
Sonya dan Farel tiba di Jakarta pusat.
"Gue mau langsung nyari hotel Sony." Ucap Farel.
"Gak mau nginep di rumah gue aja Rel?."
"Gak papa gak usah, nanti gue ke rumah lo untuk bareng menemui suami Ghea."
"Oke kalo gitu."
Farel berlalu pergi setelah mengantarkan Sonya ke rumahnya, sebelum mencari hotel untuk tempat persinggahan lelaki itu mencari tempat yang cocok untuk party nanti malam.
.
Mansion Alvan
Meja makan..
Alvan dan Ghea sarapan bersama.
"Apa Karin mengundangmu untuk party?." Tanya Alvan.
"Hmmm, apa kau mengijinkannya?."
"Aku akan ikut."
"Ikut?." Balas Ghea.
__ADS_1
"Of course."
"Ah pertemuan keluargamu dengan keluarga Karin apa benar.....
"Shuuut sayang, itu hal menggelikan jangan dibahas apalagi sampai mengganggu waktu berharga kita." Potong Alvan.
"Haisshh."
"Saat party nanti entah apa yang akan ia lakukan jangan digubris." Lanjut Alvan.
"Kenapa begitu? apa akan ada sesuatu?." Sengaja Ghea dengan wajah polos.
Alvan terkekeh melihat istrinya. "Jika ada pertunjukan mari kita nikmati."
"Yeah party!." Timpal Ghea seolah mengerti maksud dari Alvan. "Apa kamu tidak tertarik menjadikan Karin sebagai istri kedua Al?."
Ghea terkekeh. "Dia seperti sangat terobsesi denganmu."
"Sayang plis jangan membahasnya kita sedang sarapan, aku tak peduli dengan itu jangan membuatku marah okay?." Lanjut Alvan. "Tidak ada yang lain hanya kamu di hatiku."
Ghea tersenyum. "Kau lucu sekali saat marah."
"Sayaaaaanngg!.." Rengek Alvan jengah jika harus membahas Karin.
"Iya maaf ya.." Ghea langsung mengelus lembut pipi Alvan.
Lelaki tampan itu tersenyum sambil mengecup telapak tangan Ghea. "Aku tak marah lagi."
__ADS_1
Pemandangan indah itu tak lepas dari pantauan sepasang suami istri yang baru tiba di sana, ya mama Diana dan papa Radit.
"Pah apa kau melihatnya juga?." Senang mama Diana. "Alvan tidak bohong seperti katamu, lihat mereka yang dulunya banyak konflik bisa se-harmonis ini."
Radit tak langsung menjawab ia senang namun tak sepenuhnya senang, melihat wajah Ghea kembali mengingatkan Niko yang telah membunuh putra pertamanya dulu.
"Mama tahu perasaan papa bukan mama tak seperti papa, mama juga apalagi seorang ibu. Tapi mari perlahan lupakan, Ghea juga putrinya jadi korban yang tidak tahu apa-apa." Ujar Diana sambil memegang tangan Radit.
Radit menghela nafas panjang..
"Eh tuan! nyonya!." Sambut kepala pelayan melihat kedua orang tua Alvan.
Mendengar kepala pelayan heboh, Ghea dan Alvan menatap sumber suara.
Ghea terkejut tentunya perasaan wanita itu mulai tak tenang takut ada apa-apa, Alvan yang peka langsung berdiri mengelus pundak sang istri. "Jangan memikirkan hal lain sayang, ada aku di sini."
Ghea tersenyum mencoba agar tetap bisa tenang.
Karena sudah ketahuan berkunjung, mama Diana menggandeng tangan Radit untuk menghampiri di mana Alvan dan Ghea berada.
Ghea langsung memberi salam sopan kepada kedua mertuanya, saat bersalaman dengan Diana, Diana langsung menarik Ghea ke dalam dekapan dan tak terasa air mata wanita paruh baya itu turun. "Sayang nak apa kabar?."
Hati Ghea bergemuruh tersentuh ia ikut mengeluarkan air mata membalas pelukan Diana. "Aku baik ma.."
Alvan tersenyum melihat dua wanita yang dicintainya sangat akrab. "Pah dua wanita kita akrab, apa papa mau tos dengan putramu ini?."
Terdengar Radit terkekeh sekilas. "Baru tos tangan setelah memberikan papa cucu, bagaimana deal?."
__ADS_1
"DEAL!!."