
...Hallođź‘‹...
...H A P P Y R E A D I N G💬💜...
Oven listrik, itulah barang yang Feby menangkan saat di event toko elektronik. Toko itu baru buka jadi mereka mengadakan pembagian barang elektronik gratis bagi orang yang berhasil menjawab pertanyaan dan kebetulan Feby berhasil menjawab, jadi ia memenangkan oven listrik keluaran terbaru.
Feby berjalan berdampingan bersama Venus, sambil membawa oven listrik di tangannya, Feby berjalan dengan suasana hati yang sumringah, sedangkan Venus berjalan dengan malunya.
"Habis ini kita kemana?" Tanya Feby dengan senyum sumringahnya.
Venus melirik kesal Feby "Kita pulang." Jawab Venus penuh penekanan.
"Kita kan mau ke tempat yang lo janjikan? Masa mau pulang sih?" Tanya Feby tidak percaya.
"Gue mau pulang!" Jawab Venus dengan nada sama seperti tadi.
"Gue gak mau! Gue udah janji sama lo tadi." Ucap Feby.
"Batalkan saja janjinya gue gak keberatan kok." Ucap Venus membuat Feby memutar malas bola matanya.
"Gue gak bisa kayak gitu! Kalau gue udah janji berarti gue harus nepatin janji itu!" Ucap Feby tidak terbantah.
Venus terdiam setelah itu ia melirik Feby "Tadi kenapa lo jawab pertanyaannya sih? Jadi bawa-bawa barang beginian kan ujung-ujungnya?" Tanya Venus kepada Feby yang setia memeluk oven listrik yang menjadi rezekinya.
"Loh kok ngomong gitu sih? Harusnya lo itu bersyukur karena punya temen secerdas gue, tadi disana banyak banget orang bahkan tante-tante culik aku dong juga ada, tapi tidak satupun dari mereka yang bisa ngejawab pertanyaannya, cuma gue saja yang bisa menjawab." Jawab Feby panjang lebar.
"Tapi..ahk gak gini juga! what is this woman thinking?" Seru Venus mengusap kasar rambutnya.
"Terus gimana?" Tanya Feby tidak mengerti.
"Lo bawa-bawa oven! Sedangkan lo masih pakai baju sekolah! Lo gak malu? Masih mending gue pake jaket, lo nggak!" Tanya Venus kesal kepada Feby.
"Gue gak malu! Serius gue gak malu sedikitpun!" Jawab Feby tidak mempersalahkan seragamnya.
"Kita pulang sekarang!" Ucap Venus tidak terbantah.
"Kita gak pulang sekarang!" Ucap Feby sama-sama tidak mau di bantah.
Mendengar jawaban Feby yang seperti itu, mau tak mau Venus hanya akan menuruti perkataan Feby. Semua rencana Venus telah gugur sedari awal tapi tidak ada rasa menyesal di dalam diri Venus, meskipun ia harus menanggung malu.
•••
Feby meletakan oven listrik itu di atas meja. Di atas meja sana sudah terpampang berbagai makanan, bukan Feby yang pesen tapi Venus yang mentraktir. Itung-itung upah karena Venus sudah di temani bolos.
Mereka sekarang sedang berada di sebuah restoran yang cukup banyak orang. Sedari tadi Venus sudah mati-matian menyembunyikan wajahnya agar tidak kelihatan, bukan apa-apa tapi Venus merasa malu.
"Oven nya jangan di taroh di atas meja!" Seru Venus menyuruh menyingkirkan oven itu dari atas meja.
"Lalu dimana gue harus taroh di mana? Di kursi lo?" Tanya Feby.
"Kalau di taroh di kursi gue, terus gue duduk dimana?" Tanya Venus.
"Ya terus ini di taroh dimana?" Tanya Feby nyerongot.
"Di lantai aja." Jawab Venus sambil menunjuk lantai.
"Gila! Ini oven berharga gue ya! Gue gak mau!" Ucap Feby tidak kalem.
"Serah lo aja deh!" Ucap Venus lagi-lagi harus mengalah, setelah itu ia memakan makanan.
"Ven lo bisa potongin daging gue gak? Susah gue potongnya tangan gue gak bebas," Ucap Feby menyuruh Venus memotong dagingnya. Tangannya tidak bisa bergerak bebas karena terhalang oleh oven listrik itu.
Venus membawa piring Feby setelah itu ia memotong-motong dagingnya agar mudah di makan. Venus tidak memotong daging itu dengan kelembutan, tapi ia memotongnya dengan kasar sehingga potongannya tidak merata. Setelah selesai ia menyerahkan piring itu kepada Feby.
"Lo motongnya kenapa di tai-tai gini sih?" Tanya Feby merasa sedih karena dagingnya bukan di potong melainkan di acak-acak.
"Makan aja!" Ucap Venus penuh penekanan.
Sedari tadi banyak orang yang ada di sana curi-curi pandang kepada Venus terutama para kaum hawa, bisa di bilang kalau Venus itu memiliki wajah di atas kkm, bahkan melihat dari belakang atau dari samping pun mereka akan tahu kalau Venus adalah pria ganteng.
"Ven tolong bilangin sama si Jovan ya? Suruh buat ganti Tupperware gue yang dia rusak waktu itu, udah dua hari loh, tapi dia belum ganti rugi juga, Tupperware itu sangat berharga bagi ibu gue." Ucap Feby memelas kepada Venus.
"Dia gak akan ganti." Ucap Venus.
"Kenapa bisa gitu?" Tanya Feby.
"Kalo gak percaya lo bisa langsung tagih sendiri sama si Jovan." Jawab Venus masih fokus memakan makanannya.
"Gimana kalo lo aja yang gantinya? Nanti kalo lo mau nagih? Tagih aja sama si Jovan." Ucap Feby.
__ADS_1
"Nggak." Jawab Venus cepat.
"Si Jovan kan temen lo! Jadi wakilkan aja ganti ruginya sama lo, Lo kan orang kaya?" Ucap Feby sekali lagi.
"Berisik lo, oke nanti gue ganti." Jawab Venus berdecak, mendengar itu Feby tersenyum penuh kemenangan.
Feby melihat cara makan Venus yang pilih-pilih, Feby berpikir kalau Venus sering menyusahkan mamanya.
"Lo makan pilih-pilih amat, pasti lo sering nyusahin mama lo kalau lagi masak ya?" Tanya Feby membuat Venus menghentikan acara makannya.
"Kenapa? Apa gue salah bicara?" Tanya Feby menyeringit karena Venus berhenti makan.
"Mama gue udah meninggal." Jawab Venus tanpa melihat kearah Feby dan hal itu membuat Feby merasa tidak enak, Feby pikir perkataannya telah membuat mental Venus jadi down.
"Ma..maaf, ehkm..gue gak sengaja bilang kayak gitu." Ucap Feby mendadak gugup.
"Gak papa." Jawab Venus datar.
"Kalo boleh tahu kapan mama lo meninggal?" Tanya Feby penasaran.
"Sejak gue berumur 10 tahun." Jawab Venus.
"Ohh, lo..yang sabar." Ucap Feby gugup, saking gugupnya ia menepuk keras bahu Venus, sehingga orang yang di tepuk pun memandang nya.
"Apa?" Tanya Feby tidak kalem.
Venus tidak menjawab perkataan Feby ia lebih memilih untuk fokus makan dan setelah itu cepat-cepat pulang.
Feby melanjutkan makannya tapi ia merasa risih dengan wanita-wanita disana yang terus-terusan mencuri-curi pandang kepada Venus, karena risih Feby menarik kupluk jaket Venus sehingga kupluknya menutupi kepala Venus.
"Jangan di buka!" Perintah Feby kepada Venus.
"APA LIHAT-LIHAT?" Seru Feby tidak nyantai kepada wanita yang berada di sebelahnya.
"Apasih?" Gerutu wanita itu menahan malunya.
Sedangkan Venus, diam-diam ia tersenyum saat Feby mencoba melindunginya dari tatapan maut wanita-wanita yang ada di sana.
"Lo kalo punya wajah jangan ganteng-ganteng amat! Ngebahayain diri sendiri tahu gak?" Seru Feby memarahi Venus.
"Emang gue ganteng ya?" Tanya Venus sambil tersenyum jahil.
"Gue nyadar, tapi kalau menurut lo gue ganteng gak?" Tanya Venus lagi.
"Kalau menurut gue biasa aja sih." Jawab Feby sambil menggerakan tangannya seperti sedang memotret.
"Ish! Ibu gue pasti akan suka nih oven listrik ini, soalnya ibu pernah bilang kalau ibu sangaat menginginkan oven buat bikin cake." Ucap Feby mengalihkan pembicaraan sambil menepuk oven listrik itu.
"Lo seseneng itu dapat yang kayak beginian?" Tanya Venus.
"Iya gue seseneng itu, bahkan ini adalah hari paling bahagia gue! Hari paling beruntung buat gue, kalau tadi gue gak ikut lo bolos mungkin gue gak akan bisa dapetin rezeki nomplok kayak gini" Jawab Feby panjang lebar.
"Jadi sekarang gimana? Masih mau nyebut kalau gue ngajak lo maksiat?" Tanya Venus membuat Feby terkekeh.
"Gak! Malahan gue mau ngucapin terimakasih banyak karena telah ngajak gue bolos, oh iya sebagai ucapan terimakasih gue, kapan-kapan gue akan buatin lo cake pake oven ini!" Jawab Feby.
"Gua tunggu janji lo!" Ucap Venus.
•••
Setelah selesai makan, akhirnya mereka bisa pulang. Masih tetap setia Feby memeluk oven listriknya sedangkan Venus masih setia berjalan di samping Feby.
"Ven gantian dong bawanya? Tangan gue kayak mati rasa nih." Ucap Feby menahan lelah di tangannya.
Venus mengambil oven itu dari tangan Feby. Setelah ovennya di bawa Venus kini Feby bisa menggerakkan tangannya dengan leluasa, Feby menggerakkan tangannya agar tidak sakit lagi.
"Ven bapak lo pemilik sekolah?" Tanya Feby.
"Hm." Jawab Venus.
"Gue denger lo pernah tinggal di Amerika ya?" Tanya Feby lagi.
"Hm." Jawab Venus masih sama seperti sebelumnya.
"Gue cantik ya?" Tanya Feby sengaja untuk mengetes apakah sedari tadi Venus mendengar pertanyaan atau tidak.
"Nggak." Jawab Venus yang membuat harapan Feby pupus seketika.
"Nih giliran lo." Ucap Venus memberikan oven itu kepada Feby, baru saja Feby merasakan ringan di tangannya, kini tangannya harus menenteng sebuah benda yang lumayan berat itu lagi.
__ADS_1
"Ven lo jangan gini dong! Tangan gue udah sakit nih." Ucap Feby memelas.
"Gak peduli." Ucap Venus datar.
Dengan paksa Feby menyerahkan oven itu kepada Venus, karena hal itu mendadak jadi Venus memegang oven itu karena takut ovennya jatuh.
"YESS, VEN LO YANG BAWA YA? GANTIAN GITUH!" Teriak Feby yang sudah berlari kedepan.
Disana sedang banyak orang dan tanpa rasa malu sedikit pun Feby berteriak seperti itu, Venus benar-benar malu dengan tingkah Feby, ia meletakkan ovennya di bawah setelah itu ia berbalik kebelakang dan berjalan berlawanan arah dengan Feby.
Feby yang melihat itu ia langsung berteriak, ingin rasanya menangis karena Venus tidak mau membawa ovennya.
"AAHH! VENUUS!" Gerutu Feby setelah itu kembali berlari untuk mengambil ovennya.
Venus melirik kebelakang dan disana ia melihat kalau Feby sudah membawa ovennya. Venus berjalan kembali menuju arah Feby.
"Pulang!" Ucap Venus seraya pergi mendahului Feby.
"Tunggu dong!" Gerutu Feby mensejajarkan langkahnya.
"Naik bus?" Tanya Feby kepada Venus.
"Tidak! Kita naik taksi." Jawab Venus.
"Taksi? Ongkos naik taksi kan mahal? Naik bus aja deh buat murah." Ucap Feby tidak setuju kalau harus naik taksi.
"No rebuttal! Just do my word!" Seru Venus.
"Justin Biber kita naik angkot aja ya?" Tanya Feby.
Venus tidak menjawab pertanyaan Feby ia lebih fokus untuk memberhentikan sebuah taksi di jalanan. Setelah mendapatkan taksi itu Venus membawa Feby masuk kedalam.
"Serius pake taksi?" Tanya Feby berbisik.
"I'm serious!" Jawab Venus.
Feby diam mendengar jawaban Venus, ia menggeser oven itu agar bisa berada di pangkuan Venus. Meskipun oven itu rezeki tapi bobotnya lumayan berat apalagi Feby sudah dari tadi membawanya.
Venus kembali menggeser oven itu, karena dirinya tidak mau membawa benda itu. Feby tidak mau kalah dengan Venus, Feby dengan sengaja meletakkan oven itu di atas paha Venus.
"Pak barang ini bisa di taroh di depan gak?" Tanya Venus seraya menunjuk oven listrik itu.
"Oh bisa dek, silahkan taruh saja di sana." Jawab pak supir seraya menunjuk jok kosong yang berada di sampingnya.
"Nah gitu dong dari tadi!" Ucap Feby merasa berjaya.
Selama perjalanan tidak ada yang bicara dan hal itu membuat Feby dan venus menjadi ngantuk. Karena sudah terlalu ngantuk mereka tidak sadar kalau mereka tertidur dengan saling menyenderkan kepalanya.
Venus terbangun dari tidurnya karena mendengar suara klakson yang di bunyikan pak supir, lalu fokusnya beralih kepada wanita yang bersandar di bahunya bisa di lihat kalau wanita itu sedang tertidur sangat pulas, tanpa di perintah bibir Venus terangkat membentuk sebuah bulan sabit.
"Lo cantik, apalagi kalau diam kayak gini." gumam Venus seraya meneliti wajah Feby, setelah itu ia kembali melanjutkan tidur.
...See you next partđź‘‹...
...Kalo part nya garing? Komen ...
...setiap chapter pasti ada yang seru ada juga yang tidak jadi maapin kalo part ini garing👍...
...Kalo part nya seru? Komen...
...Kalo punya saran dan kritik? Komen...
...Kalo mau demo? Komen...
...Kalo mau mengusulkan cast? Komen...
...Kalo ada typo? Komen...
...SHIPPER VENUS MANA SUARANYA?...
...SHIPPER BENUA MANA SUARANYA?...
...SHIPPER JOVANKA MANA SUARANYA?...
...PENDUKUNG TRIO GEN MANA SUARANYA?...
...Ig. @destifahila...
...D E S T I F A H I L A...
__ADS_1