Belenggu Mr. Alvan!

Belenggu Mr. Alvan!
Episode 55


__ADS_3

"Padahal hanya 1 malam tapi rasanya seperti 1 tahun saja."


Saat Alvan hendak mencium bibir candu Ghea, Ghea menahan bibir lelaki itu dengan telunjuknya.


"Why?."


Ghea mengendus-endus tubuh kekar Alvan yang hanya mengenakan kaos santai. "Belum mandi?."


"Apa aku begitu bau keringat? padahal keringatku wangi dan mahal sayang." Manja Alvan yang kebetulan belum mandi.


Ghea terkekeh "Bukan itu maksudku."


"Lantas kenapa menolak ciuman dengan suamimu ini hmm?."


Ghea melirik sekeliling, Alvan mengikuti pandangan istrinya dan di sana terlihat masih banyak para pembantu yang membereskan barang-barang Ghea berlalu lalang.


Bahkan ada yang tersenyum menyaksikan kemesraan itu.


Ghea langsung tersenyum ramah ke arah mereka. "Maaf silahkan lanjutkan."


Alvan digusur ke dalam rumah oleh Ghea.


"Jadi itu alasannya?." Kekeh Alvan.


"Apalagi donk kamu ini haish." Ghea malu memilih pergi menaiki anak tangga menuju kamar, sementara Alvan mengejarnya di belakang.


Sesampainya di kamar Alvan langsung melepas kaosnya menarik Ghea ke kamar mandi.

__ADS_1


"Hey hey?." Ghea terkejut.


"Kau juga pasti gerah, tidak ada bantahan kita mandi bersama saja." Ujar Alvan.


Pipi Ghea merona. Di hadapannya sudah terpampang tubuh kekar yang atletis.


"Apa harus?."


"Of course honey." Lirih Alvan membawa tubuh Ghea ke bawah shower mengguyur tubuh keduanya.


Lekuk tubuh indah Ghea terekspos sementara Alvan tersenyum membantu melepas baju Ghea hingga keduanya telanjang bulat.


Tidak bisa dihindari cumbuan panas mereka lakukan, ada sensasi lain saat melakukan hubungan suami istri di kamar mandi.


Beberapa saat kemudian....


Tubuh Ghea bergetar nafas mereka ngos-ngosan, Alvan sangat agresif Ghea sendiri menyesuaikan. Untungnya kamar mandi kedap suara, jika tidak para pembantu yang membereskan barang-barang Ghea pasti dibuat malu mendengar lenguhan kenikmatan itu.


Setengah jam kemudian.


Alvan keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk sepaha, tampak wajah tampannya merona setelah menghabiskan waktu dengan sang istri.


Lelaki itu mengunci pintu setelah selesai barang-barang Ghea dirapikan. "Sayang keluarlah, mereka sudah selesai."


Tidak lama Ghea keluar dari kamar mandi sama dengan Alvan hanya mengenakan handuk, rambut keduanya sama-sama basah.


Mereka mengeringkan rambut hingga kering, setelah selesai berpakaian keduanya bersiap untuk tidur menuju alam mimpi.

__ADS_1


.


Rumah utama


"Pah..." Lirih mama Diana memeluk Radit dari belakang.


"Ya ma?."


Papa Radit balik badan menghadap sang istri.


"Terimakasih sudah mau bekerja sama untuk masa depan Alvan, mama kira papa akan tetap pada pendirian menjodohkan Alvan dengan Karin." Ucap Diana.


"Sebenarnya ini berkelainan dengan apa yang papa inginkan, andai saja dia bukan putri Niko papa terserah selagi dia wanita baik-baik ma. Namun mungkin dari mulai sekarang papa juga harus terbiasa untuk melupakan konflik dendam itu."


"Papa juga tak berdaya melawan putra satu-satunya papa." Lanjut Radit yang hanya memang punya Alvan setelah Andre.


Diana semakin mengembangkan senyumnya senang. "Oke kalau begitu bagaimana jika besok kita berkunjung ke rumah Alvan? untuk membuktikan ucapan Alvan jika hubungan mereka membaik."


"Papa ikut saja." Lirih Radit membalas senyuman sang istri.


"Tapi pah bagaimana dengan Karin? mama melihat dari sorot matanya ia begitu tak terima jika perjodohan dibatalkan."


"Takutnya dia menyerang Ghea diam-diam ya walaupun itu tak mungkin tapi kok insting mama kuat?." Lanjut Diana.


Radit menarik selimut menutup tubuhnya dan sang istri. "Jika iya Alvan gak mungkin membiarkan itu terjadi, sekarang lupakan jangan khawatir mari kita istirahat mam."


"Hmmm oke pah.."

__ADS_1


Keduanya memejamkan mata untuk menyambut hari esok.


__ADS_2