
...Hallo🤗...
...HAPPYREADINGđź’ś...
...#fashback on...
Zolla duduk di sofa rumah Rena sambil menahan tangannya yang terluka agar tidak meneteskan lebih banyak darah, tak lama kemudian Rena menghampirinya dan meletakan p3k di atas meja. Rena pun mengobati tangan Zolla, Zolla meringis kesakitan saat alkohol itu mengenai tangannya.
"Awwws." Rengek Zolla.
“Anak muda? Apa ini sangat sakit?” Tanya Rena cemas.
“Bukan, aku anak mamah Farida sama papah Natan. Tidak sakit kok, ini hanya perih.” Jawab Zolla datar.
“Apa perih itu sama saja dengan sakit?” Tanya Rena memastikan kalau Zolla harus benar-benar nyaman saat lukanya di obati.
"Kenapa si ibu malah menanyakan hal yang mempersulit otak sih? Eh bentar sakit sama perih sama gak ya? Ahk! kenapa jadi kepikiran hal yang tidak bermutu sih?" Batin Zolla masih penasaran.
“Gak tahu, beda kali Bu, kalau sakit mungkin sesuatu rasa sakit yang besar? kalo perih sesuatu yang menyayat hati, mungkin? Gak apa-apa Bu ini tidak perih palingan sejam dua jam juga udah gak kerasa perih! hehe.” Jawab Zolla cengengesan.
"Saya ragu apa anak muda ini benar-benar terluka atau melukai dirinya sendiri hanya karena ingin di kasihani?" Batin Rena, tetapi saat mengingat kejadian bahwa Zolla terjatuh karena kesalahan dirinya, ia merasa bahwa itu adalah kecelakaan jadi tidak mungkin kalau Zolla sengaja melukai dirinya hanya karena ingin diberi uang.
“Halloo, ibu permisi ini udah beres belum ngobatinnya?” Tanya Zolla kepada Rena yang sedang melamun menatapnya.
Karena Zolla berbicara cukup kencang jadi Rena tersadar dari lamunannya dan kembali melanjutkan mengobati tangan zolla.
“Eh maaf, ibu sedang melamun jadi gak fokus.” Ucap Rena seraya meneruskan kegiatannya yaitu mengobati tangan Zolla.
“Gak papa Bu, ngomong-ngomong ibu sendiri?” Tanya Zolla seramah mungkin.
“Tidak, ibu berdua sama kamu disini.” Jawab Rena datar.
"Ehe jadi malu deh gue." Batin Zolla.
“Haha..bener juga ya Bu? tapi bukan itu maksud aku.” Jawab Zolla malu.
“Ibu tinggal sendiri, ibu hanya sebatang…” Tak sempat Rena menyelesaikan ucapannya Zolla langsung bernyanyi.
“Pohon daunya rimbun lebat bunganya serta buahnya, walaupun hidup seribu tahun kalau tak sembahyang apa gunanya.” Ucap Zolla setelah itu Zolla tertawa bahkan Bu Rena juga ikut tertawa.
“Ah maafkan aku Bu, aku terlalu baperan, maapkan aku.” Ucap Zolla langsung menyesali perbuatannya tetapi dalam hatinya ia mengutuk dirinya karena sudah bersikap tidak sopan kepada orang yang lebih tua.
“Tidak apa-apa itu cukup menghibur.” Jawab Rena tidak mempersalahkan kejadian barusan, karena ini juga pertama kalinya ia bisa tertawa setelah sekian lama ia bersemayam di dalam kesepian.
“Sudah beres, jangan terlalu banyak gerak nanti sakit.” Tegas Rena karena Zolla secara sengaja menggerakan tangannya seperti seorang petinju.
“Hehe iya Bu.” Jawab Zolla tersenyum, setelah itu Bu Rena pun pergi menyimpan kotak p3k.
__ADS_1
"Andai gue punya ibu kaya Bu Rena pengertian, penyayang dan yang terpenting bisa bercanda" Batin Zolla merenungi, tetapi sekelebat bayangan tiba tiba muncul
On-
“Mah ini gimana ngerjakannya? Susah banget dah.” Ucap Zolla kepada Farida.
“Apa susah-susah? Ini pelajaran gampang Zolla! jangan jadi orang bodoh! pertanyaan gampang gini kamu bikin susah.” Jawab Farida emosi.
“Kalo gampang aku juga gak akan nanya mamah.” Jawab Zolla tak kalah emosi
“Makannya jangan banyak bercanda, kalau ngerjain itu yang bener! lihat adik kamu walaupun dia masih sd dia gak pernah nanyain tugas ke orang tua, dia mandiri dia pintar.” Jawab Farida lebih emosi.
“ASTAGA NAGA! apa salahnya sih bertanya? Jangan samain pelajaran sma sama pelajaran SD dong! pelajaran sma banyak rumus dan teori, sedangkan pelajaran SD cuma CALISTUNG baca, nulis, ngitung. Kalau pelajaran SMA aku begitu? aku juga gak akan nanya ke mamah.” Timbal Zolla sedikit ngegas.
BRAKK
“TUH KAN MAMAH BILANG JANGAN BANYAK BERCANDA ZOLLA! BELAJAR YANG BENER MAMA GAK MAU ANAK BODOH.” Jawab Farida emosi seraya menggebrak meja belajar Zolla setelah itu ia pergi dari kamar zolla.
Setelah kejadian itu, Zolla mendadak cengo antara takut dan ingin ketawa
“Haha..eh astahfirullah!” Ucap Zolla langsung membuka bungkus waferÂ
Roma wafello, karena ia hampir saja menertawai ibunya.
Of_
Setelah memikirkan itu, Zolla bingung sendiri apa dia harus tertawa atau menangis dengan sikap orang tuanya. Tetapi ia tak ambil pusing dan segera bangkit dari duduknya, niatnya hanya ingin melihat-lihat sekeliling karena rumah ini terkesan sederhana, hanya cat putih polos yang menjadi pewarna selebihnya di hiasi lemari dan poto. Saat hendak memegang hiasan, Zolla di kejutan dengan Rani yang datang tiba-tiba.
“Iya aku terkejut karena ibu datang tiba-tiba jadi aku kaget.” Jawab Zolla malu dan segera duduk kembali di sofa.
“Ibu tinggal sendiri sudah berapa lama?” Tanya Zolla hati-hati dan di perjelas supaya Rena bisa mengerti ucapannya.
“Kurang lebih sudah 10 tahun.” Jawab Rena sambil menuangkan teh ke gelas.
“Silahkan di minum.” Ucap Rena kepada Zolla.
“Makasih Bu...mm kalau ibu sudah lama sendiri? berarti ibu sudah lama bekerja dong?” Tanya Zolla lagi.
“Ibu hanya kerja sebagai tukang jahit ya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari." Jawab Rena seadanya.
“Maaf aku tidak bermaksud menyinggung ibu.” Ucap Zolla merasa bersalah.
“Gak apa-apa ibu rasa kamu orang yang serius ketika suasananya serius?” Ucap Bu Rena membuat Zolla Bingung harus menjawab gimana.
“Mmm mungkin aku berkeperilakuan ganda.” Jawab Zolla ngasal membuat Rena tertawa.
“Badan kamu terlalu dewasa untuk ukuran kamu yang seperti anak kecil.” Ucap Rena setelah tertawa.
__ADS_1
"Pertama kalinya ada seseorang menyebut gue seperti anak kecil, gak seperti orang tua gue yang sering nyebut gue seorang lansia" batin Zolla.
“Ngomong-ngomong kamu sekolah di mana?” Tanya Rena penasaran.
“Aku sudah lulus bu, aku sekarang bekerja di cafe FriendZone.” Jawab Zolla.
“Bukannya itu cafe yang lagi terkenal? Bagaimana bisa kamu bekerja di sana?” Tanya Rena penasaran.
“Aku adalah pemiliknya.” Jawab Zolla ragu tetapi dia ingin sombong.
“Serius? Ibu tidak menyangka kamu yang seperti anak kecil ini bisa menjadi pemilik sebuah cafe yang besar, ternyata kamu seorang yang ambisius.” Ucap Rena penuh pujian.
"ini si ibu mengkeritik atau memuji?" tanya Zolla dalam hati
“Hehe makasih bu atas saran dan kritiknya.” jawab Zolla ramah.
“Ibu tidak mengkritik, tetapi ibu hanya sedikit memberi penjelasan tentang kamu.” Jawab Rena sambil meminum teh nya.
“Bu ini sudah malam saya pamit dulu takut mamah aku nyariin.” Ucap Zolla bangkit dari duduknya.
"mana mungkin mamah gue nyariin? palingan dia sedang asik sama keluarganya itu" batin zolla.
“Emm..sebelumnya aku ucapin terima kasih karena sudah menolong aku dengan mengobati luka aku, tetapi ini juga ada salah ibu sedikit hehe…sebagai tanda terima kasih karena telah menolongku dan ini..” Zolla menyerahkan kartu namanya kepada Rena dan Rena pun mengambil kartu tersebut.
“Siapa tau kalau ibu ada masalah bisa aku bantu sekali pun itu masalah tentang uang aku bisa bantu kok bu, dan aku juga mengajak ibu menjadi teman aku.” Ucap Zolla memandang Rena ramah.
“Terimakasih nak Zolla, hati-hati ini sudah malam apa gak sekalian nginap disini aja?” Tanya Rena khawatir karena ini sudah malam meskipun Zolla membawa mobil pribadi tetapi feeling Rena tidak baik.
“Terima kasih sudah menawari aku, tapi aku harus pulang malam ini karena besok aku akan bekerja, sekali lagi maaf dan terimakasih bu.” Ucap Zoll ramah dan berpamitan kepada Rena.
Dan semenjak itu Bu Rena sering menanyai kabar Zolla dan mereka semakin akrab sampai sekarang.
#flasback off
...setiap chapter pasti ada yang seru ada juga yang tidak jadi maapin kalo part ini garing👍...
...Kalo part nya seru? Komen...
...Kalo punya saran dan kritik? Komen...
...Kalo mau demo? Komen...
...Kalo mau mengusulkan cast? Komen...
...Kalo ada typo? Komen...
...Spam komen nya dongđź’śđź’¬...
__ADS_1
...Ig. @destifahila...
...D E S T I F A H I L A...