BACK YOUNG

BACK YOUNG
20. Konspirasi


__ADS_3

...Hallođź‘‹...


Sekarang Feby sudah dudu di kursi di temani oleh keluarganya, Feby masih memegang kain sebagai alat untuk mengompres matanya, Devin masih setia memandang Sasuke jadi-jadian yang berada di hadapannya, sedangkan kedua orang tuanya tidak pergi bekerja karena menghawatirkan keadaan Feby.


“Mata kamu kenapa bisa kayak gitu?” Tanya Gina cemas.


“Gak tahu Bu, kemarin ada seseorang yang melempar kertas dan alhasil kertas itu kena mata aku.” Jawab Feby terbawa perasaan.


“Siapa yang berani macam-macam sama anak bapak?” Tanya Heri menantang.


“Voldemot pak, udah ah gak usah di pikirin, tuh orang makin di usik makin nyantok, dia itu orangnya senggol bacok.” Jawab Feby menjelaskan.


“Kamu hari ini gak usah sekolah ya? biar ibu yang meminta izin kepada wali kelas.” Ucap Gina.


Feby mengangguk senang “Iya bu dengan senang hati.” Jawab Feby senang karena hari ini dia tidak sekolah.


“Feby, kami sangat menghawatirkanmu, bagaimana kalau kita kerumah sakit aja untuk memeriksa matamu?” Ucap Heri di setujui oleh Gina.


“Aku gak keberatan, tapi apa bapak punya uang untuk biaya rumah sakitnya?” Tanya Feby ragu.


“Gak usah pikirkan tentang uang, bapak punya kok.” Jawab Heri meyakinkan Feby.


“Devin lo punya kacamata gelap gak?” Tanya Feby kepada Devin.


“Gak punya, tapi kalau kacamata renang aku punya dua.” Jawab Devin membuat Feby cengo.


“Masa iya gue harus pake kacamata renang ke rumah sakit?” Gumam Feby tidak percaya.


“Bapak punya kacamata berwarna gelap.” Sahut Heri, ia beranjak mengambil kacamata tersebut, setelah mengambil kacamatanya lalu ia memberikan kepada Feby, Feby dan devin langsung tertawa saat menerima kacamatanya.


Bukannya Feby tidak menghargai pemberian bapaknya tapi kacamatanya yang tak sesuai ekspektasi, masa anak  muda di suruh pake kacamata ngelas?


“Masa iya aku di suruh pake kacamata ngelas? Aku mau kerumah sakit bukan mau benerin pagar.” Ujar Feby terkekeh.


“Kakak kece loh pake kacamata itu, kayak Batman.” Ucap Devin meledek.


“ketika Batman ganti profesi jadi tukang ngelas, this is prepectly.” Lanjut Devin seraya memakaikan kacamata itu kewajah Feby.


“Ente sangat laknat bagai quda! cepet berangkat sekolah lo!” Seru Feby sambil mencopot kacamatanya.


“Pak kacamatanya ada yang kece sedikit gak? Ya minimal mantes di pake gitu nggak kayak jamet.” Ujar Feby.


“Bapak gak punya kacamata selain itu Feb.” Jawab Heri sedih.


“Ibu punya gak?” Tanya Feby kepada Gina.


Gina menggeleng “Ibu juga tidak punya.” Jawab Gina.


“Yaudah deh karena sama-sama gak punya kacamata, aku gak akan pake.” Ujar Feby.


“Kapan kita berangkat ke rumah sakitnya?” Tanya Feby kepada kedua orangtuanya.


“Ibu mau beres-beres dulu, kalau semuanya udah beres kita berangkat.” Jawab Gina.


“Oh iya bu..” Jawab Feby.


...•••...


Sekarang Feby sudah berada rumah sakit di temani oleh kedua orang tuanya, ia sekarang sedang di periksa oleh dokter, dalam hati ia sangat takut jikalau matanya di haruskan memakai kacamata.


"Gue di sekolah aja udah kayak Najis Mutawassithah di tambah lagi kalau gue pake kacamata? Bisa-bisa mereka nyangka gue Najis Mughalladhah, Ribet banget ini hidup pusing banget kepala ana." Batin Feby merasa takut.


Setelah dokter selesai memeriksa mata Feby, Gina langsung bertanya kepada dokter.


“Bagimana keadaan mata anak saya dok?” Tanya Gina cemas.


Feby sudah di buat tegang dengan melihat wajah dokter itu, di tambah lagi dia harus siap mendengarkan jawaban dari dokter.


“Mata anak ibu tidak apa-apa hanya sakit mata biasa, jadi jangan terlalu cemas.” Jawab dokter membuat semua bernafas lega termasuk Feby.


"Terimakasih Tuhan engkau telah menyelamatkan hamba." Batin Feby dramatis.


“Syukurlah, saya kira mata Feby kenapa-napa.” Ujar Heri bahagia.


Kriiing..


Belum sempat dokter berucap, suara rington HP Heri berbunyi, membuat semua yang ada disana memandang Heri.


“Bentar saya angkat telpon dulu.” Ucap Heri seraya pergi menjauh dari hadapan mereka.


Setelah selesai berbicara di telpon Heri segera menghampiri Gina yang masih duduk di sebelah Feby.


“Mah, kata pak Iwan kita harus segera kesana, katanya ada masalah yang berkaitan dengan kita.” Ucap Heri gelisah.


Baik Feby ataupun Gina mereka semua di buat bingung dengan Heri, kenapa tiba-tiba ia harus pergi bekerja sedangkan tadi mereka sudah dapat izin cuti.


“Kok bisa gitu? Tadi bapak kan sudah minta cuti?” Tanya Gina tidak mengerti.


“Ada apa pak?” Tanya Feby penasaran.

__ADS_1


“Barusan pak Iwan menelpon katanya ada masalah terkait kita berdua.” Ujar Heri kepada Gina.


“Masalah apalagi ini? Bukankah setiap hari kita selalu dapat masalah? Apakah mereka tidak bisa membiarkan kami cuti sehari saja?” Seru Gina mulai jengah.


Feby masih tidak mengerti dengan keadaan sekarang, apa yang terjadi dengan orangtuanya?


"Feby lo kalau lo mau gue bantu, lo harus kasih ingatan sama gue jangan bikin gue terlantar di masalah lo yang kek TTS cak lontong!" Batin Zola menggerutu kesal.


Feby hanya mengetahui kalau orang tuanya sering di perlakukan tidak adil oleh atasannya tapi ia tidak mengetahui kesalahan apa yang orangtuanya perbuat.


“Fe..feby, apa kamu gak papa pulang sendiri?” Tanya Gina takut.


“Gak apa-apa kok Bu, ibu pergi aja kalau mau kerja, aku bisa pulang sendiri kok.” Jawab Feby canggung.


“Kamu tidak marah sama kami kan?” Tanya Heri ragu-ragu.


“Tentu saja tidak, kalian boleh pergi sekarang nanti atasan kalian akan marah kalau terlambat.” Jawab Feby.


...•••...


Kedatangan Benua ke kelas IPA4 membuat heboh seisi kelas dan kelas tetangga, saking hebohnya para kaum hawa yang ada di sana seperti kesurupan.


Dengan wajahnya yang cool dan penampilan yang terlihat badboy, ia berjalan menuju kelas IPA4, semua orang langsung panas dingin melihat damage Benua yang tidak berahlaqul Kharimah.


“Apa Feby ada disini?” Tanya Benua seakan itu adalah pelet bagi wanita.


Namun ada perasaan tidak suka saat Benua menyebut kata Feby, mereka pikir alasan Benua datang ke kelas  IPA4 adalah untuk bertemu Lauda tapi nyatanya itu tidak terjadi.


“Feby tidak sekolah.” Jawab Lauda sopan.


Lauda adalah seorang wanita yang di kenal dengan julukan peringkat kedua itu karena dari kelas satu sampai kelas tiga ia selalu mempertahankan peringkat keduanya, tetapi meskipun begitu ia juga di kenal sebagai orang yang sangat baik dan rendah hati, jadi siapa yang tidak tertarik dengan orang modelan Lauda?


“Apa? Kenapa dia tidak sekolah?” Tanya Benua terkejut.


“Wali kelas bilang kalau dia pergi kerumah sakit untuk di periksa mata.” Jawab Lauda masih sopan.


Saat mendengar kalau Feby sakit mata hanya satu orang yang Benua terpikirkan yaitu Jovan, mungkin karena kejadian kemarin mata Feby menjadi sakit.


“Kalau giru thanks ya.” Ucap Benua seraya tersenyum kepada Lauda.


Setelah mendapatkan jawaban dari Lauda, ia segera pergi dari sana dan berlari menuju basecamp tempat mereka berkumpul.


•••


“Jovan!” Ucap Benua dingin.


Mereka terkejut karena tiba-tiba Benua datang entah dari mana.


“Lo harus minta maaf sama Feby!” Ujar Benua seperti pemaksaan.


“Emangnya kenapa?” Tanya Reza penasaran.


“Iya, emangnya kenapa sampe Jovan harus minta maaf?” Tanya Aldo ikut nimbrung.


“Gara-gara kejadian kemarin, Feby sekarang tidak sekolah karena harus memeriksa matanya.” Jawab Benua membuat semua orang terkejut termasuk Venus.


“Apa sakit matanya parah?” Tanya Venus membuat Aldo dan Reza tidak percaya.


“Sejak kapan lo perhatian?” Tanya Reza menggoda.


“Apa sekarang obos sudah ehkm?" Goda Aldo.


“Jangan lupa kalau Jovan teman kita, jadi kalau Feby ada apa-apa yang akan di salahin bukan Jovan doang tapi kita juga akan terseret.” Bela Benua supaya mereka tidak menggoda Venus.


“Bener juga ya.” Ujar Aldo membenarkan perkataan Benua.


“Udah ah gak usah di pikirin mau dia mati juga gue gak peduli! Kalau ada apa-apa sama dia biar gue yang tanggung jawab kalian diam aja jangan ikut campur!” Ucap Jovan merasa risih.


“Kita temen lo! Udah sepantasnya kalau kita saling bantu!” Ucap Venus.


“Tapi yang ini beda, gue gak akan biarin kalian turun tangan hanya untuk masalah si mimik peri itu.” Jawab Jovan.


“Serah lo aja deh, tapi kalsu ada masalah sama si Feby lo yang harus tanggung jawab.” Ujar Aldo.


...•••...


Setelah itu akhirnya kedua orangtua Feby pergi ketempat mereka bekerja, sementara Feby, ia masih luntang-lantung mencari toko kacamata.


Ia berjalan menyusuri trotoar yang cukup ramai, matanya tak bisa berpaling melihat toko-toko yang berada di pinggir jalan hingga ia tak sengaja melihat toko handphone.


“Asiik gue bisa beli HP baru.” Gumam Feby senang, lalu ia berjalan ke toko itu tapi langkahnya terhenti karena mengingat sesuatu.


“Duitnya gak akan cukup.” Gumam Feby merasa sakit hati.


Karena ia telah menyadari kalau ia tidak punya cukup uang akhirnya ia memutuskan untuk membeli kacamata saja.


Feby kembali melanjutkan perjalanan saat berada di depan toko baju ia tak sengaja melihat Bu Rena, teman sejati yang sangat ia dambakan.


“BU RENAA?” Teriak Feby tidak percaya kalau dirinya bisa bertemu orang yang akan menjadi penyelamatnya.

__ADS_1


Semua orang yang ada di sana langsung melihat heran kearah Feby termasuk Rena, ia juga tidak mengira akan bertemu teman seperjuangannya di tempat yang tak terduga.


“ZOLLA?” Sahut Rena tak kalah kencang.


Mereka berdua berlari seolah melupakan masalah dan mereka berpelukan seperti seolah anak yang terlepas dari induknya.


“Bu Rena kenapa ada disini?” Tanya Feby.


“Ibu belanja baju untuk orangtua kamu.” Jawab Bu Rena membuat Feby merasa kagum.


“Bu Rena masih ingat dengan orangtua aku?”  Tanya Feby dramatis.


Rena di buat terkejut saat melihat mata kiri Feby yang merah.


“Mata kamu kenapa?” Tanya Rena penasaran.


“Nanti aku ceritain tapi jangan sekarang soalnya aku sekarang sangat butuh kacamata.” Rengek Feby.


“Kamu mau beli kacamata?” Tanya Rena.


“Iya aku mau beli kacamata mau nutupi mata aku yang kayak Sasuke.” Jawab Feby.


“Yaudah kita beli sekarang sekalian kita belanja.” Ucap Rena seraya membawa Feby ke mobil.


Feby tidak mengerti kenapa Rena membawanya ke sebuah mobil, bukankah tadi dirinya bilang ingin belanja? Lalu kenapa sekarang malah disuruh masuk mobil?


“Ini mobil siapa?” Tanya Feby penasaran.


“Bukannya kamu pernah bilang kalau kita ingin punya mobil? Nah sekarang Bu Rena sudah beli, ini adalah mobil kita.” Jawab Rena membuat Feby bahagia sekaligus bingung.


“I..ini mobil kita? Bu Rena beli pake uang sendiri? Harusnya ini milik Bu Rena dong” Ujar Feby.


“Ini memang pake uang Bu Rena tapi Bu Rena juga gak akan punya uang kalau bukan karena bantuan kamu dan Hani.” Ucap Rena.


“Jadi sekarang kita sudah punya mobil pribadi?” Ucap Rena membuat Feby sangat senang.


“AAA! Kita punya mobil? Trio gen? AMPUN DJ AKU SENANG BANGET.” Pekik Feby merasa senang.


“Ibu juga seneng akhirnya kita bisa jalan-jalan tanpa bayar ongkos.” Ujar Rena tak kalah senang.


Mereka berdua menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sekitar tetapi meskipun begitu mereka tidak peduli karena mereka sekarang sedang berbahagia.


Baik suasana hati ataupun pikiran, sekarang Feby sangat senang apalagi mengetahui kalau mereka sudah punya mobil, tapi ia pikirannya masih terfokus kepada pakaian yang di pakai oleh Bu Rena.


“Tapi kenapa Bu Rena berpakaian seperti ninja Hatori?” Tanya Feby sangat tidak tahu tempat.


“Kamu ngomong suka sompral! Ini tuh fashion ala song heekyo!” Jawab Rena.


Feby meneliti pakaian Rena dari atas sampai bawah, ia mengangguk-anggukan kepalanya tanda kalau ia suka dengan penampilannya.


"Tapi di lihat sekilas kayak pakean ninja Hatori." Batin Feby.


“Udah ah sekarang ayo kita pergi belanja.” Ucap Rena saat mengetahui kalau dirinya sedang di perhatikan oleh Feby.


Rena membawa Feby masuk kedalam mobil dan sekarang mereka sudah duduk di jok mobil.


“Bu ada sesuatu yang mau aku omongin.” Ucap Feby serius.


“Omongin apa?” Tanya Rena penasaran.


“Aku tidak tahu pasti tapi, aku berpikir kalau hidup Feby tidak tenang.” Jawab Feby melirik Rena.


“Tidak tenang gimana maksudnya?” Tanya Rena semakin penasaran.


“Ini aku berkata jujur ya, kemarin-kemarin aku menemukan buku diary milik Feby dan di dalam buku itu berisi ujaran kebencian.” Jawab Feby.


“Kayak komentar haters di Instagram maksudnya?” Tanya Rena.


“Iya seperti itu, aku juga heran kenapa Feby suka mengoleksi parfum beraroma kembang, mulai dari parfum kemang desa sampe parfum janda kembang pun ada, aku penasaran sama wanginya tuh parfum, apa wanginya kayak janda?” Ucap Feby membuat Rena diam seribu bahasa.


“Kamu lagi ngomongin parfum atau atau ngomongin masalah Feby?” Tanya Rena bingung.


“Hehe.. Ngomongin masalah sih tapi, iya itu tentang parfum juga menurutku masalah.” Jawab Feby menjadi malu sendiri.


“Oh iya kemarin juga ada seseorang yang menulis surat cinta dan surat itu di atas namakan oleh aku, padahal nyatanya aku tidak tahu apa-apa.” Lanjut Feby membuat Rena mengerem mendadak.


...See you next partđź‘‹...


...Kalo part nya garing? Komen ...


...Kalo part nya seru? Komen...


...Kalo punya saran dan kritik? Komen...


...Kalo mau demo? Komen...


...Kalo mau mengusulkan cast? Komen...


...Kalo ada typo? Komen...

__ADS_1


...[D E S T I F A H I L A]...


__ADS_2