
"Silahkan minum dulu." Ramah Yasha kepada keluarga Alvan.
Diana dan Radit meneguk minuman yang disuguhkan namun tidak dengan Alvan ia hanya diam saja menatap titik tengah meja itu.
"Kita mulai saja tujuan pertemuan kita malam ini." Ujar Radit to the point.
Karin tak henti-henti menatap lekat wajah tampan Alvan, menurutnya tidak ada kendala lagi untuk mendapatkan Alvan papanya sendiri yang berwenang mendukung hal ini.
"Jadi bagaimana rencana perjodohan antara putriku Karin dengan Alvan?." Mulai Yasha.
"Apa hubungan ku dengan Ghea yang tampak tidak ada perkembangan membuat kalian senang?." Tanya datar Alvan.
Semua yang ada di sana menatapnya, pertanyaan Alvan membuat Yasha, Tria dan Karin merasa tersinggung karena memang itulah kenyataannya.
"Bukan begitu nak Alvan." Potong Tria.
"Lantas ini apa? menggelikan sekali menjodohkan diriku yang sudah beristri, apa rumah tanggaku dengan Ghea candaan bagi kalian?." Sinis Alvan.
"Al..." Lirih Diana memberi kode.
Alvan memutar mata malas menahan ucapannya, suasana di sana seketika tak menyenangkan.
"Pah bagaimana ini?." Bisik Karin mulai tak enak perasaan.
Papa Radit sendiri belum mengucapkan apapun.
__ADS_1
"Tuan Radit jadi bagaimana?." Tanya Yasha ingin kejelasan.
"Karena sebelumnya aku dan putraku sudah bicara, jadi pembahasan pertemuan kita bukan hanya tentang rencana perjodohan dan kemungkinan akan dibatalkan saja." Ujar Radit.
Mata Karin membulat sempurna, Tria dan Yasha terkejut dengan pernyataan Radit. "Dibatalkan bagaimana kita sudah sepakat tuan?."
Mama Diana menyunggingkan senyum tipis dengan perkataan yang dilontarkan sang suami.
"Aku memang menginginkan Karin menjadi istri dari putraku jika hubungan Alvan dan Ghea masih renggang tidak ada perkembangan, namun karena hubungan mereka yang kini mulai terjalin baik aku tidak mungkin memaksa putraku." Lanjut Radit tanpa basa-basi.
Mama Diana tersenyum puas, sepertinya sepulang dari pertemuan ini ia akan memberi apapun keinginan suaminya, sekalipun harus memberikan Alvan adik lagi.
Mama Diana menggelengkan kepala menggubris pikirannya. "Sudah tua, kau ini."
"Bukankah istrimu Ghea tidak bisa memberikan keturunan Al? aku setuju jika dijadikan istri kedua daripada om Radit dan tante Diana tak mendapat cucu sama sekali." Timpal Karin tangannya meremas ujung baju kuat.
"Darimana kabar itu datang? apa karena hubungan kami yang tampak tak ada perkembangan ini, membuat kalian berpikir jika istriku mandul?." Tanya Alvan dengan nada tinggi.
"I-Itu bukan.....
"Melakukan hubungan suami istri tidak mungkin harus diperlihatkan bukan? ayolah ini menggelikan sangat mengganggu waktuku."
"Tidak ada perjodohan-perjodohan batalkan saja!." Tegas Alvan. "Papa dengar ini bukan? aku menolaknya." Lanjutnya pada Radit.
"Hmmm papa tahu."
__ADS_1
Yasha dan istrinya saling tatap seolah tak terima kesempatan memiliki mantu seperti Alvan batal.
Alvan berdiri dari duduknya ia memberi salam hormat kepada yang ada di sana. "Karena sepertinya tidak ada hal penting lagi saya pamit ada urusan, terimakasih."
Lelaki itu berlalu pergi tanpa ada yang berani menahannya.
Dari halaman luar dibalik tembok seorang wanita cantik menutup mulutnya agar tidak ketahuan menguping. Sonya yang mengunjungi restoran sang papa terkejut melihat keluarga Alvan ada di sana bersama keluarga Karin.
"Ini benar-benar gila, untungnya Alvan sangat menyayangi dan menghargaimu Ghe." Batin Sonya, tidak lama setelahnya ia mengendap-endap untuk pergi.
Mata Karin berkaca-kaca jika berkedip pasti sudah turun.
Mama Diana merasa tak nyaman suasananya jadi buruk. "Sebagai seorang ibu aku tidak mungkin tak mengabulkan keinginan Alvan, jadi mohon lupakan jika perkataan putraku ada yang menyinggung. Karin semoga kamu mendapat lelaki yang lebih baik dari putra tante."
Yasha tersenyum. "Tak apa nyonya Diana, suatu kehormatan juga, perusahaan Nox Company memberiku kepercayaan saham."
"Kembangkan dengan baik saham itu!." Tegas papa Radit.
"Tentu." Sungkan Yasha
Radit menggandeng istrinya. "Karena sudah malam kami pulang duluan."
"Iya hati-hati dan sampai jumpa." Jawab Yasha melihat kepergian mereka hingga hilang dari pandangan.
Tampak Tria termenung sementara Karin terisak ia tak peduli sedang dimana keberadaannya. "Aku gak mau pah, bukan orang lain yang aku inginkan cukup hanya Alvan!."
__ADS_1