
Alvan memasukkan istrinya ke dalam mobil, sebelum Alvan pindah posisi keduanya saling tatap. "Mau membunuhku bukan? jangan dengan kondisi lemah seperti ini. Setelah dendamku terbalas lakukan saja, aku akan tenang jika yang membunuhku orang yang kucintai sendiri."
"Aku tidak mungkin membunuhmu.." Lanjut Alvan sambil menyeka air mata Ghea.
Ucapan Alvan dapat Ghea rasakan di dalamnya ada ketulusan, Ghea tak menjawab ia mengalihkan dari pandangan lelaki itu. "Jika dia mencintaiku kenapa melakukan hal ini?." Batinnya kesal.
Namun jika di pikir-pikir siapa yang terima dan tak dendam, melihat kakak kandung dibunuh dan dianiaya secara sadis di depan mata.
Tanpa berucap lagi Alvan menancap gas mobil meninggalkan mansion Ghea menuju mansionnya. Di perjalanan tidak ada yang bersuara, Alvan fokus menyetir sementara Ghea menatap ke arah luar jendela.
Sesampainya di mansion.
"Turunlah..." Ujar Alvan yang sudah membuka pintu mobil untuk istrinya.
Ghea menatap lama Alvan. "Kau membiarkan orang yang membencimu ini ada di dalam rumah sana?."
"I don't care karena kau istriku."
Ghea menghela nafas berat.
Tanpa pikir panjang Alvan mengangkat tubuh Ghea membawanya masuk ke dalam. "Hey! turunkan aku! kenapa kau ini selalu bertindak tanpa persetujuan!.."
Sesampainya di kamar Alvan melemparkan Ghea ke atas ranjang, mengikat kaki dan tangannya dengan dasi.
"Kau ini gila atau apa! bukankah kau mencintaiku?.." Heran Ghea dengan sikap Alvan, sebenarnya lelaki ini terhadapnya bagaimana?.
"Agar kau tidak kabur dan mencoba bunuh diri."
"Tidak harus sep......
__ADS_1
"Cukup! jawabannya karena aku mencintaimu dan tak ingin kau kenapa-napa." Singkat Alvan.
Ghea terkekeh sekilas. "Aku ini putri dari orang yang paling kau benci, apa kau mengurungku di sini demi kepuasan dendam juga? jika seperti itu aku semakin membencimu!."
"Teruslah membenciku aku menyukainya.." Lirih Alvan sambil tersenyum menyeringai.
"Kau benar-benar gila!." Kecam Ghea yang kesusahan karena kaki dan tangannya diikat Alvan.
Tanpa berucap Alvan melangkah hendak pergi.
"Jika kau mau membunuh papa jangan kau lakukan dulu sebelum kami bertemu menikmati waktu bersama. Aku putrinya namun tidak membela perbuatan yang telah papa lakukan." Timpal Ghea dengan penuh permohonan, saat ini dirinya benar-benar rapuh.
Langkah Alvan terhenti, setelah mendengar ucapan Ghea ia kembali melangkah pergi berlalu dari sana.
Tidak lama seorang bibi pembantu datang, melepas ikatan dasi pada kaki dan tangan Ghea. "Istirahatlah non, ini bibi bawa makanan, non belum sarapan."
"Baik."
"Kenapa ikatannya dilepas?." Tanya Ghea.
"Tuan menyuruhnya barusan."
Tidak ada jawaban dari Ghea, si bibi kembali ke luar kamar.
Ghea memeluk lutut menelungkupkan wajah di sana, ia terisak sejadi-jadinya melepas rasa sakit yang begitu dalam.
.
.
__ADS_1
Niko perlahan mengerjapkan mata ia menatap sekeliling ruangan luas, tubuhnya diikat dan masih terasa perih akan bekas luka yang dilakukan anak buah Alvan.
"Dimana putriku? bagaimana dia sekarang! apa kalian melakukan sesuatu terhadap Ghea?." Tanya Niko dengan nada tinggi ia khawatir dengan kondisi putri yang amat disayanginya.
Para pria berbaju hitam tidak ada yang menjawab mereka hanya diam berjaga dengan waspada.
"Sial! apa kalian bisu?." Ulang Niko yang ingin kepastian.
"Diamlah!.." Tegas penjaga.
Suara langkah kaki terdengar mendekat, muncullah Alvan dari pintu utama berjalan ke arah Niko. Alvan menyodorkan sebuah roti meletakkan di depan Niko. "Anggap itu dari putrimu untuk mengganjal perut." Dinginnya.
Niko menatap lekat wajah Alvan, giginya beradu rahangnya mengeras. "Jadi benar menantuku adalah adik dari Andre Ravindra?."
"Seperti yang kau lihat."
"Dimana putriku! apa kau melukainya?."
"Ternyata masih ada rasa kemanusiaan di hatimu, papa?."
Mendengar Alvan menyebutnya papa, Niko mengasihani diri sendiri. Mungkin sebentar lagi ia akan dibunuh secara sadis oleh orang yang menyebutnya papa itu.
"Kau sudah mengambil alih kekuasaan dan mengetahui pekerjaan gelap ku, pembunuhan waktu itu kau bisa melakukannya juga kepadaku kapanpun bahkan sekarang. Namun jangan kau beritahukan kepada Ghea, kematianku nanti rahasiakan layaknya orang hilang." Lirih Niko yang menyadari ketidakberdayaan nya saat ini.
Alvan menarik pisau belati dari dalam jaketnya, menatapnya sambil mengelus bagian tajam dengan jari telunjuk. "Mungkin aku tidak akan membunuhmu dengan kematian.."
Niko terdiam mendengar ucapan Alvan, mungkin yang Alvan inginkan ia hidup penuh penyesalan akan perbuatannya selama ini.
"Kenapa kau harus menjadi ayah dari wanita yang kucintai, papa? jika aku menuntaskan dendam ini maka jiwaku juga akan sakit."
__ADS_1