Belenggu Mr. Alvan!

Belenggu Mr. Alvan!
Episode 23


__ADS_3

PLAK!!...


Sebuah tamparan keras berhasil mendarat di pipi mulus Alvan.


"Tuan!!.." Para lelaki berbaju hitam hendak meringkus Ghea.


"Berhenti!..." Perintah Alvan.


Alvan kembali menatap Ghea keduanya saling tatap dengan sorot amarah masing-masing. Alvan tersenyum semakin menyulut emosi pada diri Ghea.


"Ini tak sebanding dengan penderitaan ku, bahkan sampai detik ini aku masih tersiksa akan dampaknya Gheanya Alisiya..." Bisik Alvan.


"Kau mengambil alih perusahaan papa! bisnisnya! kekayaan! bahkan papa sekaligus hampir mati karena ulahmu sendiri. Apa itu tidak sakit bagi diriku yang hanya memiliki papa di dunia ini, Alvan!!!..."


Tidak ada jawaban dari Alvan, di dalam rumah yang terdapat bekas tembakan ia menyuruh anak buahnya untuk memperlihatkan sesuatu. "Lihat dengan mata kepalamu sendiri!..." Lirih Alvan kepada Ghea.


Orang-orang berbaju hitam melakukan tugasnya, tidak lama ada tayangan yang ditujukan pada dinding, memperlihatkan sebuah video tampak lawas sekitar 6 tahun yang lalu.


Tubuh Ghea panas dingin, jantungnya berdebar kencang saat menyaksikan video yang berlangsung. Jeritan dari video itu sangat memilukan.


"Pap.... Papa....."


Ghea melihat hal mengerikan yang tak pernah ia duga, Alvan muda yang diikat dengan tangisan, menyaksikan seorang tubuh yang bersimbah darah di depannya.


"Dia kakakku Andre..." Timpal Alvan.


Ghea melotot bahkan menutup mulutnya saat melihat sang papa membelah perut Andre mencari sesuatu, Ghea menggelengkan kepalanya berkali-kali.

__ADS_1


"Papa yang kau sayangi itu mencari USB bukti kejahatannya yang ditelan kakakku, mengobrak-abrik perutnya dengan pisau, memotong jarinya untuk sidik jari jejak kejahatan yang disimpan di tempat lain. Dan melakukannya di hadapanku.." Jelas Alvan dengan suara berat.


"Matikan!..." Suruh Alvan.


Seketika video itu menghilang.


Ghea lemas ia ambruk di lantai, papanya yang begitu penyayang lemah lembut melakukan tindakan kriminal yang begitu sadis. Bibir wanita itu tak berucap, tatapannya kosong menatap lantai.


Entah bagaimana perasaan Alvan muda saat itu.


Hening beberapa saat....


"Tetap saja aku akan membunuhmu, setelah kejadian ini entah bagaimana caraku untuk hidup kau telah menghancurkannya tanpa sisa..." Lirih Ghea matanya berlinang namun tanpa isak.


Alvan terdiam.


Alvan meraih wajah cantik Ghea, entah dorongan dari mana lelaki tampan itu memiringkan wajahnya, menyatukan bibirnya dengan bibir ranum Ghea, me*umat dengan agresif atas dan bawah bergantian.


Para bodyguard seketika balik badan melihat aksi tuannya.


Ghea melotot tak terima, ciuman pertamanya di ambil begitu saja tanpa rasa hanya ada amarah, juga kondisi seperti ini. Wanita itu mendorong dada bidang Alvan hingga ciuman terlepas, Ghea menyentuh bibirnya yang basah. "Aku benar-benar akan membunuhmu!!!...."


Lelaki tampan itu berdiri, Alvan tertawa terbahak-bahak. "Kau tidak bisa membunuhku sampai kapanpun, dan aku tidak akan pernah menceraikan mu Gheanya....."


"Jika aku tidak bisa membunuhmu maka bunuh lah aku!."


Tak ada jawaban dari Alvan ia hanya menatap lekat wajah cantik Ghea, kondisi Ghea sama persis dengan kondisi hati yang sedang dirasakannya.

__ADS_1


Alvan balik badan mengalihkan pandangan dari Ghea, ada apa dengan hatinya yang tiba-tiba merasa tak tega? bukankah Alvan Ravindra sosok yang tak berperasaan?.


Haikal peka dengan apa yang tuannya rasakan saat ini, lelaki tampan itu tak kuasa melihat wanita yang dicintainya tersakiti walaupun dengan ulahnya sendiri.


Ghea menggelengkan kepalanya berkali-kali saat melihat Niko diseret ke dalam mobil. "Papa!!.." Teriak Ghea. "Jika kau ingin membalaskan dendam maka bawa serta diriku aniaya bersama papa! aku tidak mungkin hidup bahagia setelah ini, bukankah kau akan puas??."


Anak buah Alvan memegang tubuh Ghea yang terus berontak.


Ingin menyalahkan Alvan tapi di sini papanya lah yang bersalah besar. Setelah kepergian sang mama mungkin kejadian hari ini juga hari terpahit bagi Gheanya.


Niko dibawa orang-orang Alvan entah kemana, Ghea sendiri lemas tak tahu harus berbuat apa.


"Bawa ke tempat yang sudah ku persiapkan, interogasi di sana aku menyusul!." Ujar Alvan pada Haikal.


Setelah mendapat perintah, Haikal dan anak buah yang lain berlalu menuju tempat tujuan selanjutnya.


Di ruangan itu hanya ada Alvan dan Ghea. Karena banyak mengeluarkan air mata juga emosi ditambah Ghea belum sarapan, tubuhnya terasa lemas. Benak Ghea masih terbayang aksi sadis penganiayaan Niko terhadap Andre Ravindra.


Tanpa berucap Alvan mengangkat tubuh lemah Ghea membawanya keluar dari mansion yang hampir hancur itu.


"Lepas!..." Lirih Ghea dengan suara yang masih gemetar. "Kenapa kau masih peduli denganku? tinggalkan aku di tempat ini biarkan mati tak berdaya."


"Cukup...." Hanya itu yang keluar dari bibir Alvan.


Alvan memasukkan istrinya ke dalam mobil, sebelum Alvan pindah posisi keduanya saling tatap. "Mau membunuhku bukan? jangan dengan kondisi lemah seperti ini. Setelah dendamku terbalas lakukan saja, aku akan tenang jika yang membunuhku orang yang kucintai sendiri."


"Aku tidak mungkin membunuhmu.." Lanjut Alvan sambil menyeka air mata Ghea.

__ADS_1


__ADS_2