
Alvan menatap lekat wajah tampan buah hatinya yang begitu lucu. "Kenzo Alluca Ravindra, ya putraku Kenzo."
Semuanya tersenyum ikut bahagia. "Ya, baby Kenzo!."
Hari berikutnya...
Sahabat Ghea sudah kembali pulang, mama Diana dan Alvan sangat teliti membantu Ghea dan mengurus bayinya baby Kenzo, sementara papa Radit pulang pergi antar rumah sakit dan perusahaan karena ia ikut andil kembali saat Alvan sibuk mendampingi Ghea.
"Bagaimana keadaanmu Ghe?." Tanya mama Diana sambil membawa makan siang untuk mantunya.
"Aku mulai mendingan ma."
Ghea kembali menyerahkan baby Kenzo kepada Alvan setelah selesai menyusui, Alvan meletakkan putra tampannya itu ke atas tempat tidur karena Kenzo mulai terlelap. "Anak Daddy kau menggemaskan sekali nak."
"Ini makanlah biar mama suapin." Mama Diana dengan penuh perhatian membantu Ghea untuk makan, sebenarnya Ghea sendiri bisa namun mama Diana menolak.
"Selepas melahirkan pasti tubuh masih lemas-lemas nya, mama akan buatkan jenis apapun makanan asalkan menyehatkan." Lanjut Diana yang membuat Ghea dan Alvan tersenyum.
"Ma sejauh ini terimakasih sudah menerimaku di keluarga kalian."
"Shuuuuutt sayang, mama melakukan ini karena keinginan mama sendiri sekaligus menggantikan posisi ibumu. Dirawat oleh pembantu tak seperti oleh orang tua mama dapat merasakannya." Timpal Diana.
__ADS_1
Mata Ghea berkaca-kaca mengingat sang mama yang sudah lama pergi meninggalkannya ke pangkuan Tuhan, Alvan yang trenyuh langsung memeluk tubuh sang istri. "Sudah sayang ada mas dan yang lain, wajar jika kamu mengingatnya dan sedih."
Mama Diana mengalihkan pandangan matanya ikut berkaca-kaca mengingat keluarga Ghea, mamanya sudah lama meninggal, ia anak tunggal yang tak memiliki saudara, dan Niko papa yang ia miliki sekarang sedang menebus kesalahannya di jeruji besi.
Setelah puas menangis Ghea kembali tenang, mama Diana terus memeluknya berusaha meyakinkan jika Ghea tidak sendirian dikelilingi orang-orang baik dan sosok suami seperti Alvan.
"Mas bagaimana dengan papa?." Mulai Ghea.
"Sebentar lagi, sebentar lagi papa Niko sampai ke sini." Balas Alvan.
Ghea tersenyum senang. "Terimakasih mas."
Alvan mengecup kening Ghea. "Your welcome honey."
Alvan dan Ghea mengerti apa yang dikhawatirkan oleh mama Diana.
"Mama sebelumnya tidak tahu jika Niko akan dibawa ke sini, mama juga setuju jika Ghea harus bertemu dengan papanya. Tapi bagaimana jika Radit datang dan melihat, apa yang harus mama lakukan?." Ucap Diana.
"Aku butuh bantuan mama, mama tahu kan harus berbuat apa?." Timpal Alvan.
"Iya mama tahu Al tapi mau sampai kapan mereka berdua terus seperti itu? sudah hampir 3 tahun, rasanya mama ingin papamu dan papa Ghea berinteraksi layaknya besan pada umumnya. Dan mama rasa Ghea juga sama pasti menginginkan itu." Lanjut Diana.
__ADS_1
Alvan dan Ghea saling tatap mereka tak langsung menjawab, apa yang diucapkan mama Diana memang benar adanya.
"Untuk sekarang sepertinya jangan dulu ma, tapi lain kali akan ku usahakan." Alvan mengambil keputusan.
Mama Diana menghela nafas panjang. "Baiklah kalau begitu mama ikut saja, sekarang mama akan keluar jaga-jaga takut papamu datang."
Alvan mengangguk.
Sebelum pergi Diana mengelus lembut kepala Ghea. "Habiskan waktumu dengan Niko, mama paham apa yang kamu rasakan."
"Iya ma."
Diana pergi ke luar tinggal menyisakan Alvan, Ghea dan buah hati mereka.
Tidak lama sekitar 10 menit saat Alvan sedang memijit lembut tubuh Ghea, bodyguard mengetuk pintu lalu Alvan mempersilahkan.
"Papa non Ghea sudah datang, silahkan masuk tuan Niko." Ucapnya.
Niko masuk ke dalam dengan didampingi polisi yang selalu setia menjaga, Alvan dan Ghea tersenyum. Sang papa langsung berhambur memeluk tubuh putrinya. "Syukurlah jika semuanya lancar nak papa begitu khawatir."
"Iya pah."
__ADS_1
Mata Niko tertuju pada bayi tampan yang sedang tidur pulas. "Apa itu cucuku? ya Tuhan.." Pria paruh baya itu meneteskan air mata karena begitu terharu dan bahagia.