang atau tidak dengan kegelisahan hati.” Jawab Hani mencoba menjelaskan.
sedangkan Feby ia cengo mendengar kedua temannya itu yang menjadi cenayang dadakan.
“Jadi bagaimana? Apa sertifikat aku ada disini atau sudah hilang?” Tanya Feby menghentikan percakapan Hani dan Rena.
“Menurut hati aku, sertifikat kakak masih ada disini.” Jawab Hani yakin.
“Kayanya kalau kita cari sekarang, kita bakalan telat jenguk Zolla.” Ucap Rena sambil melirik jam dinding.
“Bu Rena benar, kak apa sebaiknya lain kali aja berikan sertifikat itu ke orangtua kakak?” Tanya Hani ragu.
“Okee, lain kali aja aku berikan sertifikat itu ke orang tuaku, sekarang kita pergi jenguk aku di rumah sakit.” Ucap Feby final.
“Kalau begitu ayo kita pergi.” Lanjut Feby membawa Hani dan Rena keluar.
Saat berada di luar ruangan Feby tak sengaja melihat Benua yang sedang nongkrong bersama teman-temannya tapi mereka bukan orang yang Feby kenal, selain itu di antara teman-temannya ada dua wanita yang sedang mengajak Benua berbicara tapi entah apa yang di pikirkan pria itu dia sama sekali tidak menanggapi wanita yang mencoba mengajaknya berbicara.
"Apa itu si Benua? Dia mampir ke cafe gue? Wahh..Tapi kok gue gak pernah lihat ya?" Batin Feby tidak percaya.
__ADS_1
"Cewek itu ngajak ngobrol tapi kenapa lo acuhkan? Ck! Sangat tidak sopan." Batin Feby membicarakan Benua.
“Kamu nunggu apa?” Tanya Rena kepada Feby yang berhenti di tengah-tengah.
“Tidak nunggu apa-apa kok, ayo kita pergi sekarang.” Jawab Feby pergi dari cafe itu, tapi sebelum ia benar-benar keluar ia melirik Benua yang masih memasang wajah dinginnya.
"Omg, kenapa dia sok kalem gitu? Waktu bareng gue aja dia kayak orang autis tapi kenapa dia sekarang nyamar jadi Lee min hoo?” Batin Feby masih tidak percaya.
Feby sekarang sudah duduk di jok mobilnya, ia membuka jendela mobilnya dan melihat Benua yang sedang cosplay Lee min hoo.
"Hadeuh Benua, Benua gue ngakak lihat lo yang sok kalem." Gumam Feby, Setelah itu ia mengeluarkan ponselnya, berniat ingin mengejek Benua.
Feby
Benua? Lo lagi cosplay Jaehyun nct ya?
Benua
Siapa?
^^^Feby^^^
^^^Lo gak kenal sama gue? Gue Jennie blackpink!^^^
Benua
?
^^^Feby^^^
^^^Gue Feby! Gue barusan lihat lo di cafe Friend Zone.^^^
Setelah mendapatkan chat itu, Benua langsung menengok ke segala arah, tapi ia tidak menemukan keberadaan feby.
Benua
Serius? Kok gue gak lihat?
^^^Feby^^^
^^^Gue udah pulang, lo jadi orang jangan somse sama cewek, lo mau jadi duda araban karena nyuekin cewek?^^^
Benua terkekeh pelan melihat chat dari Feby.
^^^Benua^^^
^^^Gue gak pernah nyuekin cewek! Gue cuma harus bersikap cool.^^^
Feby
Lo gak cocok bersikap cool, kesan-Nya kayak tumbal proyek.
Lagi-lagi Benua terkekeh mendapatkan jawaban chat dari Feby, ia menengok lagi ke sekeliling tapi ia tidak menemukan keberadaan feby.
...•••...
Mereka bertiga berjalan di lorong menuju ruang ICU, di sepanjang perjalanan menuju ruangan mereka selalu di suguhkan dengan pemandangan orang-orang yang sedang sakit, mulai dari orang yang muntah sampai orang yang pingsan tiba-tiba.
“Kalau lihat song jongki aku semangat, lah ini malah lihat orang muntah.” Gerutu Feby kepada kedua temannya.
“Sabar! Menahan kesabaran sedikit saja maka ganjarannya kesenangan yang panjang.” Ucap Rena menepuk-nepuk pundak Feby.
Haahh..
Hani menghela nafas kasar karena merasa risih dengan sekelilingnya, tapi setelah Hani menghela nafas seseorang yang sedang berlajar berjalan di hadapannya mendadak pingsan, sontak hal itu membuat Hani merasa kaget begitupun dengan Feby dan Rena, mereka langsung membawa Hani berlari pergi takut kalau Hani di salahkan.
“Nafas kamu bau setan ya? Sampe yang ngerhirup pun pingsan.” Ucap Feby membuat Hani dan Rena ketawa.
“Aku gak tahu, tapi itu dia pingsan bukan karena nafas aku tapi itu cuma kebetulan, time nya aja yang tepat.” Ucap Hani mengelak tidak bersalah.
Tanpa terasa mereka sudah berada di depan lorong ruang ICU, disana mereka melihat orang tua Zolla yang sedang duduk sedangkan Bella masih sibuk dengan buku tulisnya mungkin ia sedang mengerjakan tugas.
“Permisi.” Ucap Rena sopan.
Semua orang ada di sana melihat ke sumber suara, termasuk Bella.
“Iya ada apa?” Tanya Farida ramah.
“Siapa?” Tanya Natan mempertanyakan tiga orang di hadapannya.
"Giliran aku yang tanya malah di jawab somse!” Batin Feby mencibir.
“Kami teman Zolla, kami disini ingin menjenguk Zolla, apa dia sekarang sudah baikan?” Tanya Rena membuat Natan dan Farida menjadi sendu.
" Eoh? Apa mereka sedang menghawatirkan gue?" Batin Feby bertanya saat melihat kedua orang tuanya sedih.
“Belum, kami disini masih menunggu perkembangan Zolla.” Jawab Natan sedih.
Para trio gen itu mendekat kearah kaca transparan yang berukuran besar, mereka melihat Zolla yang terbaring lemah dengan selang yang menghiasi tubuhnya.
"Banyak banget tuh selang di tubuh gue sampe di mulut juga ada, apa gak sekalian pake paralon?” Batin Feby merasa kesal karena tubuhnya banyak selang.
“Kak Zolla yang sabar ya, sebentar lagi kakak akan cepat sadar.” Ucap Hani dengan tangan yang menyentuh kaca transparan itu.
“Sudah berapa lama dia terbaring seperti ini?” Tanya Rena.
“Sudah tiga Minggu.” Jawab Natan.
"Apa? Tiga Minggu? Wahh daebak ternyata sudah lumayan lama." Batin Feby.
“Kenapa kak Zolla bisa menjadi seperti ini?” Tanya Hani.
__ADS_1
“Dia ketabrak truck.” Jawab Bella, seraya berdiri dari duduknya.
“Senang bertemu kembali dengan lo.” Sapa Bella sambil mengangkat tangannya kepada Feby.
“Lo senang tapi gue nggak!” Gumam Feby tapi bisa di dengar oleh Bella.
Bella mengendus kesal “Itu cuma basa-basi jangan GR.” Bisik Bella di telinga Feby.
“Kenapa kak Zolla bisa ketabrak?” Tanya Hani sekali lagi.
“Sudah kehendak yang maha kuasa.” Jawab Farida, membuat Hani ber 'oh' ria.
“Kamu Feby kan?” Tanya Farida kepada Feby.
“Iya, saya Feby tente.” Jawab Feby malu-malu.
“Kami bawakan buah-buahan dan makanan untuk kalian, mohon di terima.” Ucap Rena sambil menyerahkan bawaannya.
“Terimakasih.” Ucap Farida seraya mengambil pemberian Rena.
“Ngomong-ngomong nama kalian siapa?” Tanya Natan kepada teman Zolla.
“Saya Renata, panggil aja Rena.” Jawab Rena.
“Aku Hani.” Jawab Hani sopan.
“Aku Feby bisa di panggil Jennie.” Jawab Feby.
“Sikap kamu seperti anak saya.” Ucap Natan saat mendengar ucapan Feby.
"Aku memang anakmu, papah." Batin Feby.
“Maklum pak saya temennya.” Ucap Feby.
“kalaj begitu mari duduk dulu.” Ucap Farida menyuruh mereka untuk duduk di kursi, akhirnya mereka menurut.
“Mata lo cepat banget sembuhnya? Pake jurus ya?” Tanya Bella berbisik kepada Feby yang duduk di sebelahnya.
"Ih gembel lo gembel! Sok kenal banget." Batin Feby menggeleng-gelngkan kepala.
“Hati lo kapan sembuhnya? Kapan lo jadi orang baik?” Balik tanya Feby.
“Apasih? Nanya ini, di jawab begitu!” Seru Bella tidak suka.
“Gue udah denger lo sering jahat sama kakak lo!” Ucap Feby sinis.
“Apa? Kakak bilang begitu? Jangan percaya itu semua kebohongan, aku selalu memperlakukan kak Zolla dengan baik.” Ucap Bella berbohong, dia tidak tahu saja kalau dirinya sekarang sedang berbicara dengan siapa.
"Dasar pembohong! Dzalim lo!” Batin Feby memaki Bella.
“Tapi gue juga pernah lihat lo nampar Zolla di tempat umum.” Ucap Feby membuat Bella tidak suka.
“Lo jangan asal nuduh! Gue nggak pernah begitu sama kak Zolla!” Ucap Bella sedikit berteriak sambil berdiri dari duduknya, tentu saja hal itu membuat perhatian semua orang teralihkan.
“Ada apa Bella?” Tanya Farida bingung.
“Mama dia bilang kalau aku sering jahatin kak Zolla, padahal nyatanya aku tidak pernah.” Jawab Bella mencoba melindungi diri.
"Ternyata dia memang artis pemenang Oscar." Batin Rena mencibir Bella.
"Gue kira si Bella udah jadi alim, tapi ternyata dia masih sama seperti Firaun." Batin Hani.
“Sepertinya kami harus pergi dulu, kalau begitu permisi.” Ucap Rena langsung membawa Feby dan Hani pergi dari tempat itu.
“Ada apa? Aku berkata jujur si semen beku ini selalu jahat sama Zolla.” Ucap Feby berbisik kepada Rena tapi Bella mendengarnya.
Rena pun membawa mereka pergi tapi mereka tidak menyadari kalau Bella mengikutitnya dari belakang.
“Serius aku kira Bella sudah berubah tapi ternyata dia masih zalim.” Cibir Hani.
“Tuh kan bener apa kata aku? Bella masih jahat.” Pekik Feby julid.
Bella mendengar semua yang mereka bicarakan terutama saat Feby menyebutnya jahat, hal itu membuat Bella semakin murka.
“APA LO BILANG? GUE JAHAT? MAJU SINI LO!” Teriak Bella dari belakang yang membuat mereka terlonjat kaget.
“Kaburr, cepet kabur dia kayak orang gila kalau udah marah!” Seru Feby menarik kedua temannya untuk segera pergi dari sana, mereka bertiga berlari menuju mobil sedangkan Bella masih mengejarnya dari belakang.
“BERHENTI LO FEBY BRENGSEK! FEBY!” Teriak Bella yang mengejarnya dari belakang.
Dengan nafas ngos-ngosan akhirnya mereka bertiga sudah masuk kedalam mobil meskipun keadaannya agak menegangkan.
“Si Bella masih ngejar kita?” Tanya Feby was-was.
“Di luar.” Jawab Hani sama-sama kelelahan. Feby melihat kearah luar dan benar saja disana ada Bella yang sedang mengintip jendela mobil satu persatu.
“Impostor!” Seru Feby kesal.
Setelah itu Rena menjalankan mobilnya dan pergi dari sana, lebih baik mengalah!
...See you next partđź‘‹...
...Kalo part nya garing? Komen...
...Kalo part nya seru? Komen...
...Kalo punya saran dan kritik? Komen...
...Kalo mau demo? Komen...
...Kalo mau mengusulkan cast? Komen...
__ADS_1
...Kalo ada typo? Komen...
...D E S T I F A H I L A...