
Di ruang keluarga mereka semua kumpul mengobrol ini itu, apalagi Diana dan Ghea layaknya dunia hanya milik mereka berdua saja.
"Ghe, bagaimana kabar papamu?."
Pertanyaan yang dilontarkan Radit membuat seisi ruangan itu hening, semua mata tertuju ke arahnya.
Bagi Ghea ini sangat canggung. "Papa di sana baik pah, mau bagaimana pun juga ia harus menjalaninya sebagai tebusan dosa."
Tidak ada jawaban lagi dari Radit. Mama Diana dan Alvan saling tatap.
"Ah bagaimana dengan butikmu?." Diana sengaja mengalihkan topik pembicaraan, ia tak mau membuat perasaan Ghea tak nyaman membahas soal Niko.
"Semuanya sudah selesai, dan itu berkat Alvan ma."
"Oke good job!."
Mereka terus mengobrol menghabiskan waktu, hingga akhirnya harus pamit karena papa Radit ada urusan.
Alvan dan Ghea menyaksikan kepergian kedua orang tuanya hingga hilang dari pandangan.
"Aku harus ke perusahaan sayang." Ucap Alvan sambil merangkul Ghea masuk ke dalam rumah untuk siap-siap.
"Aku juga harus ke butik melihat-lihat sebelum membukanya."
"Padahal kau jangan ikut bekerja Alisiya apa uangku tak cukup?."
Keduanya sampai di kamar, Ghea langsung membantu Alvan ganti pakaian.
"Bukan tak cukup Al, merancang adalah hobi ku jadi kamu jangan melarang ya." Pinta Ghea dengan manja.
Alvan tersenyum. "Selagi membuatmu senang lakukanlah."
"Thanks you." Balas Ghea sambil mengenakan dasi pada Alvan.
"Your welcome baby."
Sebelum pergi wajah cantik Ghea dihujani ciuman di mana-mana.
__ADS_1
"Mmmmhhh!.. S-sudah." Rengeknya mencoba menjauh dari Alvan.
Alvan terkekeh. "Oke baiklah."
Setelah menyaksikan Alvan pergi, Ghea juga berangkat menuju butik baru yang akan dikelolanya tidak jauh dari rumah.
Saat sedang asyik melihat-lihat desain butik baru, Ghea mendapat pesan berupa alamat yang ternyata di kirim oleh Karin.
"Hotel A tempat party di halaman belakang dekat kolam."
Ghea sebenarnya jengah harus menghadiri party Karin, namun karena penasaran saja ia tak mungkin menolak. "Oke ikuti saja!."
.
Siang tergantikan dengan malam.
Ghea yang sudah bersiap-siap dapat kabar jika Alvan akan pulang sedikit terlambat karena ada meeting dengan klien penting.
Sudah dapat dipastikan Ghea akan pergi ke hotel Karin sendirian di temani bodyguard, dan Alvan sendiri nanti akan menyusul ke sana.
"Baik non."
Mobil pun melaju menuju alamat tujuan.
Sepanjang perjalanan Ghea mengobrol dengan Sonya.
"Gue datengin party Karin dulu."
"Ha?! mau ngapain Ghe?."
"Shuuuuutt hanya main-main saja kok."
"Haisshh yaudah terserah lo aja, tapi besok party Farel ada kan?."
"Of course."
"Oke."
__ADS_1
Panggilan berakhir.
Tidak lama bodyguard memarkirkan mobil di halaman depan hotel bintang 5 yang dimaksud. "Sudah sampai non."
"Oke." Ghea turun dari mobil.
"Jika ada apa-apa cepat hubungi saya."
"Tentu."
Bodyguard itu menyaksikan nyonya-nya pergi menuju halaman belakang hotel, ia tetap harus mengawasi penuh ketelitian.
Sesampainya di halaman belakang ternyata benar ada party namun yang katanya party hanya tiga orang Karin, Alvan dan juga Ghea, ternyata di sana banyak sekali orang yang sedang dansa mengikuti alunan musik dan minum-minum.
Ghea mengerutkan kening. "Tiga orang dari mananya Karin!?."
Mata Ghea mencari keberadaan Karin namun tidak ada hingga...
BRUKH!.
"Akh!.." Ghea terjatuh ke belakang saat bajunya terasa ditarik, bukan jatuh ke lantai melainkan ke tubuh seseorang yang sudah jatuh lebih dulu.
CKREKK!
Sebuah camera diam-diam berhasil mengambil gambar.
Ghea seketika langsung berdiri kembali, lelaki itu juga ikut bangun.
"Maaf ya kenapa menarik baju saya!?." Tegas Ghea.
Terlihat seorang lelaki lumayan tampan tersenyum, kelihatan dari penampilan jika ia seorang model. "Saya terpeleset jadi tak sengaja menarik bajumu untuk minta bantuan."
"Haish!." Kesal Ghea.
Karin dari lantai atas tersenyum licik dari kamarnya, ia langsung mengirim pesan kepada Alvan.
"Ghea sudah di hotel bersamaku di kamar nomor 13, cepat kemari Al kita party menikmati panjangnya malam."
__ADS_1