
.......
1 bulan kemudian
Di sebuah rumah sakit besar....
Bersamaan dengan Ghea hilang kesadaran, suara isak tangis bayi mengisi seluruh ruangan itu dengan merdunya. Alvan meneteskan air mata saat buah hatinya telah lahir ke dunia, ia tak henti-henti mengecup kening dan tangan istrinya. "S-sayang???."
Bayi tampan yang begitu lucu lahir tanpa kekurangan sedikitpun, dokter langsung mengurusnya untuk dibersihkan sebelum diserahkan kepada Alvan. Rasa bahagia Alvan tak terpenuhi sepenuhnya saat melihat sang istri tak sadarkan diri. "Dok i-ini bagaimana? kenapa istriku? apa dia akan baik-baik saja?." Paniknya.
Dua dokter wanita di sana langsung menangani Ghea. "Tenang tuan kami akan mengurusnya, silahkan tuan ke ruang tunggu beserta keluarga yang lain biar non Ghea kami bawa untuk pemulihan, terlalu banyak tenaga yang ia keluarkan."
Alvan yang masih khawatir hanya bisa mengangguk. "Baiklah saya tunggu."
Ghea melahirkan dengan normal dengan ditemani Alvan. Setelah melepas baju perlengkapan rumah sakit, Alvan keluar menghampiri yang lain terlihat papa Radit dan mama Diana ada di sana, Sonya dan Elyn juga para bibi pembantu.
"Al??." Antusias mama Diana. "Bagaimana nak?."
Alvan mengembangkan senyum. "Putraku telah lahir ma, pa, namun istriku hilang kesadaran sekarang masih ditangani." Ucap Alvan yang langsung memeluk kedua orang tuanya itu.
__ADS_1
Semua yang ada di sana terharu ikut bahagia, rasanya ingin segera melihat buah hati Alvan dan Ghea yang masih di tangan dokter.
Sekitar 15 menit, pintu terbuka keluar Dokter Yunita sambil menggendong bayi tampan di tangan. "Tuan Alvan."
Dengan perasaan yang seolah tak percaya Alvan menghampiri dokter Yunita.
"Putramu, dia putramu." Ramah dokter Yunita sambil menyerahkannya kepada Alvan.
Dengan perlahan dan mata yang berkaca-kaca Alvan menggendong buah hatinya yang sekarang tampak tertidur pulas. "Putraku.." Lirihnya gemetar.
Papa Radit dan mama Diana mengeluarkan air mata karena terharu, mereka menghampiri Alvan menyentuh lembut sang cucu untuk pertama kalinya. "Ya Tuhan terimakasih atas kebahagiaan yang sangat tak ternilai ini."
Sonya dan Elyn ikut menangis melihat kebahagiaan sang sahabat.
"Mari, non Ghea sudah siuman." Balas dokter Yunita dengan ramah, mereka berjalan menuju kamar rawat inap VVIP.
Sesampainya di sana terlihat Ghea berbaring begitu lemah, matanya masih sayu menatap kedatangan keluarganya. Alvan langsung duduk di samping sang istri. "Sayang."
"Mas..." Balas Ghea perlahan tersenyum.
__ADS_1
"Lihat dia putra kita yang kau perjuangkan demi kehadirannya, kau hebat sayang saking banyaknya rasa terimakasih mas bingung mengungkapkannya bagaimana lagi." Ucap Alvan tak henti mengecup lembut kening Ghea.
Dengan dibantu mama Diana, Ghea bersandar sedikit menggunakan bantal. "Putraku..." Lirihnya mengambil sang buah hati dari gendongan Alvan.
Wajah yang begitu tampan, bulu mata lentik, kulit putih, bibir berwarna pink cerah membuat bayi itu begitu tampak sempurna sebagai ciptaan Tuhan.
"Dia sangat mirip denganmu sayang." Ucap Alvan.
Ghea tersenyum sambil perlahan mencium pipi gembul sang buah hati.
"Ghea nak, terimakasih banyak mungkin bisa dikatakan kebahagiaan papa lengkap sudah dengan hadirnya cucu. Katakan apapun mau mu akan papa kabulkan." Ucap papa Radit.
"Iya sayang." Timpal mama Diana.
Alvan dan Ghea saling tatap lalu keduanya tersenyum. "Iya ma, pa.."
"Apa kalian sudah menyiapkan nama untuk keponakan tampanku ini?." Ucap Sonya yang begitu penasaran.
Ghea terkekeh sekilas. "Suamiku sudah menyiapkannya dari jauh hari, resmikan sekarang mas."
__ADS_1
Alvan menatap lekat wajah tampan buah hatinya yang begitu lucu. "Kenzo Alluca Ravindra, ya putraku Kenzo."
Semuanya tersenyum ikut bahagia. "Ya, baby Kenzo!."