Belenggu Mr. Alvan!

Belenggu Mr. Alvan!
Episode 40


__ADS_3

"Silahkan masuk tuan Alvan di dalam.." Ramah Haikal.


Ghea melangkah masuk ke dalam ruangan CEO utama, pintu masuk Haikal tutup kembali. Ini pertama kalinya bagi Ghea berada di perusahaan besar milik Alvan.


Sambil melanjutkan langkah Ghea menatap sekeliling, dimana interior ruangan tersebut luas dan megah.


"Dimana dia?."


"Kau sudah datang?." Tanya Alvan keluar dari kamar pribadinya.


Ghea menoleh. "Hmmm.."


Saat Alvan hendak memeluk Ghea, Ghea seketika menghindar. "Mau apa?."


"Memelukmu, come on!." Alvan menarik tubuh Ghea memeluknya erat. "Bagaimana dengan minuman herbal yang ku beri? apa ngaruh pada tubuhmu?."


"Lumayan, daerah intiku membaik." Celetuk Ghea.


Alvan tersenyum. "Kau terus terang sekali."


"Kau yang mengajarkan."


"Sure."


"Al..." Lirih Ghea saat di bawah sana terasa milik Alvan bereaksi mengenai dirinya.


Wajah tampan Alvan merah, tubuhnya begitu tak terkontrol saat berdekatan dengan Ghea apalagi setelah kejadian malam itu. Hasratnya semakin membara.


Karena tak mau kebablasan Alvan melepas pelukan.


"Ada apa menyuruhku datang ke sini?."


"Karena aku tidak mungkin menceraikanmu, jadi tinggallah kembali di mansion."


"Itu tidak mungkin.."


Alvan mengerutkan kening. "Why? kau bersikukuh ingin bercerai denganku?."


"Bukan itu maksudku aku berhak donk punya pilihan, nanti jika tinggal di mansion-mu takutnya kau memperkosaku terus. Right?." Sengaja Ghea.


Alvan terkekeh sekilas. "Kau istriku Ghe, jika kau tinggal di rumahmu bagaimana hubungan kita ke depan jika satu atap saja tidak."

__ADS_1


"Aku punya pekerjaan."


"Mudah bagiku untuk memindahkannya ke sini."


"Jika aku masih tak mau?."


"Aku juga tetap kukuh."


"Haish! kau benar-benar.." Lirih Ghea.


"Hey listen! jika aku harus bicara kemungkinan setiap hari aku akan memperkosa istri canduk ku ini.." Ucap Alvan sambil mendekati Ghea, mencium sekilas bibir sexy itu dengan lembut.


Hawa tubuh Ghea mulai panas akan sentuhan Alvan. "Aku tetap akan pulang ke rumah."


"Bagaimana jika kau hamil?."


Ghea terdiam, saat mengingat kejadian malam itu Alvan tak pakai pengaman.


"Jangan menghindar, karena kau tidak bisa lepas dariku apalagi jika kau bersama dengan lelaki lain sangat tak sudi!."


"Suami yang sering bersama wanita lain apa berhak berucap seperti itu hmm!." Potong Ghea tak mau kalah.


Entah kenapa Ghea merasa senang saat Alvan menjawab seperti itu. "Aku takut Al...."


Alvan menatap intens wajah cantik Ghea. "Takut kenapa?."


"Ketakutan itu mungkin bisa dibilang sudah terjadi, aku takut jatuh hati kepada dirimu.."


"Mungkin ini sudah sejak lama tapi sepertinya aku juga mencintaimu, maka dari itu aku selalu mengumpatmu lagi dan lagi kau menang meluluhkan ego yang sudah ku bangun tinggi-tinggi." Lanjut Ghea.


Alvan terdiam matanya tak berkedip, apa yang didengarnya saat ini benar? Ghea membalas perasaannya. Jangan ditanya lagi rasa senangnya bagaimana.


"Ghe..."


Saat Alvan hendak mencium bibir sexy itu Ghea menahan bibirnya dengan telunjuk. "Apa?."


Bukannya menjawab Alvan malah mencium jari lentik Ghea, me*umatnya dengan lembut.


Ghea terkejut.


Tanpa menunggu persetujuan Ghea, Alvan langsung meraup bibir yang sudah jadi candunya. Mencium penuh kasih sayang.

__ADS_1


Ghea mulai terbiasa membuka sedikit bibirnya, lidah keduanya beradu dengan lihai.


Ciuman itu semakin memanas, Ghea mendorong dada bidang Alvan. "Aku kehabisan nafas.."


Alvan tersenyum sambil mengecup dagu Ghea. "Maaf aku tak bisa tahan."


"Benar-benar ya..."


Keduanya kembali bercumbu, tangan kekar Alvan tak tinggal diam ia menanggalkan kemeja putih Ghea memperlihatkan dada yang menggoda.


"Al... Mmmhh!..."


Tangannya bermain di sana penuh kelembutan terselubung hasrat.


Tok tok tok!


Ghea langsung mendorong tubuh kekar Alvan. "Ada orang."


"Damn!.."


"Siapa?." Tanya Alvan.


"Tuan ada pihak dari divisi keuangan yang ingin menyampaikan plan." Jawab Haikal.


"Ck!.." Kesal Alvan, ia langsung merapikan kemejanya yang diremas sang istri.


"Aku harus ke mana?." Panik Ghea sambil menutupi dadanya yang terekspos karena ulah Alvan.


Alvan membantu menutupi dada Ghea, ia membawa istrinya ke bawah meja tempat ia bekerja. "Di sini sayang..."


"Di sini!."


"Iya, waktunya tak cukup untuk mencari persembunyian lain."


Mau tak mau Ghea jongkok sembunyi di bawah meja kerja Alvan, sementara Alvan duduk berhadapan dengan Ghea di bawah. "Haikal suruh masuk!."


"Baik.."


Pintu terbuka masuklah pihak divisi keuangan, menyampaikan apa yang ingin disampaikan kepada sang atasan.


Wajah Ghea merah saat berhadapan tepat dengan se*angk*ngan Alvan yang begitu dekat. "Posisi macam apa ini?." Batinnya tersipu.

__ADS_1


__ADS_2