
Pagi hari
Dengan mata yang masih terpejam, Ghea meraba-raba handphone yang sedari tadi berdering terus. "Ya hallo?."
"Mbak Ghea sudah bangun?." Tanya dari seberang.
Ghea membuka mata melihat siapa yang menghubungi, rupanya itu Nisa asistennya di butik. "Katakan ada apa Nis?."
"Mba kita mendapat klien besar dari Jakarta pusat, mereka akan sampai ke butik sekitar jam 10 siang nanti." Lapornya.
"Iya nanti aku ke sana, persiapkan saja pertemuannya ya."
"Baik mbak."
Panggilan berakhir..
Ghea melemparkan handphonenya sembarang arah, kepalanya pening karena semalam meneguk beberapa botol wine.
Benaknya kembali teringat berita akhir-akhir ini, rumor hubungan Alvan dengan model cantik Karina. "Ck! hubungan apa ini? jika dia mencintai wanita lain kenapa belum menceraikan ku juga." Kesal Ghea.
Tatapan wanita cantik itu kosong. "Sudah sejak lama..." Lirihnya mengingat Alvan. "Ah i don't care!."
Ghea memilih bangun untuk membersihkan diri, setelahnya ia sarapan dan siap-siap berangkat ke butik. Inilah keseharian Ghea sibuk meluncurkan karya-karya.
Banyak perusahaan besar yang ingin merekrutnya, namun Ghea menolak ia ingin mengembangkan kualitasnya dengan mandiri.
Tak sedikit pria yang mendekati Ghea bahkan yang sudah beristri juga ada, namun bukan Ghea namanya kalau meladeni hal semacam itu.
Sesampainya di butik.
Seperti biasa para asisten Ghea sibuk menerima banyak customer memilih berbagai macam fashion, mereka menyapa pemilik butik itu dengan ramah. Begitu pun Ghea sebaliknya.
Ghea memasuki ruangan tempat ia bekerja. "Klien dari Jakarta pusat?."
"Iya mbak katanya model untuk peluncuran produk baru."
"Emmm." Jawab singkat Ghea. "Berapa lama lagi mereka sampai?."
Nisa melihat jam tangannya. "Sekitar 20 menit mbak."
"Oke."
__ADS_1
"Oh mbak ini dari mas Farel tadi pagi ke sini bareng mbak Sonya mampir." Nisa menyodorkan sebuah kotak.
"Farel?." Ghea menerima kotak itu, rupanya sebuah buket dan makanan ringan yang tampak menggiurkan.
Farel pengusaha tampan, ia menaruh hati sejak pertama bertemu dengan Ghea. Keduanya kini berteman baik. "Oh iya, nanti dimakan ya bareng yang lain Nis."
"Untuk kita mbak?."
"Iya, aku sedang menghindari makanan manis."
Nisa tersenyum. "Terimakasih."
"Sama-sama.."
20 menit berlalu...
Ghea mengobrol dengan beberapa customer, membahas ini dan itu.
Sementara di luar Nisa menyambut kedatangan klien besar dari Jakarta pusat. "Mbak Ghea sudah ada di dalam, mari masuk." Ramah Nisa.
Klien itu tersenyum mengikuti langkah Nisa masuk ke dalam butik.
Nisa menghampiri Ghea dan berbisik, Ghea mengangguk. "Bawa saja kemari Nis."
"Baik."
"Silahkan masuk." Ramah Nisa.
Seorang wanita cantik masuk ke dalam ruangan itu, gayanya benar-benar mewah dan nyentrik. Ghea berdiri menyambut ramah, namun tidak lama senyumnya tampak memudar.
"Hai..."
Ghea kembali mengembangkan senyum manis. "Hallo.."
Keduanya bersalaman.
"Saya rasa mbak sudah tahu saya siapa, jadi kedatangan kami ke sini khusus. Saya Karina.." Karin menatap lekat wajah cantik Ghea.
"Saya Ghea senang dapat kunjungan anda."
"Al?.." Karin celingak-celinguk mencari sesuatu.
__ADS_1
"Apa ada sesuatu?." Tanya Nisa.
"Pria yang bersama saya?."
Terdengar langkah kaki mendekati ruangan itu, masuklah pria tampan berjas hitam postur tubuh tinggi kekar ke dalam.
Bolpoin yang dipegang Ghea seketika terjatuh setelah melihat siapa yang datang, orang yang selama dua tahun ini ia hindari bahkan mungkin Ghea rindukan ada di sana. Alvan Ravindra.
Manik Ghea dan Alvan bertemu, cukup lama keduanya saling tatap. Mereka menyadari perubahan diri baik itu Alvan maupun Ghea.
Karin tersenyum langsung menggandeng tangan Alvan. "Kok lama Al?."
Alvan hanya diam.
Para asisten butik Ghea bisik-bisik. "Ya Tuhan tampan sekali, beruntungnya non Karin.."
"Jadi benar mereka memiliki hubungan?."
"Sepertinya."
"Tapi kok ekspresi tuan Alvan biasa saja?." Bisik yang lain.
"Ekhemm!!." Sengaja Ghea.
Para asisten itu seketika terdiam.
"Siapa sangka jika pria yang kalian bicarakan adalah suamiku." Batin Ghea jengah.
Ghea merubah raut wajah dengan senyuman. "Silahkan duduk."
Alvan digandeng Karin duduk begitu pun dengan Ghea yang berhadapan dengan mereka, tidak lama Nisa datang membawa jamuan. "Silahkan."
"Terimakasih.."
"Jadi apa yang bisa saya lakukan?." Mulai Ghea, sebisa mungkin ia menghindari tatapan mata Alvan yang dari tadi menatap lekat ke arahnya seolah mengintimidasi.
Karin memulai pembicaraan ia menginginkan fashion untuk pemotretan yang temanya menyatu dengan alam, di sini Ghea tampak tenang mengobrol baik dengan Karin. "Oke, Nis kau ukur dulu bagian tubuh Karin dengan detail."
"Baik."
Karin dibawa Nisa ke tempat pengukuran, sementara Ghea berdiri meninggalkan tempat itu ke ruangannya. Alvan memperhatikan rambut panjang indah Ghea tak sepanjang dulu. "Berani sekali dia memotongnya!."
__ADS_1
Alvan berdiri mengikuti langkah sang istri.