
Setelah berucap papa Radit memilih pergi meninggalkan ruang keluarga, tinggal menyisakan Diana dan Alvan di sana.
"Ada apa dengan papa ma? aku baru saja memulai hubungan baik dengan Ghea, aku takut jika nanti istriku tahu seolah-olah aku ini lelaki hina yang menyakiti hatinya." Lirih Alvan jengkel.
"Mama juga gak tahu Al dia seperti bukan papamu, tapi selagi ada mama kamu tenang saja. Papa kemungkinan seperti ini belum bisa berdamai dengan masalalu antara kita dan Niko." Balas Diana.
Alvan menghela nafas berat, jika mengenai dendam di masa lalu ia juga sangat berat untuk melupakannya. Namun karena tidak mau sesak pikiran akan hal itu Alvan memilih mengesampingkan berharap bisa memaafkan suatu waktu.
"Al?." Tanya Diana.
"Iya ma?."
"Jangan karena kamu tak mau bercerai dengan Ghea kamu berbohong jika hubungan kalian saat ini membaik. Katakan yang sebenarnya kepada mama, mama juga tak mau kamu terus mencintai Ghea jika Ghea tak membalas perasaan." Terus terang Diana.
"Kapan aku membuang-buang waktu untuk hal yang tak penting ma?."
Diana diam mencoba mencerna ucapan sang putra. "Jadi Ghea sekarang ada mansion?."
Alvan mengangguk.
"Kenapa tidak sekalian bawa? mama merindukannya. Dan bagaimana kalian bisa memulai hubungan baik itu?."
"Ghea membalas perasaanku, kami cukup lama mengobrol saat di Jakarta timur hingga pada akhirnya.....
__ADS_1
Diana mengerutkan kening. "Akhirnya apa Al?."
"Ya itu....
"Itu apa?."
"Ini urusan dewasa ma, sedikit malu jika dibicarakan kepada orang tua." Balas Alvan.
Diana langsung engeh peka dengan maksud putranya. "Apa kalian membuatkan mama cucu?."
Pipi Alvan merona ia bahkan menutupi wajah tampannya.
"Ah ya Tuhan sepertinya cucuku akan segera hadir dari rahim Ghea." Senang mama Diana. "Setelah pertemuan malam besok dengan keluarga Yasha, mama mau ketemu sama Ghea."
"Oke, mama sangat menanti kehadiran cucu. Bekerja keraslah."
"Jangan ragukan kemampuan putramu." Sengaja Alvan dengan sedikit kekehan.
Ibu dan anak itu tertawa, karena tak mau lama-lama meninggalkan Ghea Alvan langsung pamit untuk pulang ke rumah.
Diana menyaksikan mobil Alvan hingga hilang dari pandangan. "Mama belum pernah melihat kau sebahagia ini nak, semoga papa mau mengerti." Batinnya penuh harap.
.
__ADS_1
Mansion
Saat keluar dari kamar mandi Ghea mendengar suara mobil dari halaman memasuki bagasi. "Sudah pulang?." Tanyanya.
"Ini aku yang kelamaan mandi atau Alvan yang tidak lama di sana?." Ghea langsung mencari pakaian ke sana kemari.
Cklek...
Pintu dibuka masuklah Alvan ke dalam, Ghea berhenti mencari pakaian ia langsung mengembangkan senyum manis. "Sudah pulang?."
Alvan tak menjawab ia langsung melangkah mendekati Ghea. "Sedang mencari apa?."
"Barusan aku mandi karena tubuh terasa lengket terus mencari pakaian, taunya aku tidak bawa pakaian double jadinya mau minjam kemeja kamu."
Alvan tersenyum bukannya menjawab malah menatap lekat tubuh indah Ghea yang hanya dibungkus handuk sepaha.
Miliknya di bawah sana sudah bereaksi, lagi-lagi itu yang terjadi kepada Alvan jika berdekatan dengan Ghea apalagi melihatnya dengan bentuk seperti itu.
Ghea yang peka dengan tatapan Alvan hanya tersenyum sekilas. "Apa kau mau menagih adegan di kantor yang tertunda?."
Alvan menggigit bibir bawahnya, ia menarik tubuh Ghea ke dalam dekapan mencium setiap inci aroma tubuh Ghea yang membuatnya candu.
Dengan perlahan tangan kekar Alvan melepas ikatan handuk Ghea hingga jatuh ke lantai, terpampang lah penampakan indah menggiurkan yang membuat tubuh Alvan panas dingin. "Damn! this is very beautiful baby."
__ADS_1