
"Kemari peluk aku jangan menjauh apalagi cuek, itu diluar kendaliku sayang." Manja Alvan setelah menerima maaf dari Ghea.
Bukannya menjawab atau memeluk Alvan, Ghea malah menjauh membatasi diri. "Lain kali saja ya Al." Setelah berucap Ghea masuk kamar mandi lalu menguncinya untuk membersihkan diri.
Alvan memijit pusing kening ia belum pernah merasakan resah hati seperti saat ini, ia mondar-mandir bingung dengan sikap Ghea. "Apa ada kesalahan lain lagi? kenapa istriku tampak menghindari kontak badan!."
Sekitar 25 menit...
Ghea keluar dari kamar mandi sambil mengacak-acak rambutnya yang basah, terlihat Alvan menatap tajam dengan posisi duduk masih belum juga mengganti setelan jas kantor.
Tatapan pria tampan itu begitu mengintimidasi, Ghea merasa diperhatikan tak tenang. "Ada apa? kenapa melihatku seperti itu? kenapa pula belum mengganti pakaian?."
Tidak ada jawaban dari Alvan. "Akan ku jawab setelah kau memelukku tidak menghindar seperti ini? jika masih ada kesalahan katakan."
"Tidak ada kesalahan lagi Al aku sudah memaafkanmu, ayolah sayang." Bujuk Ghea sengaja menyebutnya dengan panggilan sayang.
"Oke kalau begitu." Alvan berdiri menghampiri Ghea sambil merentangkan kedua tangannya.
__ADS_1
Lagi-lagi Ghea menghindar. "Eh mau apa?."
"Peluk sayang, kenapa kamu menghindar biasanya juga tidak seperti ini." Rengek Alvan.
"Kamu belum mandi, gih mandi dulu aromanya gak enak dicium!."
"Gak enak bagaimana wangi loh sayang!." Bantah Alvan sambil mengendus tubuhnya yang memang masih wangi.
"Gak! mandi dulu." Kukuh Ghea.
Alvan terdiam dengan raut wajah cemberut, Ghea istrinya terlihat ada yang aneh. Dengan jalan gontai Alvan memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. "Setelah mandi tidak ada bantahan aku ingin memelukmu."
Setelah mengeringkan rambut wanita itu memilih berjalan menuju ranjang, namun seketika langkah Ghea terhenti mengingat ucapan yang ia lontarkan barusan. "Tunggu, aku mual mencium aroma tubuh Alvan?."
Diam beberapa saat pikiran Ghea tertuju pada sesuatu. "Apa aku hamil?." Ghea menutup mulut walaupun belum tentu kebenarannya. "Besok akan ku periksa."
Dengan perasaan yang berdebar Ghea naik ke atas ranjang masuk ke dalam selimut perlahan mata indahnya tertutup menuju alam mimpi.
__ADS_1
10 menit berlalu...
Cklek
Pintu kamar mandi terbuka keluarlah Alvan yang hanya mengenakan handuk sepaha, ia mengeringkan rambut sambil berjalan ke arah sang istri.
Terlihat Ghea sudah tidur terlelap, Alvan sedikit kecewa karena belum mendapatkan pelukan hangat namun di lain sisi ia bahagia melihat wanita yang dicintainya tidur dengan raut wajah tersenyum.
"Apa kau mimpi indah?." Tanya lembut Alvan sambil mengelus kepala Ghea.
Setelah puas menatap wajah cantik sang istri, Alvan memilih ganti baju dengan baju tidur yang sudah disiapkan Ghea. Alvan ikut naik ke atas ranjang masuk ke dalam selimut memeluk tubuh Ghea dari belakang.
Bibirnya tak henti mengecup lembut leher belakang Ghea, bahkan Alvan meninggalkan bekas di sana karena tak tahan dengan aroma tubuh Ghea.
Tangan kekarnya perlahan masuk ke dalam baju tidur Ghea, semakin naik ke atas hingga....
"Mmmhh!..." Ghea menggeliat dengan mata yang masih terpejam.
__ADS_1
Alvan mengembangkan senyum tipis, di rasa Ghea sudah tenang kembali ia melanjutkan menyentuh dan me*emas area candunya yang begitu menggoda.
Tali penutup aset berharga Ghea sudah dilepas Alvan, ia benar-benar tidur dengan tangan yang nakal meraba setiap area favorit.