BACK YOUNG

BACK YOUNG
22. mission x


__ADS_3

...Hallo🤗...


“Misi memberantas korupsi.” Jawab Feby.


“Apansih? Yang bener dong kak.” Ucap Hani merasa di bodohi.


“Misi memecahkan teka-teki tentang masalah Feby.” Jawa Rena.


“Ah bener juga, kak tadi aku lihat hasil ulangan Bu Tian di mading, aku kira kakak bakal dapat nilai tertinggi tapi kakak dapat nilai paling bawah, menurut akuu itu juga harus kakak selidiki.” Ucap Hani membuat Feby terkejut.


“APA? Aku dapat nilai paling bawah? Wahh gila! Terus yang dapet nilai tertinggi siapa?” Tanya Feby tidak terima.


“Yang dapat nilai tertinggi Lauda.” Jawab Hani membuat Feby heran.


“Lauda? Kok berasa gak asing ya?” Gumam Feby tapi masih bisa terdengar oleh mereka.


“Bentar deh! Aku bukannya sombong ya, tapi ini aku berkata jujur, aku itu orangnya pintar meskipun gak sepintar Albert Efisien jadi sangat gak memungkinkan kalau aku dapat nilai paling bawah, ya minimal aku dapat nilai paling tinggi meskipun kedua.” Ujar Feby tidak terima.


“Nice! Kita sudah dapatkan jawabannya.” Ucap Hani tiba-tiba membuat Feby dan Rena melempar pandang.


“Jawaban apaan cuy?” Tanya Feby bingung.


“Jawaban apa maksud kamu? Jawaban perasaan atau apalah gitu?” Tanya Rena juga sama-sama bingung.


“Kalian mau tahu kenapa kak Zolla barter nyawa dengan Feby? Itu karena kak Zolla harus memecahkan masalah kehidupan Feby." Jawab Hani merasa pintar.


“Ini menurut aku ya, jikalau si Feby ingin aku memecahkan masalahnya seharusnya sedari awal dia ngasih ingatan ke aku supaya aku bisa langsung memecahkan masalahnya, lah ini? Aku berasa tersesat di tengah-tengah waduk masalah Feby.” Ujar Feby membuat Hani dan Rena kembali bingung.


“Bener juga ya? Tapi menurut aku sih emang begitu.” Ucap Hani.


“Menurut ibu juga begitu.” Ucap Rena membenarkan perkataan Hani.


Feby tampak berpikir dengan perkataan kedua temannya barusan, ia juga tidak mengetahui apa perkataan Hani benar atau salah.


“Iya bener juga sih, tapi kalau misalkan begitu seharusnya Feby ngasih sedikit pencerahan kepada aku.” Ucap Feby.


“Bu Rena nanti tolong cari tahu tentang pak Natno, biar aku dan Hani yang akan mencari tahu tentang urusan sekolah.” Ucap Feby.


“Oke, kamu gak usah khawatir ibu akan cari tahu tentang Natno.” awab Rena.


“Aku nggak khawatir cuma kepo aja tentang pak Natno.” Sahut Feby.


...•••...


Sekarang mereka bertiga tengah duduk di sebuah cafe, entah Feby yang tertular dari mereka atau mereka yang tertular gaya Feby, hanya satu  dari mereka duduk dengan anggun, Feby duduk dengan mengangkat sebelah kakinya, Hani duduk sila di atas kursi sedangkan Rena ia duduk dengan manis di atas kursi.


Feby dan Hani sekarang sudah mempunyai HP baru.


“Ibu aku boleh minta tolong gak?” Tanya Feby ragu.


“Minta tolong apa?” Tanya Rena bingung.


“Ibu bisa buatin toko buat orang tua aku? Atau ibu beli gitu?” Tanya Feby.


“Oh itu, kamu jangan khawatirkan tentang itu, ibu akan mengurusnya nanti kalau sudah beres ibu akan kabari kamu.” Jawab Rena membuat Feby terkesima.


“Sungguh kamu memiliki hati yang suci seperti giok, dari salon mana anda merawat hati kamu sehingga hati kamu sangat glow up?” Batin Feby memuji.


“Terimakasih Bu..oh sebagai imbalannya ibu harus follow akun Instagram baru aku.” Ucap Feby ramah seraya menunjuk laman Instagramnya.


Rena tak terlalu mengerti dengan Instagram ia lebih mahir menggunakan Facebook, ia melihat nama Zolla disana tetapi fokusnya  tertuju saat mendengar getaran dari hp Feby, ia membaca tulisan Uzumaki Naruto mulai mengikuti anda.


Rena langsung melihat Feby “Lihat HP kamu.” Suruh Rena kepada Feby.


Feby langsung melihat hp nya sesuai perintah Rena, saat melihatnya ia langsung tertawa terbahak-bahak membuat Hani dan orang yang ada  disana memandang heran kerarah Feby.


“Uzumaki Naruto real mulai mengikuti anda!” Ucap Feby di sela-sela tawanya.

__ADS_1


“Mentang-mentang hari ini gue jadi cosplay Sasuke, Naruto langsung follow gue! Ngajak gelud kali ya?” Pekik Feby sambil memukul-mukul bahu Hani, tak kalah Hani juga ikutan ketawa karena mendengar Feby, sedangkan Rena? Ia tidak mengerti jadi ia hanya duduk anteng seraya melihat pemandangan dua orang yang sedang tertawa bersama.


“Jangan ketawa mulu nanti nangis! Cepetan makan makanannya nanti keburu dingin.” Ucap Rena memberhentikan aksi nekat kedua orang di hadapannya.


“Ah, aku minta maaf soalnya aku cemas karena sudah jadi buronan Naruto.” Ucap Feby menahan tawanya.


Rena memandang tajam, membuat kedua orang itu langsung menuruti perintahnya yaitu makan, mereka memaksakan makan walaupun mulut ingin tertawa.


“Hani? Bagaimana keadaan cafe?” Tanya Feby serius.


“Baik-baik saja kok cuma para pelayan disana selalu bertanya kemana perginya kak zolla, soalnya kak zolla sudah beberapa minggu tidak masuk.” Jawab Hani.


“Bu Rena kapan kita bisa pergi ke cafe? Aku juga membutuhkan sertifikat itu untuk membuktikan kepada keluarga aku.” Ucap Feby kepada Rena.


“Itu terserah kamu, kamu ingin sekarang boleh, kamu ingin besok juga boleh, ibu selalu on time jika kamu butuh bantuan.” Jawab Rena.


“Kalau gitu besok aja ya? Besok kan Minggu jadi kita bakal punya banyak waktu.” Ucap Feby.


"Hm." Jawab Rena seraya menyeruput minumannya.


...•••...


Lauda berlari menuju tempat ruang kerja kakeknya, ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi sekarang.


Tok..Tok..Tok.


“Masuk!” Ucap seseorang di dalam sana, dengan segera lauda membuka pintu itu dan menampilkan seorang pria yang sedang duduk manis di kursi kebesarannya.


“Apa yang terjadi di sekolah adalah perbuatan Kakek?” Tanya Lauda penasaran.


“Memangnya kenapa?” Bukannya menjawab pria itu malah balik bertanya.


“Kakek gak menyangka jika sekarang Feby lebih pintar.” Lanjutnya.


“Bener kan? Aku juga berpikir begitu, aku tidak menyangka jika Feby akan lebih pintar sekarang.” Timbal Lauda senang.


“Ada apa Kakek?” Tanya Lauda takut.


“KAMU BILANG ADA APA? KENAPA KAMU MASIH BODOH SEDANGKAN FEBY SEKARANG SUDAH BANYAK PENINGKATAN? KALAU KAMU TERUS SEPERTI INI BAGAIMANA KAMU BISA MASUK HARVARD HAH? BAGAIMANA? KAMU SEHARUSNYA BISA MENGALAHKAN FEBY! BUKANNYA LEBIH BODOH DARI FEBY!” Teriak pria itu marah.


Lauda menggigil ketakutan, ia kira kakeknya akan memujinya tapi sekarang apa yang ia dapat?


“Maafkan aku kek, aku akan belajar lebih giat lagi, maafkan aku.” Ucap Lauda seraya mengusap-usap tangannya.


“Apa maaf saja cukup? Lauda kamu harus ingat berkat siapa kamu masuk SMA Darmawangsa? Berkat Feby! Apa kamu tidak merasa iri dengan Feby? Ia mendapatkan semuanya, kepintaran dan kisah cintanya ia sudah dapatkan itu semua, tapi kenapa kamu belum mendapatkan satu pun dari itu?” Ucap pria itu memanas-manasi Lauda, tentu saja emosi Lauda terpancing ia merasakan hawa dendam sekarang berkat ucapan kakeknya.


“Tidak kakek! Aku lebih hebat dari Feby aku akan ambil semuanya dari Feby, aku akan masuk Harvard.” Ucap Lauda teguh.


Pria itu tersenyum penuh kemenangan “Ambilah semua yang bisa kau ambil! Ingat Kakek hanya meminta Harvard!” Ucap pria itu tajam.


“Obati lukamu dan segera pergi dari sini!” Titah pria itu menyuruh Lauda pergi.


Lauda langsung pergi dari ruangan laknat itu, sudah sangat cukup ia merasakan tekanan batin yang dialaminya setiap kali ia masuk kedalam ruangan itu.


...•••...


Hari sudah semakin gelap tetapi Feby masih berjalan seorang diri di trotoar, awalnya Bu Rena ingin mengantarkan Feby ke rumah sambil mengantarkan belanjaannya tetapi Feby menolak dengan alasan ingin membeli sesuatu, alhasil Rena hanya mengantarkan belanjaannya saja.


Haahh..


Feby menghela napas panjang karena bosan ingin segera sampai di rumah, ia habis membeli beberapa stock makanan di supermarket.


Feby mengeluarkan handphone barunya, ia membuka aplikasi kamera dan mengarahkan kameranya keawajah nya, saat ia hendak berpose satu umat manusia tiba-tiba muncul di layar hpnya, Feby sangat terkejut melihat itu, ia membalikan tubuhnya dan mendapati Benua yang sedang tersenyum.


“Gue kira penampakan, ternyata orong-orong toh yang kepoto!” Seru Feby kesal karena tidak jadi berpoto.


“Kenapa gak jadi poto?” Tanya Benua.

__ADS_1


“Udah gak mood.” Jawab Feby.


“Lo kenapa malem-malem disini? Bahaya tau apalagi lo cewek.” Tanya Benua.


“Ada apa ini? Kenapa ente perhatian?” Tanya Feby tersenyum jail.


“Gue gak perhatian cuma nyaranin!” Jawab Benua.


“Punten dong gue mau lewat berat nih belanjaannya.” Ucap Feby mengeode Benua.


Bukannya peka Benua malah menghindar membiarkan Feby lewat, lantas Feby mengendus kesal karena ia berpikir kalau Benua akan membawakan belanjaannya.


“Lo mau kemana?” Tanya Benua membuat Feby berhenti melangkah.


“Lo gak lihat gue udah bawa banyak bekal gini? Gue mau naik haji.” Jawab Feby setelah itu ia melanjutkan perjalanan.


“Lo mau nemenin gue gak?” Tanya Benua sekali lagi, membuat Feby berhenti melangkah lagi.


“Nemenin apaan? Nemenin umroh?” Tanya Feby penasaran.


“Temenin gue makan.” Jawab Benua.


“Kalo nemenin doang gak ah, gue gak mau soalnya gue bakal kegoda lihat makannya, tapi kalo lo traktir gue boleh lah di coba.” Ucap Feby membuat Benua tersenyum.


“Oke.” Jawab Benua singkat setelah itu berjalan beriringan dengan Feby tanpa berniat membawakan belanjaan Feby.


"Badan doang cungkring nyeli kek kecimpring." Batin Feby mencaci-maki Benua.


“Heran banget dah gue udah koseh-koseh gini bawa belanjaan, lah ini? Ia masih santuy berjalan tanpa memperdulikan gue?" Batin Feby menggerutu.


“Kita ke cafe Baekolooy aja, soalnya cafe itu menyajikan makanan kualitas tinggi.” Ucap Benua dengan mode on higienis nya.


“Gak! Lo ikut aja kemana gue nyari tempat makan!” Ucap Feby tidak ingin menuruti perkataan Benua.


“Emangnya kita mau ke cafe mana?” Tanya Benua penasaran.


“Gak ada cafe-cafean! Kita makan di pinggir jalan!” Jawab Feby membuat Benua melotot.


“Gak mau ah! Gue gak mau makan di sana.” Pekik Benua merasa jijik.


“Kalau lo gak mau, gue juga mau nemenin lo makan!” Ucap Feby sok-sokan nolak makanan.


“Kok gitu sih? Lo udah janji mau nemenin tadi, lo juga tahu kan kalau gue gak mau makan makanan yang gak hig..”


“Gue gak tahu! Makannya gue ajak makan lo di pinggir jalan.” Ucap Feby memotong perkataan Benua.


“Tapi kan makanan di pinggir jalan gak higi..”


“Sekali lagi lo ngomong makanan pinggir jalan gak higienis gue sambit lo pake tower!” Ancam Feby membuat Benua bungkam.


Feby sangat mengetahui orang-orang seperti Benua tidak pernah memakan makanan sembarangan tapi, mereka juga harus memiliki pengalaman tentang rasa makanan murah tapi nampol.


...See you next partđź‘‹...


...Kalo part nya garing? Komen ...


...Kalo part nya seru? Komen...


...Kalo punya saran dan kritik? Komen...


...Kalo mau demo? Komen...


...Kalo mau mengusulkan cast? Komen...


...Kalo ada typo? Komen...


...[D E S T I F A H I L A]...

__ADS_1


__ADS_2