
Keesokan paginya..
Setelah melihat bantal sebelah kosong, Alvan yang selesai membersihkan diri menatap sekeliling kamar mencari keberadaan Ghea.
"Ck, kepalaku masih pening.." Lirihnya memegang kepala karena pengaruh alkohol.
Benak Alvan teringat adegan panas yang dilakukannya terhadap Ghea semalam, sudut bibir lelaki itu terangkat. "Aku mencumbunya sedikit memaksa."
Dalam waktu bersamaan..
Drrrrt drrrrt....
Alvan meraih handphone yang berdering ia menerima panggilan itu. "Katakan!.."
"Semuanya sudah siap, datanglah pukul 13:00 siang nanti." Lapor Haikal dari seberang.
"Hmmm.."
Panggilan pun berakhir.
Cklek!
Alvan menoleh ke belakang saat pintu kamar terbuka, Ghea masuk ke dalam berjalan menghampiri Alvan dengan raut wajah datar.
"Sebelum aku pergi, katakan dimana papa sekarang!."
Tatapan mata Alvan tertuju pada dua buah koper yang sudah siap dibawa. "Maksudmu?."
"Dendanmu mungkin hampir terbalas sekarang, aku sebagai orang yang tidak tahu masalah lebih lanjut antara kamu dan papa, berniat meninggalkan rumah ini dan tolong jangan kau halangi. Terakhir permintaan tolong ceraikan aku juga." Ujar Ghea.
Alvan terdiam raut wajah tampannya seketika berubah. "Setelah kita bercumbu tadi malam?.."
__ADS_1
Ghea menatap lekat manik Alvan yang seolah tak terima dengan ucapannya. "Bukan keinginanku, aku hanya menuntaskan sebagian hasratmu saja."
Alvan terkekeh sekilas. "Kau tahu aku mencintaimu bukan?."
"Entah benar atau tidak aku tak peduli, yang jelas aku sangat membencimu dan jika kau berharap aku tinggal di sini akan membuat jatuh cinta itu salah. Hidupku tak tentu tujuan setelah kejadian ini." Lirih Ghea.
"Mudah sekali kau bicara seperti itu!."
"Al tolong jangan membuat diriku tersiksa seperti ini, mari hidup dengan normal kembali setelah dendam usai. Aku tidak mungkin berdamai dengan orang yang hampir membunuh papa, dan kau tak mungkin mencintai anak dari pembunuh kakakmu sendiri."
"Kuharap kau mengerti..." Lanjut Ghea. "Sebelum mencari ketenangan aku ingin bertemu papa." Pintanya tegas.
Alvan menggertakan rahang. "Pergi saja kemana pun kau mau namun aku tidak akan pernah menceraikan-mu! untuk bertemu dengan Niko nanti Haikal akan membawamu bertemu dengannya."
"Ck kenapa kata talak sangat susah sekali keluar dari mulut lelaki ini!." Batin Ghea frustasi, namun ia tak peduli asalkan dirinya bebas dan bertemu sang papa.
"Oke terimakasih, jika kau tidak bisa menceraikan ku sekarang mungkin lain kali. Sampai jumpa.." Ghea meraih dua kopernya dan berlalu pergi dari mansion Alvan.
BUGH!!!
Tembok menjadi pelampiasan tangan kekar Alvan hingga berdarah, selama ini apa yang tak bisa ia dapatkan dengan mudah, tapi Gheanya?..
"Aaaarrgh!!.." Pekik Alvan, ia sangat sulit dengan situasi saat ini.
.
.
Haikal memberi jalan untuk Ghea menuju satu ruangan khusus. "Masuklah, papamu di dalam."
Tanpa berucap lagi Ghea masuk, untuk menuju tempat Niko lorongnya cukup gelap, hingga akhirnya Ghea sampai di tempat terang. "P-papa..." Ucapnya dengan bibir gemetar.
__ADS_1
Niko yang menelungkupkan wajahnya pada lutut seketika menengadah mendengar suara sang putri. "Ghea...."
Ghea berlari langsung menghambur ke arah Niko, Niko tak tahan jika tentang anak air matanya langsung turun. Dengan mata yang sudah berkaca-kaca Ghea melepas ikatan yang meringkus tangan sang papa.
Mereka berpelukan tanpa ada kalimat yang terucap, setelah puas Niko menghapus air mata Ghea.
"Aku membencimu pah!, tapi hidup tanpa papa juga Ghea tak bisa!." Ujar Ghea gemetar. "Kenapa harus seperti itu? pembunuhan bukan jalan terbaik."
"Papa salah seharusnya kamu terlahir bukan sebagai putri papa Ghe, entah bagaimana ke depannya papa sekarang akan menjalani hukuman yang dicantumkan Alvan. Entah itu hukuman mati atau apa, tapi Ghea sebagai putri papa harus kuat jangan memikirkan manusia biadab seperti papa ya."
Air mata Ghea kembali berlinang.
"Dan Alvan, sepertinya lelaki itu benar menyayangimu. Untuk menebus kejahatan papa harus menjalani hukuman yang ia inginkan." Lanjut Niko.
Ghea menggelengkan kepalanya berkali-kali, Niko yang tak berdaya hanya bisa memeluk putrinya yang rapuh.
Haikal terdiam melihat pemandangan ini, ada rasa tak tega dalam hatinya. "Jam 1 siang nanti kita akan ke pengadilan jadi persiapkan." Setelah berucap Haikal pergi.
Waktu tak Ghea sia-siakan ia ingin menghabiskan waktu itu dengan sang papa.
.
Pukul 13:00 siang.
Pengadilan
"Barangsiapa sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun." Ucap lantang hakim menjatuhkan hukuman terhadap Niko.
Ghea yang duduk di belakang hanya meremas kuat ujung bajunya.
"Tuan Alvan Ravindra beserta keluarga sebagai pihak yang sangat dirugikan dalam kasus ini, kalian bisa memilih hukuman yang pantas untuk tersangka Niko Alayrs, silahkan!." Lanjut hakim.
__ADS_1
"Penjara seumur hidup atau tindak pidana mati!."