
...Hallo guysđź‘‹...
Di pikirkan Feby ia teringat kalau ia menyimpan sesuatu, tapi apa?
"Aneh padahal gue gak pernah nyimpen sesuatu deh di sini." Batin Feby.
Feby langsung bangkit dari rebahannya dan dia segera mencari-cari ke segala sudut, saat dia membuka laci meja belajarnya ia menemukan buku diary milik Feby.
Rasa penasaran Feby langsung sirna takala ia menemukan buku diary.
“Apa ini? Apa ingatan ini milik gue atau Feby? Kalau milik Feby.. berarti daebak!! Kenapa rasanya seperti ingatan gue?” Monolong Feby kaget.
Feby langsung membawa buku itu dan ia langsung duduk di kursi meja belajar.
Buku itu berjudul 'cerita harian milik Feby.'
"Alay banget si Feby. ” Gumam Feby terkekeh saat membaca judulnya.
Feby membuka lembaran ke satu dan disana tertulis 'hari ini adalah awal siksaan.'
“Serem bener si Feby! Emang lo di siksa apaan sih?" Gumam Feby bergidik ngeri.
Lalu ia membuka lembaran kedua, di sana tertulis 'aku membenci orangtua ku.'Â Feby langsung membaca isi ceritanya, ia berpikir kenapa Feby membenci orang tuanya tapi di buku itu Feby tidak menuliskan alasan kenapa dia membenci orangtuanya.
"Laknat lu Feby! Masa orang tua di benci?harusnya orang tua itu di sayang.” Gumam Feby kesal.
Awalnya ia ingin melanjutkan membaca tapi karena jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, jadi terpaksa ia harus melanjutkannya besok, ia menyimpan buku diary itu di tempat semula dan langsung ngibrit ke kasur.
“Jennie mau molor dulu." Ucapnya lalu membaringkan tubuhnya ke kasur.
••••
Karena semalam Feby tidur terlalu larut jadi paginya ia bangun kesiangan. Awalnya Feby ingin memakai motornya ke sekolah tapi karena gerbang pasti sudah di tutup dan Feby tidak bisa menyimpan motornya dengan aman, jadi Feby memutuskan akan naik kendaraan umum saja.
Beruntung pelajaran pertama adalah olahraga jadi ia tidak akan ketahuan kalau kesiangan.
Feby memakai seragam olahraganya, ia berlari menuju jalan utama yang banyak kendaraan, saat Feby berlari angkot sudah hampir berjalan, sontak Feby langsung ngegaspol kecepatan larinya, entah sekarang Feby beruntung atau sial hari ini, Feby tidak ketinggalan angkot tapi angkot yang ia tunggangi penuh dengan ibu-ibu, terpaksa Feby harus menjadi knek.
“BANDUNG, BANDUNG, BANDUNG, YEUH..BU BANDUNG BU?” Teriak Feby memperagakan seorang knek.
“Neng sekolah dimana?” Tanya ibu-ibu yang memakai banyak gelang emas.
“Sekolah di SMA Darmawangsa bu.” Jawab Feby sambil meneliti penampilan ibu itu.
"Tuh emas banyak banget kayak mau buka toko." Batin Feby julid.
“Kamu telat ya? Ini sudah jam delapan loh?” Ucap ibu-ibu tadi.
Feby tidak tahu harus menjawab apa, ia hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“I..iya." Jawab Feby pelan.
Setelah sampai di sekolah Feby langsung berlari ke belakang sekolah, ia tahu kalau gerbang depan pasti sudah di tutup. Feby langsung memanjat dinding dengan bantuan pohon mangga yang berada di sebelahnya.
Brukk..
Feby sudah mendarat di tanah, keringat sudah membasahi dahinya dan napasnya terengah-engah, saat ia hendak melangkah matanya tak sengaja memandang Venus yang sedang merokok.
“Kenapa gue harus bertemu dengan manusia tidak terpuji itu?” Gumam Feby sambil melihat Venus.
Venus langsung melihat ke arah Feby, lalu ia tersenyum miring, Feby langsung di buat tidak mengerti dengan perilaku Venus.
"Lihat bro! bahkan senyumannya aja tidak elok untuk di lihat!” Batin Feby menggerutu.
“Gue udah tahu lo akan lewat sini.” Ucap Venus lagi-lagi membuat Feby tidak mengerti.
“Emangnya kenapa?” Tanya Feby bingung.
“Gue harap lo gak kasih tau orang lain tentang yang kemarin lo lihat.” Ucap Venus dengan nada dinginnya.
Gaya bicara Venus mampu membuat Feby merasa tegang, ia memang tidak takut dengan Venus, tapi karena pria itu pemilik sekolah jadi Feby harus merendah agar tidak di keluarkan.
“Tenang aja gue gak akan beritahu orang lain kok, lagian kemarin gue gak lihat apapun.” Jawab Feby sigap.
“Dan gue harap lo masih ingat perkataan gue yang kemarin.” Ucapnya datar, setelahnya ia memalingkan wajahnya.
"Apa-apaan ini?" Batin Feby.
“Gue gak ingat apa yang kemarin lo bicarakan, emang lo bicara apa?” Ucap Feby pura-pura lupa.
__ADS_1
Namun Venus tidak menjawab perkataan Feby, ia malah asik menghembuskan asap rokoknya tanpa memperdulikan Feby yang masih berdiri.
"Beri kepastian dong! lo mau jawab atau kagak?" Batin Feby mengomel.
Feby masih berdiri menunggu jawaban Venus, tapi yang di tunggu malah asik dengan dunianya, sontak ia pun jadi malu sendiri. Karena tidak mau membuang waktu, Feby langsung berlari menuju kelasnya.
Kelas Feby sudah kosong karena anak-anak yang lainnya sudah berada di lapangaan, lantas Feby langsung berlari menuju lapangan, di sana sudah ada teman-teman sekelasnya.
Feby langsung berlari menuju barisan kelasnya, beruntung gurunya sedang tidak ada jadi Feby bisa dengan mudahnya untuk masuk barisan. Dengan napas ngos-ngosan, Feby kini sudah berada di dalam barisan meskipun paling belakang.
"Karin, sudah absen belum?” Tanya Feby kepada Karin yang berdiri di depannya.
“Belum, bapaknya belum datang, cuma tadi bapak suruh kita pemanasan dulu.” Jawab Karin pelan.
“Oh." Monolong Feby.
Tak lama kemudian pak Jaya datang sambil membawa bola basket.
"Jadi guru olahraganya pak Jaya toh? Emang bener ya di kalo guru olahraga itu pada sangar.” Batin Feby membicarakan pak Jaya.
“Sudah pemanasan semuanya?" Tanya pak Jaya.
“Sudah pak.” Jawab mereka serempak.
“Kamu belum pemanasan.” Ucap Karin kepada Feby.
“Badan gue udah panas.” Jawab Feby membuat Karin tertawa kecil.
“Eh Rin, nanti kalau ada waktu gue mau bicara sama lo.” Ucap Feby membuat Karin menjadi tegang. Feby merasa aneh dengan tingkah Karin yang menjadi tegang.
“Lo kenapa?” Tanya Feby bingung.
“T..tidak a..ada apa-apa kok.” Jawab Karin gugup.
“Gimana tentang yang gue bicarakan tadi, lo bisa gak?” Tanya Feby sekali lagi.
“I..iya bi..bisa kok.” Jawab Karin gelagapan.
“Lo kalo ngomong jangan gagap kek gitu, kayak Ajis gagap aja.” Ucap Feby membuat Karin tersenyum.
"Sebenarnya lo cantik sih, tapi kenapa dandanan nya cupu gini?” Batin Feby saat melihat wajah Karin yang sedang tersenyum.
•••
“SOLIHIN, SOLIHIN, SOLIHIN, SEMANGAT NANDA.” Teriak Feby dan Rifki meneriaki nama ayahnya Nanda yang sedang di tes melempar bola, semua orang tertawa mendengar teriakan Feby dan Rifki yang cukup menghibur.
Di tengah-tengah serunya mereka, segerombolan murid azab memasuki area lapangan, mereka tidak lain dan tidak bukan adalah Jovan dan teman-temannya sekelasnya.
“Bro para manuisa laknat memasuki lapangan.” Ucap Feby kepada Kania, teman sekelasnya yang sedang duduk di sampingnya.
“Lo jangan soiyem ya! Laknat dari mananya? Lo gak lihat si Venus yang ganteng nya minta ampun? ” Ucap Kania membuat Feby merasa mual sendiri.
“Ganteng kata lo? Di p..” Ucapan Feby terpotong karena pak Jaya sudah memanggil namanya.
“Feby!” Panggil pak Jaya membuat semua orang langsung heboh karena akhirnya giliran Feby, tidak sedikit di antara mereka yang menyuraki Feby, bukan surakan kebencian tapi suarakan dukungan.
Saking riuhnya mereka, sampai murid azab yang baru datang langsung penasaran.
"Ini ada apa? Kok rame banget?" Tanya Aldo kepada Venus.
“Gak tau." Jawab Venus acuh.
“WUUWW FEBY.” Teriak Sehan teman sekelas Feby.
"WIKWIWW."
“HERI, HERI, HERI, HERI” Teriak mereka serempak membuat pak Jaya dan Feby langsung tertawa.
“EH LO DAYAT JANGAN TERIAKIN BAPAK GUE YA! GUE LAPORIN NIH KE PAK JAYA.” Teriak Feby kepada sehan, dan hal itu membuat semua orang tertawa lagi.
"Gue tau lo sekarang sudah berubah, tapi lo masih pecundang di hadapan gue." Batin seseorang menatap tidak suka kepada Feby.
"Lo udah pernah merebut orang yang gue suka dan sekarang gue gak akan biarin lo ngambil lagi dari gue, mari kita lihat sejauh mana lo berubah." Batin seseorang dengan seringainya.
Ia tidak tahu kalau Feby hilang ingatan jadi ia menyangka kalau Feby tidak berani melawan padanya.
“Kalai bercanda jangan bawa-bawa orang tua gak baik!” Tegas pak Jaya membuat semua langsung menyalahi Feby dan Rifki.
“Feby tuh.”
__ADS_1
“Rifki yang pertama bilang."
"Si Feby dan si rifki biang keringatnya."
•••
Feby langsung melancarkan tes nya tapi saat mau melempar bolanya malah jatuh menggelinding ke arah wanita azab yaitu Chelsea, Faby langsung di buat tidak mood saat bolanya mengarah ke situ, Feby tidak mengambilnya melainkan meminta bola baru kepada pak Jaya.
“Bapak ada bola lagi?" Tanya Feby kepada pak Jaya.
“Feby pake yang ini.” Ujar Nanda sambil melemparkan bola kepada Feby, Feby pikir kalau Nanda melempar bola basket tapi nyatanya Nanda melempar bola kasti.
“Ya ampun.. Saudari lo dzolim banget.” Ucapnya setelah menerima bolanya, Nanda tertawa setelah mendengar perkataan Feby.
Setelah Feby mendapatkan bolanya, ia langsung melakukan tes nya, nilainya cukup bagus namun tidak sebagus Tania.
Setelah acara tes nya selesai kini mereka sudah di bebaskan tapi mereka tidak di izinkan kalau masuk kelas.
Feby sedang duduk santai di pinggir lapangan sambil membawa minuman dingin, di temani oleh Karin yang juga duduk di sampingnya, ini bukan kebetulan tapi Feby yang memaksa untuk berbicara sama Karin di pinggir lapangan.
“Gue mau nanya sesuatu tapi langsung ke inti ya?” Ucap Feby membuat Karin menoleh kepadanya.
“Nanya apa?" Tanya Karin penasaran.
“Ini cuma tanya ya, jangan di ambil hati..lo penyebab gue di bully ya?” Tanya Feby ragu.
Deg
Karin sekarang sangat takut jika Feby akan menyalahkannya atau marah-marah kepadanya, ia tahu kalau Feby di bully oleh Chelsea gara-gara menolong dirinya saat di kurung di kamar mandi.
“Ma..maf.” Ucap Karin sambil mengeluarkan air matanya.
“Maaf kenapa?...Kenapa lo menangis?” Tanya Feby takut karena Karin menangis.
Karin tidak langsung menjawab melainkan ia masih terisak dengan tangisannya.
“He..hei kenapa lo nangis? Tenang aja gue gak akan mar..” Ucapan Feby terpotong karena mendengar suara sinis dari seorang pria.
“Lo ganggu Karin lagi?” Tanya Jovan dengan nada sinis.
“Omong kosong apa yang lo ucapin?” Jawab Feby tidak santai.
“Enaknya, lo lagi ngomong kek gitu di tempeleng malaikat Izroil! ” Gerutu Feby kesal.
“Karin jelasin apa yang terjadi! Buktikan pada orang dzolim ini kalau gue nggak bersalah.” Ucap Feby kepada Karin.
Karin hanya diam seribu bahasa, mulutnya seakan di kunci oleh gembok gudang.
“Kari.n” Ucap Feby sekali lagi.
Jovan yang melihat itu hanya tersenyum sinis, ia benar-benar sudah mengetahui kalau Feby sedang mengancam Karin.
“Lo jangan ngancam Karin, gue udah tahu gimana sifat Karin.” Ucap Jovan seraya membawa Karin pergi.
Feby langsung di buat marah karena Jovan yang datang tidak di undang, dan Karin yang gagu.
“LO SEBENARNYA SUKA SAMA TANIA, CHELSEA ATAU KARIN, HERMAN GUE! LO SUKA SAMA TANIA TAPI NGEBELA CHELSEA, UDAH GITU LO NYELAMATIN KARIN, DASAR FAKBOY DZOLIM!” Teriak Feby lantang membuat semua orang mendengarnya termasuk Chelsea.
Kata-kata Feby sama dengan yang di pikirkan Chelsea, tanpa ragu Chelsea langsung berlari menghampiri Jovan yang menggenggam tangan Karin.
Dengan kasar ia langsung melepaskan tangan Jovan dan Karin.
“Sebenarnya lo suka gue, tania atau karin?” Ucap Chelsea seperti mau menangis.
Intinya Jovan membenci Feby, jadi ia memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengata-ngatai Feby, lewat membela Chelsea dan membantu Karin.
“Gue suka sama Tania.” Jawab Jovan membuat Chelsea merasa mendapat pukulan haram di hatinya.
“A..apa?” Tanya Chelsea tidak percaya.
"Sial!" Batin Jovan.
Feby hanya menonton cantik di pinggir lapangan sambil meminum minuman dinginnya.
“Damai sekali gue bisa membalas si bujang lapuk yang dzolim itu!" Gumam Feby seraya meninggalkan lapangan.
“Minggir gue mau pergi.” Ucapnya kepada orang-orang yang ada di sana, setelah itu ia pergi dari lapangan.
Tak kuasa menahan sakit, Chelsea langsung lari keluar dari lapangan sambil menangis. Venus dan yang lainnya langsung menyusul Jovan yang pergi dengan Karin.
__ADS_1
...Saran dan kritikđź’¬...
...Jangan lupa komenđź’¬...