
T-tapi siapa kalian? apa yang kalian lakukan terhadap tuan Niko!."
"Jangan takut aku menantunya..."
"Menantunya? suami non Ghea? tapi kenapa anda tidak menghubungi polisi tuan!." Panik para pembantu.
"Jika ingin selamat kalian cukup patuh kepada kami, kami tidak akan menyakiti seorang wanita selama dia bisa diajak kerjasama!." Jawab salah satu pria berbaju hitam.
Para pembantu saling tatap, karena demi nyawa dan teringat keluarga di kampung halaman masing-masing, mereka mengikuti langkah para pria berbaju hitam yang membawanya ke suatu tempat.
DOR!!!
Niko berhasil menembak anak buah Alvan. "Siapa mereka ini!!!.."
Saat Niko mengintip ke arah luar jendela, ia terkejut mansionnya sudah terkepung banyak orang berbaju hitam dengan senjata lengkap.
"Tuan secepatnya kita harus ke ruang bawah tanah!." Saran Rony yang berusaha sembunyi di balik tiang. "Jumlah mereka sangat banyak sedangkan kita sedikit, alat pemanggil anak buah tuan yang lain di bawah!."
"Ulur waktu alihkan perhatian mereka jangan sampai lengah!." Tegas Niko.
"Keluarlah!! kami tidak akan membunuh jika kalian menyerahkan diri." Teriak salah satu pria berbaju hitam.
Hening beberapa saat..
Sesuai arahan anak buah Niko berlari ke arah ruang keluarga mengalihkan perhatian, kesempatan ini digunakan Niko ia membuka kunci pintu ruang bawah tanah yang Ghea putrinya sendiri tidak tahu ada tempat seperti itu di rumahnya.
__ADS_1
Niko dan anak buahnya yang lain langsung masuk ke dalam ruang bawah tanah.
DOR! DOR!! DOR!..
Merasa ditipu, para pria berbaju hitam menghujani pintu masuk ruang bawah tanah dengan senjata api. "Sial!!.."
Alvan melempar pisau belati ke arah anak buah Niko yang membuat tipuan, pisau itu mengenai lengan atasnya. "Akh!!! ssshh!...."
Saat anak buah Niko ingin mencabut pisau, salah satu anak buah Alvan menekan kuat hingga semakin menikam ke dalam daging. "Aaaarrgh!!!..."
"Kau rela seperti ini demi melindungi tuanmu yang biadab itu?." Pekik anak buah Alvan.
"Bunuh saja aku!..." Pintanya yang tak tahan dengan siksaan yang menyakitkan, darah sudah menghiasi lantai.
Alvan mengangkat dagu orang itu agar menatapnya. "Kau sudah berkeluarga mau mati begitu saja? katakan bagaimana membobol ruang bawah tanah Niko!!."
"Katakan! jika kau diam bukan kau saja yang mati tapi istri dan anakmu juga!." Ancam Alvan.
"Jangan! aku mohon aku saja.." Potongnya yang langsung bersimbah di depan Alvan, senyum putrinya yang baru 2 tahun mengisi benak si lelaki.
"Katakan!." Dingin Alvan penuh penekanan.
"B-baiklah.... Di halaman belakang sebelah kiri ada dinding terlemah yang bisa dirusak, lakukan saja di sana." Ucapnya sedikit terbata akan rasa sakit.
Anak buah Alvan menarik pisaunya. "Aaakkhh!."
__ADS_1
Lelaki itu diamankan untuk diberi obat, sementara Alvan langsung memberi kode untuk tindakan selanjutnya.
Di ruang bawah tanah.
Niko mengeluarkan kata-kata kasar saat mengetahui jika kebanyakan anak buahnya di luaran sana sudah tertangkap, tentu saja tidak bisa datang menolong.
"Aktifkan cctv kita lihat siapa yang mengutus mereka!." Suruh Niko.
Para anak buah yang tersisa melakukannya mengaktifkan seluruh cctv yang ada di mansion.
Niko menyipitkan mata saat melihat tayangan cctv tepat di atas ruang bawah tanah. "Wajah itu coba perbesar!."
"Baik."
Pistol yang dipegang Niko seketika terjatuh melihat wajah yang begitu ia kenal. "Alvan!!!."
"Alvan mana tuan?!!." Timpal yang lain.
Perasaan Niko tak menentu pikirannya kemana-mana dengan melihat Alvan di sana.
Alvan menoleh menatap ke arah cctv, cukup lama menatapnya Alvan menyunggingkan senyum tipis ke arah Niko.
Nafas Niko memburu menahan amarah, Alvan yang ia tahu baik ternyata menyimpan sesuatu yang tak ia sangka-sangka.
"Selamat datang dalam dendam ku, papa?..." Datar Alvan yang kemudian menembak cctv hingga hancur.
__ADS_1
PRANGGG!
"Aaaarrgh!!!!." Pekik Niko menendang tayangan cctv yang mati.