BACK YOUNG

BACK YOUNG
51. Perpustakaan


__ADS_3

...Hallo🤗...


...HAPPY READING đź’ś...


Sekarang adalah pelajaran kimia, dari tadi pak Yadi berbicara dan menjelaskan tentang rumus-rumus sampai mulutnya membusa, semua orang tampak memperhatikan penjelasan pak Yadi tetapi tidak dengan Feby, ia malah sibuk tertidur, karena malam tadi ia benar-benar tidak tidur sama sekali, di tambah lagi orang-orang azab menelponnya dalam satu waktu.


"Sstt, Feby pak Yadi merhatiin kamu." Bisik Karin seraya menggoyangkan tangan Feby.


Feby tak kunjung bangun saking ngantuknya, jujur sekarang Feby sangat ngantuk bahkan untuk sekedar melek pun ia tidak bisa.


"Yang di belakang! Kalau kamu masih mau tidur mending keluar dari kelas! Jangan ikut pelajaran bapak." Ucap pak Yadi tegas kepada Feby yang sedang tertidur pulas.


"Feby!" Ucap Karin menepuk pipi Feby, sehingga Feby pun terbangun.


"Ada apa?" Tanya Feby saat bangun dari tidurnya.


"Lihat ke depan." Jawab Karin menunjuk pak Yadi.


Feby pun melihat ke arah yang di tunjuk Karin, saat Feby melihat kedepan ia mendapati pak Yadi yang sedang menatapnya tajam.


"Pintu terbuka lebar, jika masih ingin tidur silakan keluar." Ucap pak Yadi menunjuk pintu kelas yang terbuka lebar.


"Iya, terimakasih pak." Ucap Feby.


Awalnya Feby berpikir untuk tidak keluar tapi mengingat dirinya sangat ngantuk berat jadi ia memilih keluar, siapa tahu ia menemukan tempat untuk tidur. Feby berdiri dari duduknya dan pergi keluar, pak Yadi yang melihat itu sangat terkejut padahal ia tidak benar-benar mengatakannya, ia hanya menakut-nakuti saja tapi Feby malah menganggapnya benar.


"Hormat bendera di lapangan sampai jam pelajaran bapak selasai!" Ucap pak Yadi keras supaya dapat di dengar oleh Feby.


Feby berjalan malas menuju lapangan, Feby tidak keberatan jika di hukum seharian di lapangan tapi hal yang tidak ia inginkan adalah di hukum di lapangan saat banyak orang yang berolahraga, seperti saat ini di lapangan banyak anak-anak kelas lain yang sedang berolahraga.


"Ck! Semangat Feby, seberat apapun hukum akan terasa ringan jika tidak di jalankan" Ucap Feby teguh seraya berjalan menuju perpustakaan, Feby menghindari hukuman karena ngantuk.


Saat ini Feby tengah tertidur di perpustakaan, beruntung hari ini perpustakaannya tidak terlalu penuh pengunjung jadi Feby bisa lebih leluasa.


•••


Hari ini Benua lupa mengerjakan tugas matematika, jadi ia di hukum untuk mengerjakan tugasnya di perpustakaan, saat sedang mencari buku paket matematika, mata Benua tidak sengaja melihat sesosok wanita yang sedang tertidur sambil menyender ke rak buku. Benua tidak bisa melihat jelas wajahnya itu karena rambutnya menutupi wajahnya.


"Sial! Gue kira kunti!" Gerutu Benua.  Setelah itu Benua mendekat ke arah wanita itu, bukan untuk melihat tetapi karena buku paket matematikanya ada belakang wanita itu.


Saat Benua sampai di depan wanita itu, ia sangat terkejut karena wanita itu adalah Feby, Benua celingak-celinguk melirik sekeliling, di sana memang tidak banyak orang tapi tetap saja bahaya tertidur di tempat sepi, apalagi penunjang perpustakaan lebih dominan banyak lelaki.


"Feby?" Ucap Benua menepuk pipi Feby, tapi sang empu tidak kunjung menjawab karena sedang tertidur.


"Lo kalau mau tidur jangan di sini! di sini bahaya banyak cowok!" Ucap Benua berharap Feby akan tersadar. Tetap saja Feby tidak menjawab, Benua berpikir kalau Feby sedang tertidur pulas.


"Ck! Lo kalau tidur kebo amat!" Ucap Benua.


Benua jadi bingung sendiri, apakah ia harus meninggalkan Feby? Tapi ia juga takut Feby kenapa-kenapa, jadi ia memutuskan untuk mengerjakan tugasnya di dekat Feby sembari menunggu Feby terbangun.


Baru saja Benua mengerjakan empat soal, fokusnya sudah teralih kepada Feby, pandangannya tidak bisa lepas dari Feby.


"Kenapa lo selalu terngiang-ngiang di pikiran gue?" Tanya Benua menatap Feby.


"Kenapa?" Bentak Benua.


"Apa lo mahluk halus? Atau lo pawang ular?" Lanjut Benua bertanya lagi, meskipun tidak ada jawaban dari Feby tapi Benua terus mengoceh untuk mengeluarkan apa yang ada di benaknya.

__ADS_1


"Kalau gue jadi sara Wijayanto gue akan ngusir lo dari pikiran gue!"


"Nggak, gue salah ngomong, gue gak akan ngusir lo dari pikiran gue"


"Kenapa lo? Ahk! Tidak ada gunanya ngomong sama orang yang lagi tidur." Gerutu Benua masih menatap Feby.


Benua membenarkan rambut Feby yang menutupi wajahnya dan menyelipkan di daun telinganya, lagi-lagi Benua di buat gereget saat melihat wajah Feby.


"Sial! Kenapa rambut lo berantakan? Lo gak nyisir apa? Lo gak punya sisir di rumah? Mau gue beliin satu lusin?" Gerutu Benua seraya menyisir rambut Feby menggunakan jari tangannya.


Setelah di rasa rambut Feby rapih, Benua langsung melanjutkan mengerjakan tugas matematikanya, belum lama setelah itu lagi-lagi Benua menatap Feby, pandangannya tidak bisa di alihkan barang sedetik pun.


"Kenapa lo gak pake jaket? Udah tahu hari ini cuacanya dingin! Lo udah kebal? Lo udah ngerasa kayak Limbad BlackBerry? Ck!" Gerutu Benua seraya membuka jaketnya, dan langsung menyelimuti tubuh Feby menggunakan jaketnya.


Setelah itu Benua melanjutkan mengerjakan tugas, tapi kali ini ia terhenti bukan karena Feby, tapi karena sudah malas, ia menatap Feby lagi setelah itu ia sama-sama memejamkan matanya untuk tidur. Sekarang mereka sama-sama tertidur.


•••


Perlahan mata Feby terbuka karena mendengar suara bising-bising dari sekitar, saat matanya terbuka lebar ia di kejutkan dengan seseorang yang sedang tertidur di depannya.


"Aish! Gue kira tuyul!" Gerutu Feby kepada seseorang yang tengah tertidur.


"Ini jaket siapa?" Gumam Feby melirik jaket yang menempel di tubuhnya, Feby merasa heran dengan jaket itu padahal ia tidak memakai jaket saat pergi ke perpustakaan. Setelah itu Feby melirik seseorang yang ada di depannya, ternyata orang itu Benua.


"Ben? Beben?" Ucap Feby menggoyangkan tangan Benua.


Benua merasa ada seseorang yang sedang berbicara kepadanya lalu ia pun membuka mata, ternyata orang itu adalah Feby.


"Lo udah bangun?" Tanya Benua seraya membenarkan rambutnya.


"Hm, gue di hukum karena gak ngerjain PR matematika." Jawab Benua.


"Lo sok jago dah, udah tahu Bu Rini galak malah kagak ngerjain tugas." Ucap Feby.


"Lo juga kenapa di sini?" Tanya Benua mengalihkan pembicaraan.


"Gue? Di hukum pak Yadi." Jawab Feby.


"Tuh kan, lo pinter ngedalil orang tapi lo gak pintar introspeksi diri." Ucap Benua julid.


"Itulah kelebihan gue, ngomong-ngomong lo ngerjain tugas yang mana?" Tanya Feby seraya melihat buku tulis dan buku paket yang ada di atas meja.


Benua menyodorkan tugasnya. Feby langsung melihat serius kearah soal-soal itu "Gue tahu lo lagi pura-pura mikir kan?" Tanya Benua melipat tangannya di dada.


"Lo jangan salah, gini-gini gue anak beasiswa!" Ucap Feby membuat Benua menahan tawanya.


"Wow primitif, seperti pesona dunia akhir jaman" Ucap Benua langsung membuat Feby menatap julid.


"Gila lo ndro!" Pekik Feby.


"Gue ngomong serius! Gue itu anak beasiswa" Lanjut Feby meyakinkan agar benua percaya.


"Woah! Sepertinya lo kurang gizi deh, makanya lo banyak ngelantur kayak gini" Ucap Benua seraya menyentuh kening Feby.


Feby langsung menghempaskan kasar tangan Benua dari keningnya. "Gue serius Jamal! Gue itu anak beasiswa, kalau lo gak percaya? Ya lo harus percaya karena gue anak beasiswa!" Ucap Feby mencoba meyakinkan Benua.


"Kalau lo gak percaya gue bisa nih ngerjain soal linear kayak gini, menurut gue ini soalnya gampang-gampang" Ucap Feby seraya membuka buku paket matematika, tapi langsung di tahan oleh Benua.

__ADS_1


"Jangan di sentuh! buku paket itu kotor" Ucap Benua membuat Feby menatapnya tak percaya.


"Apa?" Tanya Feby memicingkan matanya.


"Jangan sentuh buku paket itu, nanti tangan lo kotor" Jawab Benua tidak menatap Feby.


"Lo kayaknya cosplay jadi vacum cleaner ya?" Tanya Feby dengan sengaja menggenggam buku paket itu.


Benua langsung membawa buku paket itu dan ia segera membersihkan tangan Feby menggunakan jaket yang di pakai Feby.


"Lo tahu gak kalau debu yang terdapat dalam buku dapat menimbulkan berbagai macam penyakit, lo tahu apa aja penyakitnya?  masalah penyakit pernafasan dan kulit!" Gerutu Benua seraya mengusap telapak tangannya Feby.


"Gue pintar, tapi kalau soal beginian gue gak tahu, gue aja kalau ada makanan jatuh, terus belum sampai lima menit gue ambil lagi tuh makanan, gue gak terlalu mikirin soal bakteri!" Ucap Feby.


"Lo emang sehigienis ini ya?" Lanjut Feby bertanya.


"Nggak, lebih tepatnya sih gue peduli kesehatan" jawab Benua seraya melepaskan tangan Feby.


"Lo terlalu peduli" Ucap Feby merasa cape sendiri, setelah itu ia membawa buku paket yang ada di belakangnya, tapi lagi-lagi Benua melakukan hal yang sama, ia langsung mengambil buku paket itu dan segera mengusap telapak tangan Feby.


"Gue bilang jangan sentuh! Itu kotor! Biar gue aja yang bukain buku nya!" Ucap Benua menggetok kepala Feby menggunakan pulpen.


"Okee! Buka halaman 156!" Ucap Feby mengalah.


"Vacum cleaner aja bakalan kalah sama nih orang" batin Feby menatap julid Benua.


...TBC...


...setiap chapter pasti ada yang seru ada juga yang tidak jadi maapin kalo part ini garing👍...


...Kalo part nya seru? Komen...


...Kalo punya saran dan kritik? Komen...


...Kalo mau demo? Komen...


...Kalo mau mengusulkan cast? Komen...


...Kalo ada typo? Komen...


...MAU NGOMONG APA SAMA FEBY?...


...MAU NGOMONG APA SAMA VENUS?...


...MAU NGOMONG APA SAMA JOVAN?...


...MAU NGOMONG APA SAMA BENUA?...


...SHIPPER VENUS MANA SUARANYA?...


...SHIPPER BENUA MANA SUARANYA?...


...SHIPPER JOVANKA MANA SUARANYA?...


...PENDUKUNG TRIO GEN MANA SUARANYA?...


...Ig. @destifahila...

__ADS_1


__ADS_2