
...Hallo🤗...
...HAPPYREADINGđź’ś...
Baik Hani ataupun Rena mereka sama-sama terkejut mendengar perkataan Feby.
"Jadi Lauda itu cucu pak Natno?" Tanya Rena memastikan.
"Bukan itu yang membuat aku terkejut tapi Tania! Aku pikir Tania itu jahat sama kakak." Timbal Hani masih tidak percaya.
"Dua-duanya sama saja membuat aku bingung, aku pikir kalau Tania itu teman Chelsea dan juga aku tidak menyangka kalau Lauda selalu menukar nilai aku." Jawab Feby kebingungan sendiri.
"Sepertinya hidup anak ini tidak pernah damai, ibu aja sampai migren mikirinnya apalagi anak ini menanggung semuanya sendirian." Ucap Rena menunjuk Feby.
"Oh iya, kemarin aku bertemu Feby di mimpi." Ucap Feby seketika teringat dengan mimpinya.
"Terus gimana? Anak itu kasih petunjuk gak?" Tanya Rena mendekati Feby.
"Apa si Feby asli ngasih petunjuk?" Tanya Hani sama-sama mendekat.
"Petunjuk kompas maksudnya?" Ucap Feby balik bertanya.
"Kamu kalau lagi ngobrol jawabnya yang bener dong." Ucap Rena sedikit kesal.
"Jadi gimana tentang mimpi kamu?" Lanjut Rena.
"Kemarin aku bermimpi kalau si Feby maksudnya si anak ini, dia bilang kalau sekarang ini hidup aku." Jawab Feby membuat kedua temannya menjadi riang.
"Serius? Jadi sekarang kamu akan hidup seterusnya?" Tanya Rena dengan senyum yang merekah.
"Jadi kakak gak jadi mati?" Tanya Hani girang.
"Aku tetap hidup tapii.." Jawab Feby menggantung.
"Tapi kenapa?" Tanya Rena penasaran.
"Aku harus membantunya keluar dari masalah dan membantu ibu sama bapak dari ancaman seseorang." Jawab Feby berubah menjadi masam.
"Aku gak tahu siapa seseorang yang mengancam ibu sama bapak." Lanjut Feby.
Mendengar penjelasan dari Feby, Rena dan Hani langsung berdiri.
"Astaga! Ah bener-bener! Aku kira masalahnya cuma masalah bully doang, lah ini? Nyangkut paut orang tua? Pantas aja si Feby lebih memilih bunuh diri." Gerutu Hani.
"Kalau masalahnya begini gimana cara kita nyelesain nya? Dari mana kita harus mulai?" Tanya Rena tidak santai.
"Nyari aja di Google." Jawab Feby memainkan jari-jarinya.
"Nyari apa di Google? Ini masalah real bukan kaleng-kaleng." Jawab Rena
"Nyari aja gini 'cara santet pak Natno' siapa tahu dengan di mulainya acara santet pak Natno semua masalah aku bisa hilang." Jawab Feby tersenyum.
"Kalau mau semua masalah hilang? Kita harus goyang Dumang, biar hati senang, pikiran pun tenang, gala.."
"Kamu malah nyanyi-nyanyi! Ini masalah serius loh! Jangan di bikin bercanda!" Ucap Rena memotong nyanyian Hani.
"Kamu lagi, udah tahu ini masalah serius malah leha-leha begitu, seharusnya kamu itu berpikir cari jalan keluar, agar masalah ini cepat clear." Ucap Rena kepada Feby yang sedang rebahan di sofa.
"Aku juga sedang berpikir, bagaimana kalau kita tauran aja sama pak Natno?" Tanya Feby kepada Rena.
"Tawuran itu bukan solusi terbaik tapi malah menambah masalah, udah tahu masalah kamu seperti rumah tangga artis malah di ajak tawuran!" Jawab Rena tidak setuju dengan pendapat Feby.
"Tawuran nya yang disiplin dong, maksudnya tawuran empat sehat lima sempurna." Ucap Feby membuat Hani terkekeh.
"Itu mau tawuran atau mau makan?" Tanya Hani.
"Feby! Yang bener kalau ngomong." Ucap Rena.
"Oke, oke ini yang terakhir janji! Menurut aku kita jangan dulu ngapa-ngapain sebelum kita tahu asal muasal masalah aku, gimana?" Tanya Feby.
Rena dan Hani mengangguk setuju dengan pendapat Feby, mereka juga tidak mau salah langkah dalam mengambil keputusan apalagi ini bukan masalah biasa.
"Apa anak cowok itu masih gangguin kamu?" Tanya Rena kepada Feby.
"Siapa? Bujang lapuk?" Balik tanya Feby.
"Iya itu, Jovan kan namanya?" Tanya Rena membuat Feby langsung tertawa kencang.
"Ibu jangan sebut Jovan deh, bawaannya aku pengen ngakak." Ucap Feby mencoba menetralkan wajahnya, tapi tidak bisa karena wajah kecewa Jovan terus terngiang-ngiang di pikirannya dan karena wajahnya itu membuat Feby selalu ingin tertawa.
"Kakak kenapa? Kakak udah baikan sama si Jovan?" Tanya Hani memicingkan matanya.
__ADS_1
"Palias! Bukan udah baikan tapi aku hanya ngakak saja karena.. Jovan udah di tolak Tania." Jawab Feby mencoba untuk tidak tertawa.
"Apa? Jovan di tolak Tania? Kenapa bisa gitu? Bukannya si Jovan bucin banget sama si Tania?" Runtuian pertanyaan keluar dari mulut Hani karena saking terkejutnya mendengar perkataan Feby.
"Sekarang aku sudah tahu siapa yang nulis surat cinta itu." Ucap Feby membuat mereka penasaran.
"Siapa?" Tanya Hani penasaran.
"Tania, dia buat surat cinta itu untuk menolak Jovan." Jawab Feby.
"Aku puas sih kalau si Jovan di gituin tapi kenapa harus kakak juga yang di jadiin alasan?" Tanya Hani.
"Gak tahu." Jawab Feby.
"Hani lo tahu gak kalau pacar si Devin sudah meninggal?" Tanya Feby membuat mereka langsung terkejut.
"Pa..pacar ayang Devin?" Tanya Hani yang kini berada di ambang kesenangan ataupun berduka.
"Woohh." Surak Feby dan Rena saat Hani menyebutkan nama Devin dengan tambahan ayang.
"Lo suka sama Devin? Gebet aja, jomblo kok." Ucap Feby menggoda Hani.
"Apasih? Kalo ngomong suka bener." Gerutu Hani.
"Cuma saran aja, si Devin orangnya romantis, kalau dia pacaran sama kamu, bisa-bisa setiap hari kamu di belin bunga." Ucap Febym
•••
Hari sudah semakin sore, Feby berjalan di trotoar yang cukup sepi. Hari ini Feby tidak masuk sekolah karena tiba-tiba sekolah di liburkan. Tidak ada yang tahu pasti alasannya tapi menurut romur, kalau hari ini pihak Sma Darmawangsa mengadakan rapat.
Saat sedang berjalan Feby tak sengaja menubruk seseorang yang sedang bersandar di tiang lampu sambil memainkan ponselnya.
"Maaf," Ucap Feby merasa bersalah kepada seseorang yang ia tabrak. Feby mendongak menatap orang yang ia tabrak dan setelah melihat wajah orang itu seketika Feby tertawa terbahak-bahak hingga tak sadar kalau air liurnya menciprat kewajah orang itu.
"Daebak!! Ada abang jago disini? Orang kaya nongkrongnya di tengah trotoar?" Ucap Feby menggoda emosi Jovan.
"Lo jorok banget bangsat!" Ucap Jovan mengelap wajahnya yang terkena cipratan hujan lokal dari Feby.
"Haji Oma nuju naon? Haji Oma lagi apa?" Tanya Feby menggunakan bahasa sunda yang tidak di mengerti Jovan.
"Lo ngomong apasih? Pergi lo! Ganggu aja!" Usir Jovan kepada Feby.
"Gue mau balas dendam! Lo udah gangguin gue untuk sesuatu yang tidak gue lakukan!" Ucap Feby menggerakkan tangannya membentuk simbol silang tepat di wajah Jovan.
"Oh jadi lo lagi telpon Tania? Cewek kesayangan lo?" Tanya Feby dengan sengaja.
Jovan menghela nafas kasar setelah itu ia pergi guna menghindari Feby, meskipun Jovan sudah tahu kalau Feby tidak bersalah tapi melihat wajahnya masih membuat Jovan merasa kesal dan ingin menghajar.
Feby tidak menyerah begitu saja sebelum ia berhasil mengganggu Jovan ia tidak akan berhenti.
"CINTA DI TOLAK EMANG GAK ENAAAK! CINTA DI TOLAK DUKUN BERTINDAAAK!" Teriak Feby mengikuti Jovan dari belakang.
"JOVAN! JOVAN! LO ITU TERLALU KE PD-AN!" Teriak Feby terus mengganggu Jovan.
Jovan masih tidak menghiraukan teriakan Feby dari belakang, ia lebih fokus untuk mencari taksi. Jika saja motornya tidak di bengkel, mungkin saat ini ia bisa menghindari Feby.
"LO ORANG KAYA TAPI JALAN KAKI? APA LO DESFRESI KARENA DI TOLAK TAN.." Ucapan Feby terpotong karena Jovan langsung berbalik menatap tajam Feby. Sekarang Feby seperti mempunyai sebuah priasi, jadi ia sama sekali tidak takut kepada Jovan.
"Apa lo desfresi gara-gara Tania?" Tanya Feby yang sangat membuat Jovan muak.
"Lo orang terbodoh yang pernah gue lihat." Ucap Jovan sinis setelah itu ia melanjutkan perjalanan.
"Terbodoh? Lo pasti denger kan tadi apa yang gue sama Tania obrolin waktu di rofftop?" Tanya Feby langsung berdiri di hadapan Jovan.
"Jangan bawa-bawa nama Tania lagi! Minggir!" Seru Jovan menyingkirkan Feby dari hadapannya.
"Minggir? Ini jalanan tempat umum! Bukan punya sesepuh lo." Ucap Feby langsung berhenti lagi di hadapan Jovan.
Jovan mengacak-acak rambutnya kasar setelah itu ia menatap kesal Feby. Entah kenapa mengingat kalau Feby selalu mendapat perlakuan buruk darinya, ia merasa sedikit bersalah. Tetapi rasa bersalahnya itu tidak melunturkan kebenciannya.
"Ming-gir! Brengsek!" Ucap Jovan penuh penekanan setelah itu menyingkirkan Feby untuk kedua kalinya.
"Jadi ini keinginan lo karena merasa di php-in sama Tania? Oke! Gue akan setia nemani lo sepanjang perjalanan, tapi ingat gue bukan nemenin lo tapi ganggu lo." Ucap Feby mensejajarkan langkahnya dengan Jovan.
"Sebenarnya gue masih najis ngomong ataupun bertemu lo, tapi karena gue mau balas dendam jadi gue ngikuti kemana lo pergi." Ucap Feby tetap fokus berjalan beriringan bersama Jovan.
Jovan mengusap wajahnya kasar, jujur saja ia sangat lelah untuk meladeni Feby. Ia memilih untuk diam dan segera untuk mencari taksi.
Feby merasa mendapat Ilham untuk menjahili Jovan, ia menyenggol bahu Jovan sampai Jovan hilang keseimbangan dan hampir terjatuh, Feby merasa puas dengan aksinya.
"Sepertinya barusan gue di senggol arwah penasaran." Heboh Feby mengusap-usap bahunya.
__ADS_1
"Lo ngerasa gak sih?" Tanya Feby kepada Jovan.
"Bangsat!" Umpat Jovan.
Jovan menengok ke sekeliling, hingga sampai saat ia melihat taksi yang lewat, dengan cepat ia melambaikan tangannya agar taksi berhenti.
Feby yang melihat itu, ia merasa was-was karena kalau Jovan naik taksi berarti rencana mengganggunya akan terhambat, Feby tidak kehabisan ide, ia langsung membawa Jovan pergi
"Lo gak bisa pergi sekarang! Gue belum puas gangguin lo!" Ucap Feby seraya membawa Jovan pergi.
"Lo apa-apan sih? Gue mau naik taksi! Awas lo!" Gerutu Jovan karena Feby terus-terusan menahannya agar tidak naik taksi.
"Kalau lo naik taksi sekarang? Rencana balas dendam gue akan ketunda!" Jawab Feby tidak santai.
Taksi yang di berhentikan Jovan tadi langsung berjalan melewati keduanya. Karena sudah ada penumpang yang mengisinya.
"Gara-gara lo taksi gue di rebut orang bangsat!" Gerutu Jovan kesal.
"Sebenarnya lo mau apasih? Lo mau sok kenal sama gue? Lo mau ngedeketin gue?" Tanya Jovan.
"Semua yang lo katakan adalah najis mughalladhah buat gue! Gue gangguin lo karena mau balas dendam." Jawab Feby santai.
"Jadi ini cara lo balas dendam?" Tanya Jovan tersenyum miring.
"Iya ini adalah cara gue balas dendam." Jawab Feby.
Jovan langsung berlajan meninggalkan Feby. Menurutnya hari ini benar-benar sangat sial! Apalagi di ganggu oleh spesies macam Feby.
Feby terus berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Jovan tapi Jovan malah mempercepat langkahnya alhasil Feby harus berjalan dengan cepat.
Hingga tiba di mana mereka berjalan di jalanan yang terlihat basah. Feby melihat genangan air yang cukup besar di pinggir jalan lalu ia melihat sebuah mobil melaju dengan kencang, Feby yakin kalau mobil itu akan mengebut di jalanan yang di genangi air itu.
Saat mobil itu mendekati genangan air, Feby langsung menarik badan Jovan untuk menghalangi tubuhnya agar tidak terkena cipratan air.
"AWASS!" Teriak Feby.
Jovan merasa terkejut karena Feby dengan tiba-tiba bersembunyi di belakangnya dan sedetik setelah keterkejutannya itu.
BYURR..
Sebuah genangan air itu menyiprat seluruh tubuh Jovan, pakaian yang di pakai Jovan hampir sepenuhnya basah.
"Untung saja gue gak kena." Ucap Feby mengusap dadanya.
Jovan menatap tajam Feby. Hari yang sial ini sudah terlalu lengkap karena tingkah Feby yang membuat darahnya naik.
"Ba..baju lo? Kenapa basah?" Tanya Feby pura-pura tidak tahu.
"Lo sengaja kan?" Tanya Jovan menatap Feby tajam.
"Iya bang jago, gue sengaja!" Batin Feby penuh kemenangan.
"Gak! Gue gak tahu." Jawab Feby berbohong.
"Pergi! Pergi sebelum gue hilang kendali." Ucap Jovan datar.
Feby tersenyum manis "Terimakasih berkat lo! Gue merasa bahagia karena udah bikin lo kesel." Ucap Feby.
"Terkadang kita harus membuat orang lain terluka untuk membuat kita bahagia." lanjut Feby, setelah itu ia pergi dari hadapan Jovan.
...setiap chapter pasti ada yang seru ada juga yang tidak jadi maapin kalo part ini garing👍...
...Kalo part nya seru? Komen...
...Kalo punya saran dan kritik? Komen...
...Kalo mau demo? Komen...
...Kalo mau mengusulkan cast? Komen...
...Kalo ada typo? Komen...
...SHIPPER VENUS MANA SUARANYA?...
...SHIPPER BENUA MANA SUARANYA?...
...SHIPPER JOVANKA MANA SUARANYA?...
...PENDUKUNG TRIO GEN MANA SUARANYA?...
...Ig. @destifahila...
__ADS_1
...D E S T I F A H I L A...