BACK YOUNG

BACK YOUNG
37. Akhir dari kehidupan Zolla


__ADS_3

...Hallođź‘‹...


...HAPPY READING đź’ś...


Kondisi Zolla semakin hari semakin memburuk, seringkali ia selalu kejang-kejang dan seringkali ia mengeluarkan darah dari mulutnya. Farida dan Natan yang melihat itu sudah merasa kewalahan melihat anak sulungnya yang tersiksa. Awalnya Natan ingin membawa Zolla keluar negeri untuk pengobatannya tapi karena kondisi Zolla yang tidak memungkinkan, jadi sangat sulit untuk memindahkannya.


"Pah, bagaimana ini? Semakin hari keadaan Zolla semakin memburuk, Mama jadi kepikiran terus." Ucap Farida kepada Natan.


"Mama yang sabar, papa yakin kalau Zolla pasti akan sembuh." Ucap Natan mencoba menenangkan istrinya.


"Tapi kapan? Kapan Zolla bisa sadar?" Tanya Farida mengeluh.


"Mama harus kuat demi Zolla, Mama jangan nangis nanti Zolla gak bakal senang." Ucsp Natan seraya merangkul istrinya.


•••


Pertarungan basket itu semakin memanas, banyak sorak dan tepuk tangan yang menyemangati para pemain termasuk Feby, ia juga ikut serta mendukung Venus dan Benua.


"VEVEN SEMANGAT VEN!" Teriak Feby menyemangati Venus.


"BEBEN LO JUGA JANGAN KALAH SAMA SI BUJANG LAPUK, KALAHIN SEKALIAN JANGAN KASIH AMPUN SAMA MANUSIA ZALIM KAYAK DIA!” Lanjut Feby berteriak menyemangati Benua.


"VEN LO JANGAN LETOY GITU KALO LARI AH! SEMANGAT DONG JANGAN MANJA! NANTI GUE BELIIN PARFUM AROMA JANDA KEMBANG."


"BEN KALO LO MENANG NANTI GUE KASIH TOLAK LINU SATU DUS OKE?"


Baik Venus ataupun Benua yang mendengar teriakan Feby, mereka tertawa kecil seraya masih bermain basket.


Sedangkan orang-orang yang melihat Feby sok kenal kepada para most wanted itu, mereka menatap tajam dan benci kepada Feby.


"Sok kenal banget si Feby!"


"Per caper!"


"Mana di notice lagi sama Benua."


"Venus kok senyum sih di teriakin si dodol Feby?"


"Lo kalau teriak yang kenceng dong jangan ehek-ehek kayak gitu, buat mereka lebih iri sama lo." Ujar Sehan kepada Feby.


"Entar tunggu tanggal mainnya" jawab Feby seraya berjalan kedepan, biar orang-orang yang sirik tambah berisik.


"VEN SEMANGAT VEEN! GUE DUKU.." Teriak Feby terpotong karena, tanpa ada angin yang lewat ataupun guncangan gempa, kesadaran Feby mendadak hilang dan akhirnya ia tergeletak pingsan.


"Feby?" seru Nanda menghampiri Feby yang sudah terbaing pingsan.


Orang-orang yang ada di sana langsung mengerumuni Feby kecuali Venus dan para pemain basket yang lain, mereka tidak mengetahui kalau ada seseorang yang pingsan.


"Itu pada kenapa?" Tanya Aldo kepada Reza.


"Gak tahu." Jawab Reza tidak tahu, setelah itu Reza dan Aldo pergi menghampiri Venus.


"Ada apa bro?" Tanya Reza kepada Venus.


Venus mengedikan bahunya "Gal tau gue." Jawab Venus.


"Itu kayak orang pingsan, siapa ya?" Tanya Benua kepada Reza, Aldo dan Venus.


Mereka menjawab dengan mengedikan bahunya "Gak tahu." Jawab mereka serempak.


"Bro si Feby modar." Ucap Jovan dengan nistanya seraya menghampiri ketiga temannya.


"Hah? Si Feby yang kita kenal bukan?" Tanya Reza memastikan.


"Iya si Feby yang tolol it.." Ucapan Jovan terpotong karena Venus dan Benua langsung berlari kearah orang-orang yang sedang berkerumun.


"Si Feby yang pernah nembak lo maksudnya?" tanyya Reza sekali lagi untuk memastikan.


"Iya, Reza si Feby yang laknat itu."  Jawab Jovan terdengar meyakinkan.


Venus membelah kerumunan dan benar saja ia mendapati Feby yang hendak di gendong oleh Sehan dengan keadaan sudah tidak sadarkan diri. Cewek-cewek yang ada di sana sudah salah tingkah karena Venus berada di dekatnya, banyak dari mereka yang cari perhatian kepada Venus.


"Biar gue aja yang bawa." Ucap Venus merebut Feby dari Sehan.


"Gak apa-apa? Dia berat loh, banyak dosa nanti tangan lo sakit." Ucap Sehan kepada Venus, tapi Venus tidak meresponnya, melaiknan langsung menggendong Feby dan segara membawanya ke uks.


Orang-orang yang ada di sana, mereka terlihat melongo dengan apa yang dilakukan Venus, tidak biasanya Venus ikut campur dengan urusan orang lain apalagi membantu orang lain, tapi yang mereka lihat barusan adalah nyata, Venus menolong Feby? Apa dunia sudah berubah? Pikir mereka.

__ADS_1


"Si Feby menang banyak."


"Hiks hiks gue mau pingsan biar di tolong Venus."


"Lo semakin menyebalkan, tunggu saja permainan gue!"


•••


Perlahan mata Zolla terbuka, satu kesan yang pertama kali ia lihat adalah langit-langit yang berwarna polos. Zolla berpikir kalau dia berada di uks, tapi ia merasakan nyeri di tangannya karena penasaran Zolla pun menyentuhnya, saat tangannya menyentuh tangan sebelahnya, jantungnya berdegup kencang dua kali lipat dari biasanya.


"Apa gue kembali lagi ke tubuh asli gue?" Batin Zolla.


"Asiik gue kembali lagi ke tubuh asli gue! Kalau begitu gue harus ngadain tumpengan buat ngerayain kalau gue udah kembali lagi ke tubuh asli gue!" Batin Zolla teramat senang.


Tak lama setelah Zolla tersadar, penglihatannya mulai memburam dan kepalanya sangat sakit, Zolla tidak bisa menahan kesakitan itu dan akhirnya ia kembali tak sadarkan diri lagi.


•••


Banyak dokter yang keluar masuk ke kamar Zolla, mereka kelihatan sibuk dan hal itu membuat Farida menjadi gelisah, ia sangat menghawatirkan keadaan putrinya.


"Pah, Zolla kenapa pah?" Tanya Farida dengan tangis semakin mengencang.


"Doket sedang memeriksa keadaan Zolla agar Zolla cepat sembuh." Jawab Natan mencari alasan.


"Dok ada apa dengan anak saya? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Farida kepada dokter yang hendak masuk ruangan Zolla.


"Anak ibu barusan sadar tapi tak lama setelah itu ia kembali pingsan lagi." Jawab dokter membuat Farida antara senang karena mendengar Zolla sadar dan sedih karena mendengar Zolla pingsan lagi.


"Pak tolong lakukan sesuatu buat anak saya, tolong buat Zolla sadar lagi!" Ucap Farida memohon kepada dokter.


"Sebaiknya ibu berdoa untuk kesembuhan anak ibu, kami akan melakukan segala upaya untuk menyembuhkan anak ibu." Jawab dokter itu seraya masuk ruangan Zolla.


"Mama jangan nangis terus, papa yakin Zolla akan cepat sadar." Lanjut Natan menenangkan Farida.


"Semoga aja pah." Ucap Farida sambil mengusap air matanya.


Beberapa menit kemudian..


Dokter yang memeriksa keadaan Zolla, sekarang sudah keluar dari ruangannya dengan raut muka sedih. Natan dan Farida yang melihat itu, mereka semakin di buat gelisah.


"Maaf Bu, bukannya kami tidak berusaha tapi tuhan berkehendak lain. Anak ibu sekarang sudah pulang ke penciptanya. Kami turut berduka." Jawab dokter itu ragu sekaligus merasa tidak enak.


Bagikan di sambar petir di siang bolong, itulah yang di rasakan sepasang suami istri yang sedang berada di hadapan dokter.


"Apa yang kamu bilang? Apa kamu tidak becus mengurus satu pasien? Hah?" Geram Natan sambil mencengkram kerah dokter itu.


"Ini sudah takdir." Jawab dokter mencoba untuk tenang.


"Takdir? Lalu kenapa kamu tidak mengubah takdir itu? Kalau saja kamu tidak telat menangani Zolla tadi, mungkin anak saya masih bisa di selamatkan!" Ucap Natan dengan emosi.


"Sekali lagi saya minta maaf atas kesalahan saya ataupun pihak rumah sakit, kami disini membantu menyembuhkan bukan untuk membunuh orang, jadi apa yang terjadi pada anak anda itu, sudah menjadi takdir dari yang maha kuasa, kami dokter bukan Tuhan yang bisa mengulur waktu kematian." Jawab dokter itu panjang lebar.


Mendengar pernyataan dari dokter, Natan melepaskan cengkraman tangannya dari kerah baju dokter tersebut "Maaf saya terbawa emosi," Ucap Natan meminta maaf.


"Tidak apa-apa saya mengerti dengan apa yang Anda rasakan, jika saya jadi anda, saya juga akan melakukan hal yang sama, mungkin lebih."


"Kalau begitu saya permisi dulu." Lanjut dokter itu seraya pergi dari sana.


Natan sudah terkalut emosi sedangkan Farida. Begitu mendengar kalau Zolla sudah tidak ada lagi ia langsung berlari masuk keruangan Zolla.


"ZOLLA? BANGUN ZOLLA! KENAPA KAMU PERGI BEGITU CEPAT ZOLLA?" Teriak Farida sambil memeluk tubuh Zolla yang terbaring.


"Kamu pernah bilang kalau kamu mau menikah kan? Ayo lakukan itu! Ibu akan dukung kamu." Ucap Farida lirih dengan air mata yang terus keluar dari matanya.


Natan memasuki ruangan Zolla, disana Natan melihat Farida yang sedang terduduk dan masih sibuk menangisi kepergian anaknya. Natan menyentuh pundak Farida lalu berkata.


"Papa juga sedih, tapi mungkin tidak sesedih mama, kita harus ikhlaskan putri kita biar dia tenang di alam sana." Ucap Natan membuat Farida tidak suka.


"Ikhlaskan? Apa yang papa bilang? Siapa yang harus kita ikhlaskan hah? Zolla masih ada disini! Dia belum pergi!" Ucap Farida menyangkal perkataan Natan.


"Zolla sudah pergi! Dia udah gak bersama kita lagi." Ucap Natan lirih.


"Tidak! Zolla pasti akan sadar kembali! Dia sudah bilang kalau dia akan menikah." Ucap Farida kembali menangis.


"Jangan terus menangis! Zolla akan semakin membenci kita jika kita menangisi kepergiannya." Ucap Natan sambil memeluk Farida, dalam diam Natan juga menangis sejadi-jadinya karena kehilangan Putri sulungnya yang sering ia banggakan kepada pegawai-pegawai di kantornya.


"Bagaimana kita memberitahukan ini kepada Bella?" Tanya Farida kepada Natan.

__ADS_1


"Itu biar papa saja yang urus." Jawab Natan.


•••


Sudah beberapa jam Feby pingsan, tapi tidak ada tanda-tanda kalau ia akan bangun. Venus sedari tadi menunggunya di dalam UKS, tidak ada yang di perbolehkan masuk kecuali teman-temannya ataupun teman Feby.


Hani yang sedang belajarpun langsung tancap gas saat mendengar sohibnya pingsan dan sekarang ia juga sedang berada di uks bersama Venus, tidak ada siapa-siapa lagi disana, selain Hani, Venus dan Feby.


"Feb..gue tahu lo lagi suka pake skincare tapi jangan lo makan juga skincare nya sampe lo jadi pucat kayak gini! Skincare itu untuk meng-glowingkan wajah bukan untuk meng-glowingkan tubuh!" Ucap Hani yang sedang duduk di sebelah Feby, tiba-tiba handphone Hani berdering.


..."Hallo?"...


...Ucap Hani kepada seseorang di seberang sana....


..."__"...


...Jawab seseorang itu....


..."Apa ini ada kaitannya dengan Feby yang tiba-tiba pingsan?"...


...Batin Hani bertanya....


Hani melirik Venus yang sedang mendengarkan musik sambil memakai airphone, Hani pun mendekat kearahnya.


"Ekhm, Venus? Bisa nitip Feby dulu? Gue mau angkat telpon dulu." Ucap Hani kepada Venus.


Venus terbangun kala seseorang berbicara di samping telinganya "Apa?" Tanya Venus dingin.


"Gue mau angkat telpon dulu, lo tolong jagain teman gue sebentar saja, bisa gak?" Tanya Hani.


"Hm." jawab Venus datar.


Setelah mendengar jawaban Venus, Hani langsung berlari keluar dan menyisakan Venus dan Feby yang berada di dalam UKS itu.


Venus melangkah mendekat kearah Feby, ia melihat Feby yang sedang terbaring  dengan keadaan yang sangat pucat seperti mayat hidup, entah kenapa Venus merasa khawatir melihat Feby seperti itu.


"Oii! Bangun! Lo udah pingsan selama 4 jam lebih 20 menit, 3 detik." Ucap Venus seraya membenarkan rambut Feby.


"Lo kenapa sih? Baru kali ini gue lihat orang pingsan kayak gini." Ucap Venus lagi.


Venus membenarkan selimut yang dipakai Feby, ia memasukan tangan Feby kedalam selimut.


"Biar lo gak kedinginan." Ucap Venus setelah membenarkan selimutnya.


Venus meneliti wajah Feby dengan seksama, saat melihat wajahnya tiba-tiba jantung Venus berdegup tak karuan dan tangannya tak bisa diam, ia mengusap lembut wajah Feby.


"Kenapa lo sangat cantik?" Gumam Venus masih mengusap wajah Feby.


...Nanti kalau aku udah isi kuota, aku akan double up. Kalau sekarang aku gak double up soalnya ini kuota orang...


...See you next partđź‘‹...


...Kalo part nya garing? Komen ...


...setiap chapter pasti ada yang seru ada juga yang tidak jadi maapin kalo part ini garing👍...


...Kalo part nya seru? Komen...


...Kalo punya saran dan kritik? Komen...


...Kalo mau demo? Komen...


...Kalo mau mengusulkan cast? Komen...


...Kalo ada typo? Komen...


...SHIPPER VENUS MANA SUARANYA?...


...SHIPPER BENUA MANA SUARANYA?...


...SHIPPER JOVANKA MANA SUARANYA?...


...PENDUKUNG TRIO GEN MANA SUARANYA?...


...Ig. @destifahila...


...D E S T I F A H I L A...

__ADS_1


__ADS_2