
"Jadi bagaimana?." Tanya Alvan setelah menanggalkan kemeja memperlihatkan bentuk tubuh kekarnya yang dipenuhi roti sobek.
"Bagaimana apanya?." Balik Tanya Ghea sambil mengangkat alis.
"Kamu sudah mengambil keputusan untuk hubungan kita ke depan, jadi kamu juga harus kembali tinggal di sini bersamaku." Lanjut Alvan tangannya melingkar pada perut rata Ghea.
Ghea melingkarkan tangannya pada leher Alvan, mereka saling tatap cukup lama. "Di sana ada bi Lusi, Nisa juga yang lain tidak mungkin aku tinggalkan."
"Aku akan memindahkan mereka ke sini biarkan bi Lusi menjadi bagian mansion ini juga, dan butik kamu tentu jangan khawatir sayang."
Ghea tersenyum kikuk. "Masih terdengar aneh saat kau memanggilku sayang Al."
"Ini harus dibiasakan mulai sekarang!." Tegasnya.
Entah kenapa bagi Ghea ini lucu namun menggelikan, karena belum terbiasa.
"Hey listen! thanks sudah membalas perasaan ini dan mau menjadi bagian dalam hidupku, tetap di sampingku dalam keadaan apapun. Aku menggantikan papamu untuk menjagamu." Ujar tulus Alvan menempelkan keningnya pada Ghea.
"Ini gila tapi aku tak menyangka jika suamiku itu kamu Al." Balas Ghea.
Alvan tersenyum ia menyentuh bibir ranum Ghea, dengan perlahan Alvan memiringkan wajahnya.
Ciuman menggairahkan kembali terjadi di antara mereka, lidah Alvan menuntun Ghea untuk berbuat lebih. Keduanya sama-sama menikmati setiap inci, menyesap dan me*umatnya penuh agresif.
Alvan melepas ciuman, keduanya saling tatap dengan nafas yang masih terengah-engah. "Jangan menggigit bibirku, mau ku tendang?." Tukas Ghea menyentuh bibir bawahnya.
__ADS_1
CUP!
"Sorry aku hanya tak tahan." Balas Alvan setelah mengecupnya.
"Bibirku bukan lollipop Al!." Gerutu Ghea.
"Salahkan diri sendiri saja yang candu." Alvan tak mau kalah, namun ia mengelus lembut bekas gigitan itu. "Nanti hilang ya, maaf kebablasan."
Ghea cemberut saja karena kesal. "Haisshh.."
Alvan senang membuat istrinya kesal, wajah cantik itu semakin cantik saat marah.
Untuk menghindari tatapan mata yang ingin memakannya, Ghea memilih pergi menuju balkon menghirup udara segar di sana.
"Siapa Karin bagi papamu Al?."
"Emmm." Jawab singkat Ghea.
"Jangan berpikir kemana-mana, aku tak mau kamu memikirkan hal yang tak penting."
Ghea tak langsung menjawab namun sepertinya ia akan begitu juga.
Saat Ghea menoleh ia bertanya-tanya dengan penampilan Alvan yang sudah rapi. "Mau kemana?."
"Papa menyuruhku untuk ke rumah utama sekarang, sebenarnya aku malas ingin menghabiskan waktu denganmu." Ucap Alvan mengelus wajah cantik Ghea.
__ADS_1
"Jangan kemana-mana! makan malam setelah itu istirahatlah nanti aku pulang."
"Hmmm of course.."
Sebelum pergi Alvan menghujani wajah cantik Ghea dengan ciuman di mana-mana, ia sendiri bingung bisa semanja dan se-bucin itu saat bersama orang yang dicintai. Kemana jiwanya yang tegas dan menyeramkan itu pergi?.
.
Rumah utama
"Tuan Alvan sudah tiba." Ucap penjaga yang ada di ruang keluarga.
Diana dan Radit berdiri dari duduknya, benar saja tidak lama Alvan masuk ke dalam memeluk mereka berdua.
Setelah selesai semua duduk di kursi.
"Wajahmu tampak berseri Al?." Tanya Diana.
"Ada kabar yang belum ku sampaikan kepada kalian." Balas Alvan.
"Sebelum itu izinkan papa bicara dulu kepadamu Alvan." Timpal Radit.
"Katakan pah."
"Apa Haikal sudah memberitahu apa yang papa sampaikan waktu itu?."
__ADS_1
"Sudah, dan aku tidak mungkin menceraikan Ghea!."
Radit terdiam ia menyodorkan surat cerai pada putra satu-satunya itu. "Sayangnya surat cerai kalian sudah papa urus, dan kau akan papa jodohkan dengan Karin putri sahabat papa Yasha."