
"Biar aku saja yang jawab ma, niatnya kami ke sini ingin menyampaikan kabar bahagia namun malah mendapat gangguan menjijikkan, siapa lagi pengirimnya kalau bukan Karin!." Alvan menceritakan semua yang terjadi saat Ghea dan dirinya dijebak waktu party di hotel.
Tanpa mereka semua sadari, papa Radit mendengar pembicaraan.
"Sepertinya papa tahu hal ini kan? dimana papa sekarang ma?." Langsung Alvan yang sangat jengah memperpanjang masalah.
"Biar mama panggilkan..." Saat mama Diana hendak pergi dari arah berlawanan papa Radit datang, melihat itu Diana duduk kembali. "Pah."
Ghea berdiri langsung menghampiri memberi salam, Alvan mengikuti di belakang. Dengan raut wajah yang masih datar Radit membalas uluran salam mantu dan anaknya itu.
Mereka kembali duduk entah kenapa suasananya sekarang beda dengan hadirnya Radit menjadi tegang, Alvan tak lepas menggenggam lengan istrinya berusaha menenangkan jika tidak akan terjadi apa-apa.
"Apa papa melihat foto Ghea dengan pria itu?." Tanya langsung Alvan.
"Tidak perlu ditanya lagi papa melihatnya." Balas Radit.
__ADS_1
Ghea menggigit bibir bawahnya karena takut dirinya di cap kotor apalagi ia juga terlibat konflik dendam di masa lalu antara papanya dengan papa mertua. "Pah aku akan meluruskan akan kesalahpahaman ini." Ujar Ghea berani.
Radit menatap lekat wajah mantunya. "Aku sudah mendengar apa yang kalian obrolkan jadi tak usah." Balas Radit yang ternyata juga mendapat kebenarannya dari Rama.
Mama Diana tersenyum senang walaupun jika dirasa tidak mungkin suaminya cepat luluh. "Sudah mama bilang apa, tapi papa secepat ini percaya tumben?." Sengaja mama Diana memancing.
"Rama juga tiba dan langsung memberikan bukti, pengirim pesan ini benar dari Karin papa sudah menyuruh orang untuk membawa wanita itu ke sini selebihnya silahkan mama urus." Ucap papa Radit.
"Oke anak itu biar mama interogasi."
"Ghea...." Ucap papa Radit. "Sulit sebenernya menerima kamu menjadi salah satu bagian dari keluargaku, kau mungkin sudah tahu apa alasan papa bersikap seperti ini tidak lebih dari konflik dendam di masa lalu."
"Namun di samping itu papa mengesampingkan ego demi Alvan, perlahan menerima dan melupakannya walaupun jika melihatmu ingatan itu kembali tersirat. Ghea, papa hanya ingin kamu benar-benar tulus mencintai putra papa tidak terbesit dendam karena Alvan yang menjebloskan Niko ke jeruji besi." Lanjut Radit.
Ghea paham apa yang dimaksud papa Radit, ia tersenyum ramah kepada papa mertuanya itu. "Papaku Niko memang pantas pah untuk hukuman ini walaupun tentunya berat bagiku yang hanya memiliki dia, tapi di satu sisi aku juga tidak bisa menyalahkan Alvan maupun kalian."
__ADS_1
"Semuanya telah usai dan biarkan mengalir dengan baik, tentang perasaanku kepada Alvan papa dan mama jangan meragukan itu tentu saja aku tulus akan terus mencintainya sebagaimana ia melakukan itu kepadaku." Lanjut Ghea.
Alvan tersenyum pipinya merona ia mengecup punggung Ghea. "Thanks you honey."
"Jangan menciumku di hadapan mereka malu." Bisik Ghea dengan pipi merona.
Radit dan Diana mengembangkan senyum tipis melihat itu. "Katanya ada sesuatu yang ingin kalian sampaikan kepada kami, apa itu?." Tanya mama Diana.
Ghea dan Alvan saling tatap, Ghea mengeluarkan kotak kecil menyerahkannya kepada mama Diana papa Radit tak mau kalah ingin melihat. "Apa ini? apa ada surprise sekecil ini?."
"Buka dulu saja ma, pah." Ucap Alvan.
Mama Diana membuka kotak itu dan mengambil isinya. "G-Ghea hamil????.."
Ghea tersenyum sementara Alvan mengelus perutnya yang masih rata. "Iya ma, pah Ghea sekarang sedang mengandung cucu kalian."
__ADS_1