
...Hallo🤗...
...HAPPYREADINGđź’ś...
Terasa nyata, Feby berada di ruangan yang bernuansa putih. Terasa aneh, padahal Feby belum pernah sekalipun pergi ketempat seperti ini. Tiba-tiba dari arah samping, terdapat cahaya yang terang benderang sehingga Feby menutup matanya karena terlalu silau.
"Anjay cahaya apa itu? Apa cahaya Ilham?" Gumam Feby bertanya.
Setelah beberapa saat, cahaya itu mulai memudar. Feby membuka kembali matanya, kesan pertama yang ia lihat adalah seseorang yang mirip dengannya.
Deg
"L..lo Fe..feby?" Tanya Zolla gugup.
Tidak ada jawaban dari Feby. Feby hanya memandang Zolla sambil tersenyum, hal itu membuat Zolla sedikit merinding.
"Lo pasti mau minta badan lo kan?" Tanya Zolla.
Zolla sudah tahu jika pada akhirnya Feby akan menempati tubuhnya kembali dan Zolla akan meninggal seperti jasadnya.
"Kalau lo mau ngambil badan lo, gue ikhlas kok, asalkan lo harus sering-sering jenguk orang tua gue." Lanjut Zolla bergeming.
"Tidak." Ucap Feby.
"Tidak apa? Lo gak mau nuruti permintaan terakhir gue?" Tanya Zolla.
"Tidak." Jawab Feby membuat Zolla kembali berpikir.
"Tidak apa? Lo mau nuruti permintaan terakhir gue? Gitu maksudnya?" Tanya Zolla memastikan.
"Tidak." Lagi-lagi Feby menjawab dengan kata yang sama.
"Perasaan dari tadi lo ngomong tidak, tidak mulu dah! Tidak apa sih?" Tanya Zolla sedikit geram.
"Kakak tidak akan kemana-mana, aku yang akan pergi. Tolong jaga keluarga aku dan..tolong aku." Jawab Feby membuat Zolla tersentak.
"A..apa? Tolong apa?" Tanya Zolla memastikan kalau yang barusan ia dengar tidak salah.
"Sekarang tubuh aku milik kakak, tolong jaga-jaga baik-baik ya?" Jawab Feby.
"Dan juga ada satu hal yang harus kakak ketahui, tolong bebaskan orang tua aku dari ancaman seseorang." Lanjut Feby.
"Ancaman? Siapa yang ngancem orang tua lo?" Tanya Zolla masih tidak mengerti.
"Selamat menjalani hidup yang baru kak Zolla." Setelah berbicara seperti itu, Feby hilang entah kemana dan Zolla langsung tersadar dari tidurnya.
Zolla membuka matanya, keringat membasahi dahinya dan nafasnya tidak teratur.
"Udah bangun?" Tanya seseorang yang membuat Zolla terkejut.
"Benua?" Batin Zolla.
Zolla mendudukkan tubuhnya, ternyata bukan Benua tapi Devin, otak Zolla kembali berpikir.
"Kak?" Sahut Devin.
"Apa mimpi tadi nyata? Gue masih hidup? Belum meninggal?"
"Terus apa yang di maksud dengan perkataan terakhir Feby? Apa ibu sama bapak di ancam?" Batin Feby kembali bertanya.
Zolla meneliti setiap inci ruangan, masih sama! Bahkan baju yang kemarin ia pakai masih tetap sama.
"WOW! DAEBAK!" Teriak Zolla membuat Devin ketakutan.
"Kak Feby kenapa?" Tanya Devin.
"Feby?" Tanya Zolla memastikan.
"Hah?" Tanya Devin tidak mengerti.
"Tidak." Gumam Zolla, setelah itu ia tersenyum lebar.
"Kak ibu sama bapak udah nunggu sarapan." Ucap Devin.
Zolla berpikir kalau dirinya benar-benar masih hidup meskipun jasadnya telah mati. Feby yang asli menyerahkan hidupnya kepada Zolla jadi Zolla harus menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.
"Sekarang gue akan ngejalani hidup sebagai Feby untuk selamanya, nama gue sekarang Feby Rinda buka Zolla Carllet!" Batin Zolla senang.
"Terimakasih udah beri gue kesempatan hidup." Batin Feby teramat senang.
"Oke! Ayo kita sarapan." Jawab Feby turun dari ranjangnya dan menghampiri Devin yang berada di ambang pintu.
__ADS_1
•••
Devin dan Feby berjalan bersama menuju ruang tengah. Saat mereka sudah sampai disana, baik Gina ataupun Heri mereka sama-sama terkejut melihat mata kedua anaknya itu.
"Mata kalian kenapa?" Tanya Gina kepada Feby dan Devin.
"Mata? Memangnya kenapa mata aku?" Jawab Feby malah bertanya, lalu ia menatap Devin dan benar saja mata Devin bengkak seperti sudah menangis.
"Mata lo kenapa?" Tanya Feby kepada Devin.
Feby baru menyadari kalau mata Devin bengkak, begitu juga Devin yang sama-sama baru menyadari.
"Mata kakak juga kenapa?" Tanya balik Devin.
"Apa kalian semalam menangis?" Tanya Heri mengintimidasi.
"Aku kemarin nonton drama Korea, jadi terbawa perasaan." Jawab Feby berbohong, sangat tidak mungkin jika Feby berkata yang sesungguhnya.
"Kamu Devin?" Tanya Gina.
"Kemarin aku pulang larut malam, ada serangga masuk kedalam mataku." Jawab Devin.
"Kita boleh duduk?" Tanya Feby.
"Hm," Jawab Heri memperbolehkan mereka duduk.
Sepanjang makan, tidak ada yang bersuara ataupun berbicara, dari tadi Devin dan Feby saling pandang. Feby merasa ada yang janggal dengan mata Devin, Feby tahu betul mata bengkak orang menangis dan ia melihat itu di mata Devin. Begitu juga sebaliknya Devin merasa kurang percaya dengan perkataan Feby yang berbicara kalau dirinya menangis karena nonton Drakor.
"Masa nonton Drakor sampe bengkak begitu sih?" Batin Devin bertanya.
"Masa kelilipan sampe bengkak gitu? Gue tahu kalau semalam dia habis nangis." Batin Feby menatap Devin.
"Kalian kenapa? Tatap-tatapan kayak gitu?" Tanya Gina membangunkan mereka dari aksi tatap-tatapan.
"Nggak kok cuma merasa kalau Devin itu mirip Jaehyun." Jawab Feby ngawur.
"Kamu bicara jangan suka fitnah!" Sentak Heri kepada Feby.
"Bapak tahu gak siapa Jaehyun itu?" Tanya Feby menahan tawanya.
"Pak Jaenudin kan?" Tanya Heri.
Feby langsung tertawa mendengar jawaban Heri, ia memukul-mukul lengan Devin saking ngakaknya.
"Kalau lagi makan ada baiknya jangan ketawa-tawa! Gak baik" Ucap Gina kepada Feby.
"Ah, maaf Bu saya khilaf," Ucap Feby berhenti terrawa.
Sedangkan Devin, dari tadi ia hanya tersenyum tipis saat mendengarkan kakanya berceloteh. Hari ini mood Devin sedang tidak dalam kondisi baik, ia hanya diam kalau tidak ada sesuatu yang perlu di bicarakan.
Setelah selesai acara makan, orang tua Feby pergi bekerja. Feby dan devin hanya berdiam diri di rumah karena hari ini adalah hari Minggu.
"Dev! Kok gue gak percaya ya kalau mata lo kelilipan? Harusnya yang kelilipan itu matanya merah bukan bengkak." Ucap Feby kepada Devin yang sedang menonton TV.
"Aku juga gak percaya kalau kakak menangis karena Drakor sampe segitunya." Ucap Devin mengalihkan pembicaraan.
"Gue emang bukan nangis kemarin karena Drakor." Jawab Feby.
"Terus lo kenapa? Maksud gue mata lo kenapa? Lo nangis ya?" Tanya Feby sekali lagi.
Devin melirik Feby setelah itu ia memalingkan wajahnya kembali menghadap TV.
"Itu di atas apa?" Tanya Devin menunjuk langit-langit rumah.
Feby melihat kearah yang di tunjuk Devin, tapi ia tidak menemukan apa-apa di atas sana.
"Gak ada apa-apa." Jawab Feby tidak mengerti.
"Yaudah kalau gak ada apa-apa." Sahut Devin santai.
"Autis lo! Kagak jelas!" Seru Feby berdecak.
"Sebenarnya lo kenapa sih? Wajah lo kayak masam gitu? Kalau di makanan itu istilahnya sudah kadaluarsa." Pekik Feby.
Entah apa yang dirasakannya saat ini tapi Feby pikir harusnya sekarang yang bersedih itu Feby karena kehilangan jasadnya bukan Devin.
"Harusnya gue sekarang yang harus bersedih, tapi kenapa malah si Devin?" Batin Feby keheranan.
"Kak?" Tanya Devin.
"Hm." Jawab Feby.
__ADS_1
"Aku mau tanya, apa yang akan kakak lakukan jika kakak kehilangan orang yang paling berharga buat kakak?" Tanya Devin terdengar sedikit memilukan.
"Emangnya kenapa?" Tanya Feby.
"Jawab dulu pertanyaanku." Ucap Devin tanpa melihat kakanya.
Feby terdiam, ia tahu rasanya di tinggalkan malahan saat ini ia juga berduka atas kematian raganya.
"Rasanya seperti gue kehilangan harapan dan kehilangan dunia kesemangatan." Jawab Feby serius.
"Itu yang aku rasakan sekarang." Ucap Devin terdengar pelan.
Feby terkejut mendengar perkataan Devin. Apa yang di maksud Devin? Siapa yang di maksud Devin? Pikir Feby.
"Maksudnya?" Tanya Feby mendekat kearah Devin.
"Kemarin orang yang aku sukai meninggal." Jawab Devin.
Mendengar jawaban Devin, Feby langsung berpikir.
"Apa yang di maksud Devin adalah gue? Tapi bagaimana bisa? Gue kan gak kenal dia?" Batin Feby bertanya.
"Si..siapa?" Tanya Feby penasaran dengan orang yang disukai Devin.
"Pacar aku." Jawab Devin masih setia membelakangi Feby.
"Lo kalau ngomong jangan kayak orang India yang ngebelakangin lawan bicaranya, ngadep sini sama gue." Ucap Feby.
Devin membalikkan badannya dan menatap Feby "Pacar aku meninggal kemarin sore." Ucap Devin tidak bersemangat.
"Apa? Pa..pacar lo yang waktu itu lo ngombalin?" Tanya Feby memastikan.
Devin menganggukkan kepalanya "Hm." Jawab Devin.
"Kok bisa? Apa pacar lo tabrakan? Atau apa gitu?" Tanya Feby mengintrogasi.
"Dia sakit kanker udah stadium akhir dan aku diberi tahu oleh orang tuanya kemarin, kalau Nova sudah meninggal." Jawab Devin.
Sekarang Feby benar-benar terbungkam, ia tidak tahu harus berbicara apalagi sekarang ataupun menghibur Devin, dirinya saja sekarang butuh hiburan.
"A.." Feby benar-benar tidak tahu harus berkata apa sekarang.
"Aku memberitahu ini supaya kakak jangan dulu mengganggu aku untuk saat ini." Ucap Devin meninggalkan Feby yang masih duduk di kursi.
"Lo mau kemana?" Tanya Feby.
"Ke luar cari udara segar." Jawab Devin tidak bergairah.
"Ahk, sebenarnya sekarang ini ada apa? Kenapa banyak orang yang meninggal?" Gumam Feby bertanya.
"Tapi gue masih belum percaya sih kalau sekarang ini adalah hidup gue. Apa yang harus gue lakukan sekarang? Apa gue harus termerenung seperti Devin? Tapi gue udah termerenung kemarin? Masa harus termerenung lagi?" Gumam Feby merasa bimbang.
...
...
...See you next partđź‘‹...
...Kalo part nya garing? Komen ...
...setiap chapter pasti ada yang seru ada juga yang tidak jadi maapin kalo part ini garing👍...
...Kalo part nya seru? Komen...
...Kalo punya saran dan kritik? Komen...
...Kalo mau demo? Komen...
...Kalo mau mengusulkan cast? Komen...
...Kalo ada typo? Komen...
...SHIPPER VENUS MANA SUARANYA?...
...SHIPPER BENUA MANA SUARANYA?...
...SHIPPER JOVANKA MANA SUARANYA?...
...PENDUKUNG TRIO GEN MANA SUARANYA?...
...Ig. @destifahila...
__ADS_1
...D E S T I F A H I L A...