
Papa Radit dan mama Diana menatap Alvan yang masih bungkam.
"Baik silahkan bicarakan dulu untuk menentukan hukuman terhadap tersangka Niko, kami beri waktu 20 menit." Lanjut hakim.
Niko mencari keberadaan Ghea, ia mengembangkan senyum ke arah putrinya itu. "Maafkan papa Ghe jika hukumannya harus tindak pidana mati."
Ghea menahan agar air matanya berhenti turun, namun tetap saja sangat sulit.
Radit dan Diana menghela nafas berat dengan situasi saat ini, tatapan mereka tertuju kepada Ghea yang duduk di kursi ujung sana. Terbesit rasa kasihan, Ghea sudah dianggap sebagai anak apalagi Alvan enggan menceraikannya.
"Niko pantas dengan hukuman mati tapi balas dendam yang pantas, dia harus merasakan penderitaan yang selama ini kita rasakan." Ucap Diana. "Dan Ghea, mama entah kenapa tak tahan melihatnya rapuh seperti itu..."
"Niko..." Ucap papa Radit.
Niko menoleh ke arah sumber suara.
"Kau manusia paling durjana yang pernah ku temukan di dunia ini, haus kekuasaan dan berani membunuh putraku dengan sadis. Tentu jangan ditanyakan murka ku terhadap dirimu bagaimana, yang ingin ku tanyakan adalah apa kau menyesali perbuatanmu setelah kehancuran ini?."
"Kehancuran ini pantas untukku, tentu aku sangat menyesal dihantui rasa bersalah apalagi saat putriku mengetahuinya. Silahkan benci manusia biadab ini dan hukum diriku dengan hukuman yang pantas, jika hukuman mati yang kalian pilih lakukanlah...."
"Tapi..." Niko melirik ke arah Ghea. "Dia putriku hanya aku yang dimilikinya di dunia ini setelah mamanya pergi, jangan ikut balas dendam terhadap Ghea cukupkan pada diriku saja. Putriku tidak terlibat dalam hal ini.." Pinta Niko memohon untuk keamanan sang putri, ia sudah tak peduli dengan dirinya yang penuh dosa dan penyesalan.
Radit menghela nafas panjang ia duduk kembali. "Sepertinya mama dan papa ikut saja dengan hukuman yang kau pilih Al.."
"Baik, masih ada waktu 5 menit untuk menentukan hukuman terhadap tersangka Niko." Lanjut hakim.
__ADS_1
Belum ada kalimat yang keluar dari mulut Alvan, sudut matanya melirik Ghea yang duduk di ujung kursi sana. Situasi ini sangat sulit baginya untuk memilih antara dendam dan cinta.
Sementara Ghea ia hanya meremas ujung baju kuat matanya terpejam, kepalanya pening mungkin terlalu banyak mengeluarkan air mata.
"Waktu habis! silahkan katakan keputusan yang anda pilih tuan Alvan." Tegas hakim.
Alvan berdiri dari duduknya sambil merapikan jas yang dikenakan. "Sebagai pihak yang sangat dirugikan saya beserta keluarga mengambil keputusan untuk menetapkan hukuman penjara seumur hidup, paling sedikit waktu selama dua puluh tahun terhadap tersangka Niko!." Lantang Alvan.
Hakim menetapkan hukuman bagi Niko Alayrs.
TUK! TUK! TUK!
Palu diketuk sebanyak tiga kali, resmilah Niko mendekam di penjara paling singkat selama dua puluh tahun.
Niko yang sudah menyangka akan dihukum mati terdiam, ada apa dengan Alvan? padahal bisa saja ia dihukum dengan sadis juga. Namun di sisi lain Niko merasa lega karena masih bisa hidup menemani Ghea setidaknya di dalam tempat penebusan dosa (penjara).
Hanya ada waktu 30 menit untuk bicara dengan Niko sebelum ia dijebloskan ke dalam penjara.
Ghea langsung berhambur ke dalam pelukan sang papa. "Pah setidaknya kita masih bisa bertemu, aku akan sering menemui papa.."
Niko tersenyum ia mengangguk mengelus kepala Ghea. "Ghe sekarang kamu mau kemana? mansion hancur begitupun kekuasaan dan perusahaan papa."
"Jangan khawatir pah ada tempat yang akan ku tuju, beberapa cabang usaha mungkin aku akan membukanya kembali."
"Sayang maafkan papa..." Niko meneteskan air mata sambil mengecup kening Ghea. "2 bulan yang lalu papa transfer uang ke ATM mu, gunakan saat kau kesulitan."
__ADS_1
"Hmmm..." Jawab singkat Ghea, anak dan papa itu kembali berpelukan sebelum berpisah.
Radit, Diana, menghampiri Niko dan Ghea. "Kami masih memiliki rasa belas kasih, tebus kesalahanmu di sini dan bersihkan diri Niko!."
"Tentu... Maaf dan terimakasih aku akan menebusnya.." Jawab Niko dengan suara gemetar, rasa bersalah sangat menghantuinya.
Sebelum pergi, papa Radit tersenyum sekilas kepada Ghea, mama Diana mengelus kepala wanita yang masih menjadi menantunya itu. "Sehat-sehat dan jaga diri."
Ghea membalas senyuman Diana, semakin tak nyaman keluarga sebaik mereka masih mengasihaninya.
Masih ada waktu 10 menit....
Alvan menghampiri Niko ia menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan. "Penderitaan ini tak sebanding dengan perbuatan yang telah kau lakukan, kesempatan ini hanya ada satu kali jika kau mengulanginya lagi tidak ada kata maaf!.."
"Alvan papa tahu maksudmu, maaf adalah kata yang bisa ku ucapkan saat ini akan penyesalan maaf dan maaf nak. Selama papa di sini tolong jamin keselamatan Ghea, papa tahu kau peduli dengannya.." Ucap Niko dengan nada memohon.
Alvan dan Ghea saling tatap, namun dari keduanya tidak ada kalimat yang terucap.
"Waktu habis, mari!.." Dua polisi hendak membawa Niko menuju jeruji besi.
"Sebentar!.." Ghea kembali memeluk erat Niko, mereka berpelukan dengan air mata berlinang. "See you pah.."
"Ya sayang, sampai jumpa kembali..." Balas Niko melambaikan tangannya.
Ghea menatap kepergian sang ayah hingga hilang dari pandangan, kini di sana tinggal dirinya dan Alvan.
__ADS_1
"Terimakasih sudah memberi kesempatan kepada papa, aku tak tahu harus berterimakasih seperti apa, sampai jumpa.." Ramah Ghea pamit tanpa berani adu tatap dengan Alvan.
Wanita cantik itu pergi tanpa menunggu jawaban dari Alvan, Ghea menancap gas mobilnya menuju tempat yang ia maksud. Ya! tempat tinggal dan kehidupan baru, memulai semuanya dengan baik dari awal..