
"Aku minta maaf jika lancang itu juga tak sengaja nona." Ramah pria itu.
Ghea memutar mata malas. "Lupakan saja aku hanya ingin bertanya ini party Karin bukan?."
"Iya benar ini party sahabatku."
"Dimana dia sekarang apa bisa dipanggilkan?."
Pria itu tersenyum sambil menatap lekat wajah cantik Ghea. "Jangan buru-buru kita have fun dulu, kemungkinan Karin masih merias diri."
"Katakan saja di mana kamarnya aku tak mau menghadiri acara jika tak jelas tujuan." Pancing Ghea.
Pria itu terdiam seolah berpikir keras untuk mengajak Ghea bersenang-senang bersama yang lain. "Jangan galak-galak kita juga belum kenalan."
"Ghea namaku, cepat katakan kamar berapa Karin berada!." Jengah sendiri dibuatnya Ghea.
"Sebentar lagi ia akan turun tunggu saja, bagaimana jika kita ke sana melihat sesuatu tadi Karin menyuruhku jika ada wanita yang bernama Ghea bawa ke sana saja." Tunjuk pria itu ke halaman party lain.
"Aku Evan mari kita ke sana." Ajaknya sekaligus memperkenalkan diri.
Mau tak mau Ghea mengikuti langkah pria yang bernama Evan itu, ke tempat party halaman samping.
.
Alvan yang baru selesai meeting melihat pesan dari Karin.
"Dengan siapa Ghea ke hotel?." Tanyanya sambil membuka kancing kemeja.
__ADS_1
"Bodyguard tuan." Balas Haikal.
"Oke aku harus pergi sekarang, sisanya selesaikan!."
"Baik."
Alvan berlalu melangkah pergi dari ruangannya, sesampainya di parkiran ia menancap gas mobil menuju hotel di mana istrinya berada.
Sesampainya di halaman samping, Evan membawa dua gelas minuman. "Alangkah baiknya jika kau minum dulu sambil menunggu Karin." Evan menyodorkan minuman kepada Ghea.
Ghea menatap lekat minuman itu tidak lama ia menerimanya. "Kau benar juga aku haus."
"Ya minumlah, dengan senang hati aku membawakan mu minuman." Ramah Evan, terlihat sekali ia sangat kagum dengan sosok wanita yang ada di hadapannya sekarang.
"Ah ya ampun!." Heboh Ghea seketika.
"Apa aku boleh meminta bantuanmu? kado untuk Karin ketinggalan di kursi halaman belakang, aku mau ke WC dulu kayaknya tamu bulanan ku datang." Ghea panik.
"Begitu ya? yaudah sekarang kamu ke WC nanti keburu banyak." Timpal Evan dengan raut wajah tampak menyayangkan. "Aku ke halaman belakang dulu."
"Oke." Ghea mengambil minuman yang ada di tangan Evan. "Biar ku pegang."
"Iya." Evan langsung pergi menuju halaman belakang.
Minuman itu seketika Ghea tukar dengan minumannya, ia langsung mengendus. "Haha kau pikir aku tak tahu? ternyata benar." Lirihnya sinis.
Beberapa saat kemudian Evan datang dengan membawa sebuah kotak kecil di tangan. "Ini kado mu?."
__ADS_1
"Ah iya thanks ya." Ghea mengambilnya.
"Apa kau sudah ke kamar mandi?." Kini Evan yang bertanya.
"Barusan selesai." Jawab Ghea bohong, ia langsung memberikan minuman Evan lagi. "Ini."
Evan mengambilnya dan langsung meneguk minuman itu karena haus.
Ghea juga meneguk jus yang dipegangnya, melihat itu Evan tersenyum menyeringai pikiran pria itu sudah merajalela kemana-mana.
"Btw Karin masih lama?." Tanya Ghea setelah meneguk minuman.
"Sebentar lagi kita tunggu, dan katanya juga kamar Karin nomor 13 apa kau mau ke sana?." Tanya Evan mulai mendekati tubuh Ghea.
"Jika kau tak keberatan mengantar, aku mau ke sana bagaimana?."
Evan tak langsung menjawab pria itu menggelengkan kepalanya berkali-kali merasakan sesuatu yang tidak beres, semakin ke sini semakin hilang keseimbangan dan begitu pening. "A-ada apa ini?."
"Kamu kenapa?." Tanya polos Ghea menyentuh tubuh Evan yang hampir ambruk.
"K-kau... Apa kau yang melakukannya?." Terbata Evan sudah tak kuasa tubuhnya pun ambruk.
Ghea tersenyum menyeringai ia mencengkram dagu Evan sebelum hilang kesadaran. "Aku tak bodoh! bilang sama orang yang menyuruhmu itu, f*ck girl!."
"K-kau!!.."
Belum sempat menyelesaikan ucapan, Evan hilang kesadaran ia pingsan.
__ADS_1
Ghea mendorong tubuh pria itu dengan kaki hingga tergeletak. "Sorry aku tambahkan sedikit obatnya ya."