BACK YOUNG

BACK YOUNG
52. Salah tingkah


__ADS_3

...HallošŸ¤—...


...Happy reading šŸ’œ...


Setelah terbebas dari Benua, kini Feby kembali di hadapkan dengan Jovan yang terus-terusan mengoceh untuk mengerjakan tugas dari pak Jaya. Bukannya Feby tidak mau, tapi percuma saja ada Jovan di sana karena ujung-ujungnya Feby yang ngerjain tugasnya sendirian.


"Ini giliran lo ******! Kemarin gue udah ngerjain empat halaman, sekarang giliran lo nanti kalau lo udah selesai baru giliran gue lagi!" Ucap Feby sangat kesal kepada Jovan seraya melemparkan buku tugas kepada Jovan.


Jovan menggeleng laknat sebagai jawaban "Ini tugas kita, jadi jangan ngerjain sendiri-sendiri." Ucap Jovan santai.


"Gue udah ngerjain cuma lo doang yang belum ngerjain." Ucap Feby menatap kesal Jovan.


Entah kenapa dengan Jovan sekarang, tapi sekarang ia benar-benar bingung antara gugup dan kesal kepada Feby.


"Lo kan anak beasiswa, jadi ajarin dulu gue cara ngerjainnya gim.." Ucapan Jovan terpotong saat ia melihat Feby menatapnya.


"Yah itu maksud gue." Ucap Jovan menjadi salah tingkah saat di tatap Feby.


"Gitu gimana?" Tanya Feby melihat bingung Jovan.


"YA ITU CA..CARA NGERJAIN NYA, LO NGERTI GAK SIH? BODOH LO?" Jawab Jovan berteriak, Feby semakin menatap bingung kepada Jovan.


"Kenapa lo berteriak? Gue kan gak lagi ngajak ribut?" Tanya Feby masih menatap Jovan.


Jovan langsung mendadak salah tingkah, ia tidak tahu harus apa sekarang. Entahlah Jovan sendiri juga bingung kenapa dirinya jadi seperti ini di hadapan Feby, saat bersama Tania dulu ia tidak pernah merasakan hal seperti ini tapi kenapa rasanya berbeda saat bersama Feby?


"Lo lihat ini!" Ucap Feby menunjukan buku tugas tepat di depan wajah Jovan.


"Lihat di atasnya, itu contoh soal lo tinggal ganti angkanya aja!" Lanjut Feby menjelaskan, setelah itu ia menampar wajah Jovan menggunakan buku tugas itu.


"Oh maaf, gue pikir tadi ada nyamuk di wajah lo." Ucap Feby tanpa merasa bersalah.


Rasa salting yang Jovan rasakan tadi mendadak hilang setelah Feby menamparnya, ia menatap tajam Feby tanpa berniat membalas perlakuannya ataupun membalas perkataannya.


Jovan tidak menghiraukan perkataan Feby, ia lebih memilih memainkan ponselnya daripada mengerjakan soal yang menurutnya sangat tidak bermanfaat.


"Tuh kan! Ini nih yang gue gak mau, lo itu terlalu kecanduan hp! Tadi lo maksa gue buat ngerjain tugas setelah gue turuti lo malah kayak bangsat gini!" Gerutu Feby kesal melihat Jovan yang terus-terusan bermain ponsel.


"Siapa?" Tanya Jovan masih fokus melihat ponselnya.


"Lo!" Jawab Feby tidak santai.


"Yang tanya?" Ucap Jovan mampu membuat Feby terdiam, Feby serasa di prank oleh Jovan.


"Serius loh, hari ini lo benar-benar ngeselin!"Ā  Ucap Feby mencoba menahan kesalnya.


"Bodo!" Jawab Jovan masih santai.


Feby benar-benar sudah kewalahan melihat sikap Jovan, Feby berharap cara terakhir ini bisa membuat Jovan sadar, Feby menyodorkan buku tugas yang berisi soal-soal matematika kepada Jovan, Jovan hanya melirik sekilas lalu setelah itu ia kembali lagi fokus kepada ponselnya.


"Sekali ini aja lo jangan buat darah gue naik! Kalau lo masih begini gue bakal pergi!" Ucap Feby berharap Jovan mendapatkan hidayah.


Jovan melirik Feby, Jovan meletakan ponselnya secara kasar setelah itu ia mengambil buku tugas yang tadi di berikan Feby. Akhirnya Feby merasa menang di babak ini, sembari menunggu Jovan mengerjakan soalnya, Feby ingin tidur dulu sebentar bahkan ia sudah hampir lima kali menguap.


...ļæ¼


...


*Ini hanya ilustrasi ya:) cast Feby bukan yang ini kok.


Haahh


Suara Feby menguap. Jovan melirik Feby yang sedang menguap setelah itu ia menutup hidungnya, Feby yang melihat itu, ia merasa heran kepada Jovan.

__ADS_1


"Kenapa lo?" Tanya Feby kepada Jovan yang sedang menutup hidungnya. Jovan hanya melirik sekilas lalu ia kembali melanjutkan acara mengerjakannya tanpa membalas pertanyaan Feby.


Feby menguap lagi karena hari ini ia benar-benar sangat ngantuk, Jovan langsung menutup hidungnya lagi.


"Lo jangan nguap di depan gue! Mulut lo bau azab!" Gerutu Jovan kepada Feby.


Haahh


Mendengar itu, Feby malah sengaja menguap di hadapan Jovan.


"Kenapa ke ganggu ya? Sama gue juga!" Ucap Feby di hadapan Jovan.


"Minggir sana lo! Jauh-jauh dari hadapan gue!" Ucap Jovan mendorong kepala Feby kebelakang.


Setelah itu Jovan kembali fokus mengerjakan soal matematikanya. Kalau tadi Jovan yang bermain ponsel, sekarang giliran Feby yang santai sembari bermain ponsel.


Jovan melirik Feby entah kenapa rasa salting nya kembali datang, Jovan benar-benar terganggu dengan rasa yang di alaminya sekarang.


"Gue gak ngerti soal aljabar lo aja yang ngerjain nya!" Ucap Jovan seraya Jovan menyodorkan tugasnya kepada Feby.


"Gue?" Tanya Feby memastikan.


"Iya, lo aja yang ngerja.."


"Jadi duta shampo lain?" Ucapan Jovan terpotong karena Feby langsung memotong pembicaraan dengan sangat santai dan mata masih fokus pada ponselnya.


Jovan melirik Feby, Jovan sangat kesal dengan jawaban Feby.


"Lo kalau begini terus gue aduin pak Jaya! Lo aja nih yang ngerjain nya! Gue lagi tanggung main game!" Ucap Jovan sekali lagi tapi kini ia berbicara dengan nada yang tidak santai.


Feby menatap Jovan sambil tersenyum manis, lalu ia menggeleng laknat seperti yang tadi Jovan lakukan. Satu hal yang bikin Jovan gagal fokus adalah melihat Feby tersenyum, ini adalah kali pertamanya ia melihat Feby tersenyum semanis itu.


Jovan memalingkan wajahnya, ia sudah kehabisan kosakata untuk meladeni Feby, sebenarnya Jovan sudah mengisi soal-soalnya tapi hanya ada satu soal lagi yang belum Jovan isi. Jovan tidak mau ngisi karena nanggung bermain game.


"Awas lo nanti kalau nanya bahasa Inggris sama gue!" Sinis Jovan karena sudah tidak tahan melihat Feby yang bisa di bilang laknat. Feby mengangguk sebagai jawabannya atas perkataan Jovan.


"Gunung Cikuray lagi cari tumbal lo mau daftar? Biar gue daftarin! Gratis kok gak di pungut biaya." Ucap Jovan melihat Feby tajam.


"Masa?" Tanya Feby santai.


"Lo mau gue cekik?" Tanya Jovan sangat kesal dengan Feby.


"Gak mau, gue maunya di kasih duit!" Jawab Feby masih terdengar santai.


Jovan melemparkan buku tugas itu kepada Feby, memang Jovan tidak sepintar Feby tapi Jovan memiliki bakat dalam bidang matematika, jika di awal Jovan terus bertanya kepada Feby tentang cara mengerjakannya itu karena ia merasa gugup dan tidak tahu lagi harus bicara apa.


"Udah selesai? Lo gak asal ngisi kan?" Tanya Feby terkejut saat melihat soal-soal matematika sudah terisi semua meskipun hanya ada satu soal lagi yang belum terisi.


"Jangan tanya gue!" Ketus Jovan seraya melanjutkan permainannya.


•••


Ternyata Jovan tidak main-main dengan ucapannya, ia tidak menjawab pertanyaan Feby dan juga tidak mau melihat soal bahasa Inggris.


Feby melirik Jovan yang sedang fokus bermain game, rasanya Feby ingin menangis karena tidak mengerti dengan bahasa Inggris.


"Kok tangan gue gatal ya?" Tanya Feby untuk menarik perhatian Jovan.


"Apa gue alergi bahasa Inggris?" Tanya Feby mengode Jovan, tetapi Jovan hanya melirik sekilas setelah itu ia kembali fokus kepada ponselnya.


"Van? Ini kata jamak nya apa?" Tanya Feby ragu kepada Jovan seraya menunjuk soalnya.


Jovan melirik julid Feby. Setelah itu ia tersenyum manis dan menggelengkan kepalanya persis seperti yang tadi Feby lakukan.

__ADS_1


"Culas lo!" Ucap Jovan kembali fokus pada ponselnya.


"Iya gue culas." Ucap Feby mengalah kepada Jovan.


"Jamak itu apa?" Tanya Feby sekali lagi berharap Jovan akan menjawabnya.


Jovan merebut paksa buku itu dan ia menunjukkan buku itu tepat di depan wajah Feby sama seperti yang Feby tadi lakukan kepadanya.


"JamakĀ adalah kata yang menunjukkan bahwa ada lebih dari satu orang, hewan, tempat atau ide. Saat lo ngomong tentang lebih dari satu hal, maka lo harus pake kata bendaĀ jamak!" Ucap Jovan tapi masih tidak bisa di proses oleh otak Feby.


"Jamak itu kata benda? Tapi setahu gue jamak itu adalah jamak qashar yang mengumpul.." Ucapan Feby terpotong karena Jovan menampar Feby menggunakan buku tugas itu.


"Terserah lo aja!" Ucap Jovan seraya melemparkan buku tugas itu kepada Feby.


"******! Alangkah baiknya jika kita bekerja sama mengerjakan tugas ini" Ucap Feby sudah pasrah.


"Haha! Dulu pernah pake shampo lain, tapi ketombe dan rontoknya balik lagi, jadi gue sih pake pantene aja." Ucap Jovan tidak nyambung dengan pertanyaan Feby.


Feby menatap Jovan dengan tatapan sedih, kesal, ngakak dan ingin menangis. Juju Feby sudah tidak bisa berkata-kata lagi, ia sudah kehilangan semua kosakata ataupun kalimat untuk membalas Jovan.


"Van!" Ucap Feby memelas.


"Ambil hikma.." Ucapan Jovan terpotong karena ia sudah tidak kuat melihat wajah Feby yang sudah seperti nahan berak, Jovan ingin tertawa tapi gengsi, jadi ia memalingkan wajahnya agar tidak melihat wajah Feby.


"Gini nih kalau gilanya udah masuk ke rongga pernapasan, susah sembuh!" Gerutu Feby berdecak.


"Van? Gue gak bisa bahasa Inggris!" Ucap Feby sekali lagi seraya menepuk pundak Jovan.


"Makanya lo jadi orang jangan culas!" Ucap Jovan menatap sinis Feby.


"Oke gua bakal culas lagi." Ucap Feby sudah mengakui kalau dirinya kalah, menurut Feby Jovan tidak bisa tertandingi apalagi kalau soal ngeselin, Jovan paling pro!


...TBC...


...setiap chapter pasti ada yang seru ada juga yang tidak jadi maapin kalo part ini garingšŸ‘...


...Kalo part nya seru? Komen...


...Kalo punya saran dan kritik? Komen...


...Kalo mau demo? Komen...


...Kalo mau mengusulkan cast? Komen...


...Kalo ada typo? Komen...


...MAU NGOMONG APA SAMA FEBY?...


...MAU NGOMONG APA SAMA VENUS?...


...MAU NGOMONG APA SAMA JOVAN?...


...MAU NGOMONG APA SAMA BENUA?...


...SHIPPER VENUS MANA SUARANYA?...


...SHIPPER BENUA MANA SUARANYA?...


...SHIPPER JOVANKA MANA SUARANYA?...


...PENDUKUNG TRIO GEN MANA SUARANYA?...


...Ig. @destifahila...

__ADS_1


__ADS_2