
Elyn dan Sonya tadi sore sudah pulang karena ada kepentingan mendadak.
Malam pukul 17:37..
Ghea menghubungi Haikal sekretaris Alvan, hanya lewat orang itu ia bisa mengetahui kondisi papanya bagaimana. Tapi lagi dan lagi Haikal tidak bisa dihubungi entah kemana.
Walaupun sang papa pelaku tindak kriminal, tapi Ghea harus tahu apa yang terjadi padanya saat ini.
Tok tok tok!
Ghea langsung berlari kecil saat pintu kamar diketuk.
Cklek...
Ghea terdiam melihat siapa yang datang, Haikal membopong tubuh kekar Alvan yang sempoyongan. "Dia mabuk.."
"Aku tak mabuk......" Potong Alvan menatap sinis Haikal.
Haikal menghela nafas panjang ia langsung membawa Alvan dan membaringkannya di atas kasur.
Ghea mematung di tempat, Haikal menghampiri. "Situasi ini sangat berat bagimu, tapi bagi Alvan ini lebih sulit non Ghea. Balas dendam yang disusun selama 6 tahun menjadi pertimbangan, Alvan tak tahu harus memilih antara dendam atau perasaannya sendiri."
"Aku orang yang selama ini tahu tentang tuan Alvan, dan perasaannya terhadapmu itu bukan omong kosong semata. Terimakasih saya permisi non." Ujar Haikal berlalu tanpa menunggu jawaban dari Ghea.
Ghea menutup kembali pintu kamar, ia beralih menatap ke arah Alvan yang berbaring di atas kasur.
Terdengar Alvan terkekeh, Ghea sedikit terkejut mendengarnya.
"Apa kau mendengar yang diucapkan Haikal?."
__ADS_1
Ghea berjalan menuju Alvan, menatap lekat lelaki itu. Wajah tampannya tampak sedikit merah dengan keringat di tubuh. "Bukankah kau mabuk?."
Alvan menoleh ke arah Ghea. "Sudah ku bilang aku tak mabuk, hanya saja suasana hatiku sedang tak baik."
"Mana ada orang tak mabuk sempoyongan seperti ini!." Timpal Ghea.
"Hanya tubuh, kesadaran ku masih terjaga. Hirup saja aroma bibirku jika minum banyak."
Dalam benak Ghea ia akan memastikan, jika Alvan mabuk ia akan membawanya ke kamar mandi untuk direndam dan jika tidak, ia harus waspada karena perasaannya mulai tak menentu.
Alvan merubah posisi menjadi duduk. "Cium saja aroma ku apa banyak bau alkohol?."
Ghea sedikit jongkok ia menarik dagu Alvan agar tak bergerak, wanita itu mendekatkan wajah menghirup aroma alkohol dari bibir Alvan, posisi yang begitu dekat.
Tatapan mata Alvan tertuju pada bibir sexy Ghea, ia membuka bibirnya mendorong tengkuk Bella menyatukan benda kenyal keduanya.
Alvan merubah posisi ia yang menindih tubuh Ghea agar bebas leluasa, Alvan menggigit bibir bawah Ghea sehingga bibir wanita itu terbuka. Kesempatan ini tak Alvan sia-siakan, lidahnya bermain liar menyesap setiap inci bibir manis wanita yang dicintainya.
Ghea yang berontak terdiam, tangan kekar Alvan merobek kaus yang dipakainya sehingga hanya menyisakan penutup aset berharga Ghea.
Hawa tubuh Ghea memanas terbawa Alvan, ia tak bisa lolos dengan tenaga Alvan yang begitu kuat.
Mata Ghea perlahan terpejam mengikuti ritme cumbuan panas Alvan, dirinya tak mau tapi bahasa tubuh entah kenapa tak dapat menolak seolah Ghea menginginkan sentuhan itu juga.
Ghea hendak kehabisan nafas, Alvan peka ia melepas ciuman. Manik keduanya saling tatap, bibir sexy Ghea basah akan ulah liar Alvan.
Alvan tersenyum. "Sudah ku bilang aku tak mabuk masih memiliki kesadaran.."
Dengan satu tarikan Alvan menarik penutup dua gundukan kencang milik Ghea hingga terlepas, karena sedikit terkejut Ghea langsung menutupnya dengan tangan.
__ADS_1
"Kenapa ditutup? bukankah kau menginginkan kepuasan?." Tanya Alvan dengan tatapan berat. "Saat ini aku menginginkannya juga."
"Kau pria yang aku benci!.."
Alvan tak langsung menjawab ia menatap lekat manik Ghea. "Kesampingkan hal itu dulu Ghe, aku membutuhkan kehangatan tubuhmu.."
Mata Ghea tak berkedip saat tangan kekar Alvan menyentuh gundukan nyembul miliknya, perasaan apa ini layaknya tersengat aliran listrik saat kulit mereka bersentuhan.
"Alvan.... Ahhh...."
Alvan tersenyum, ia mencium yang satu mel*mat dan meng*lum titik sensitif layaknya bayi kehausan. Tubuh Ghea menggelinjang ia menggigit bibir bawah menahan agar lenguhannya tak lolos.
Tangan Alvan menyentuh bibir bawah yang digigit Ghea, ia tak mau lenguhan itu tertahan. Alvan memasukkan telunjuknya mencari lidah Ghea.
"Perasaan apa ini? tubuhku bereaksi lebih.." Batin Ghea tak tahan.
Suara cumbuan terdengar mengisi seluruh ruangan, Ghea tak bisa berontak Alvan membuatnya tak bisa berkata-kata.
"Untuk ini, aku menahannya sudah sejak lama Ghe.." Bisik lembut Alvan sambil menggigit sekilas telinga Ghea.
"Jadi benar kau memantau ku selama 6 tahun?."
"Hmmmm.." Alvan kembali mer*mas lembut gundukan nyembul itu.
Pipi Ghea merona tubuhnya tak bisa menolak. "Aku semakin membencimu!.."
Alvan tersenyum menyeringai. "Lakukan saja, kamu dirimu dan aku diriku sweetie..."
"T-tidak! aaahhh....." Terbata Ghea saat tangan kekar Alvan menyentuh miliknya pada area sel*ngk*ngan. "K-kauhhhh!..."
__ADS_1