Belenggu Mr. Alvan!

Belenggu Mr. Alvan!
Episode 22


__ADS_3

"Alvan menantumu, apa kau memiliki masalah dengannya tuan?." Tanya Rony sambil meretas identitas asli Alvan.


"Ku rasa tidak, kita pertama kali bertemu saat acara pernikahan!." Bantah Niko. "Sempat curiga dengan wajahnya yang terasa familiar, tapi siapa?.."


"Identitas yang ku temukan Alvan tidak memiliki orang tua, mungkin tuan pernah berurusan dengannya di masa lalu coba ingat-ingat."


Niko mengingat kembali wajah musuh-musuhnya ataupun orang yang dekat dengan musuh di masa lalu. Pikiran Niko tertuju pada satu ingatan. "Pembunuhan Andre Ravindra! bukankah saat itu ada anak remaja yang menyaksikan?."


"Benar tuan, ada."


"Cari identitas anak remaja itu!." Bentak Niko, perasaannya kalut dan cemas. "Tidak mungkin! itu pasti tidak mungkin.."


Rony dan yang lain kesusahan mencari folder yang disimpan 6 tahun lalu. "Setelah kejadian bukankah anak remaja itu mati dilempar ke jurang?."


"Ya aku ingat saat melakukannya." Timpal anak buah Niko yang lain


"Tuan ini! fotonya masih tersimpan coba kau lihat apa ada kemiripan antara dia dan menantumu." Tunjuk Rony.


Niko menatap lama wajah anak remaja itu.


DEG!!


Tahi lalat di pelipis pada foto sama persis dengan tahi lalat milik Alvan. Dari bentuk keseluruhan benar-benar sama persis bedanya hanya usia, seolah yang di foto Alvan kecil yang sekarang sudah dewasa.


Jantung Niko bagai ditikam pisau, orang yang menjadi saksi pembunuhan sadis yang dilakukannya di masa lalu ia jadikan menantu dengan suka rela, menyerahkan Ghea sang putri tercinta begitu saja kepadanya.


"B-bagaimana dengan Ghea? apa dia melakukan balas dendam kepada putriku!!!.." Teriak Niko dengan urat leher yang mengambang akan amarah.


Semua anak buah yang ada di sana hanya menunduk terdiam.


Rony menghampiri tuannya saat mendapat laporan, ia benar-benar berat mengucapkannya. "Tuan, yang meretas saham perusahaan ternyata Alvan. Kehancuran yang semua terjadi hari ini menantu anda sendiri yang melakukannya."


"Dia juga sepertinya mengetahui aksi transaksi jual beli ilegal kita di pasar gelap." Lanjut Rony sambil menunduk.


"Aaaaaarrrggh!!!!...." Teriak Niko tak tahan dengan kehancuran yang ia rasakan saat ini.


.


Setelah meletakan beberapa bom pada titik terlemah ruang bawah tanah, Haikal berjalan menghampiri Alvan. "Tuan apa kita lakukan sekarang?."

__ADS_1


"Tidak, jangan sekarang besok saja. Niko kemungkinan sudah tahu alasanku melakukan hal ini karena apa, sebelum pembantaian biarkan dia merasakan rasa takut, cemas, khawatir akan kejahatan yang telah dilakukannya." Balas Alvan.


Anak buah Alvan mengerti saat Haikal memberi kode, mereka berjaga di titik tertentu untuk keamanan penangkapan Niko.


"Bagaimana dengan Ghea?." Tanya Haikal.


Alvan tak langsung menjawab. "Aku tak peduli, karena inilah diriku yang sebenarnya..."


.


Pagi datang...


Setelah joging mengelilingi komplek, Ghea kembali masuk ke mansion penuh dengan keringat. "Ah segarnya.."


Setelah membersihkan diri Ghea memilih duduk di kursi sambil menonton televisi, matanya menyapu sekeliling kamar. "Alvan masih belum pulang?."


"Entahlah..." Ghea mengangkat bahu.


Perasaannya senang karena rencana hari ini akan bertemu dengan sang papa.


Pada setiap tayangan televisi ada berita, Ghea mengerutkan kening saat sebuah nama tak asing disebutkan dalam berita tersebut.


Gelas yang dipegang Ghea jatuh hingga pecah, jantungnya berdetak kencang mengingat sang papa. Tanpa menunggu kelanjutan berita Ghea mengambil jaket dan kunci mobil untuk pergi ke rumahnya.


Dengan kecepatan tinggi Ghea hampir sampai, di tengah perjalanan ia mendengar dentuman keras. "Apa itu?."


Setelah sampai di halaman rumah, Ghea mengerutkan kening melihat banyaknya mobil dan orang berbaju hitam menatap ke arah Ghea. "Siapa mereka!.."


Karena perasaannya sudah tak menentu Ghea langsung masuk ke dalam rumah.


DEG!


Rumah megah yang tertata rapih berubah menjadi porak-porandakan, bekas peluru berserakan di lantai. "Papa!!!...."


"Akhhh!!!.." Jerit dari dalam.


Mata Ghea melotot mendengar lenguhan sang papa, ia berlari menuju sumber suara. Jantungnya bagai terhenti seketika melihat kondisi sang papa, tubuh diikat juga mulut disumpal kain. Niko tertunduk tak berdaya penuh luka dalam cengkraman para pria berbaju hitam.


"Papa!!!..."

__ADS_1


Semua yang ada di sana menoleh, ke arah Ghea.


Niko tak dapat bicara hatinya hancur melihat sang putri harus menyaksikan ini semua.


Ghea berlari ke arah Niko namun para pria berbaju hitam menahannya. "Lepas br*ngsek!! kalian apakan papaku!!!..."


"Lepas!...." Perintah Alvan yang muncul dari belakang..


Mata Ghea melotot mendengar suara suaminya, wanita itu langsung mencari sosok Alvan.


Alvan tersenyum menyeringai saat adu tatap dengan Ghea.


"K-kau!??? apa kau yang telah melakukan ini!!!." Timpal Ghea dengan suara gemetar.


"Hmmm aku yang melakukannya, seharusnya kau tidak datang ke sini melihat kehancuran papamu." Balas Alvan ia tersenyum penuh kepuasan hal ini yang ia ingin rasakan dari dulu.


Alvan yang dalam benaknya lelaki tampan penuh kasih sayang kini berubah menjadi monster yang mengerikan bagi Ghea. "Siapa kau sebenarnya! kenapa melakukan hal ini kepada papa!!.." Pekik Ghea matanya mulai berkaca-kaca. Amarah, tak terima, sakit hati bercampur aduk dalam diri wanita itu.


"Pembalasan dendam, itu yang ku lakukan saat ini..." Jawab Alvan tanpa ekspresi.


"KAU IBLIS! KAU BENAR-BENAR MANUSIA BIADAB!!.." Pekik Ghea dengan tangan gemetar atas apa yang disaksikannya saat ini.


Dua lengan kekar menahan tubuh wanita itu agar tak berontak.


"PAPA!!!!...." Teriak histeris Ghea saat melihat sang papa diikat kembali dengan tubuh luka-luka lalu dibawa pergi beberapa orang berbaju hitam. "LEPAS!!!...."


Ghea menggertakan rahangnya, sorot mata wanita itu penuh dengan amarah saat pria tinggi dengan tubuh atletis mendekatinya. Pria yang sangat ia kenal, bahkan mungkin Ghea melihat sisi mengerikan dari pria ini baru sekarang.


Alvan menatap lekat wajah cantik dengan tatapan amarah itu, tatapannya dingin... Lelaki lembut dengan penuh perhatian yang selama ini Ghea kenal entah kemana, ya itulah sosok Alvan Ravindra sekarang.


"Bagaimana perasaanmu? sakit?..."


"Kau ini mau apa hah? jika mau kekuasaan, tahta, uang silahkan ambil!!! kenapa harus dengan menyakiti papa juga, iblis kau benar-benar iblis Alvan!..." Pekik Ghea ia terus berontak..


"Shuuuuutt!!!..."


Alvan menempelkan telunjuknya pada bibir Ghea. "Suatu saat kau akan mengerti, jangan terlalu menyayangi papamu dia tidak lain hanya manusia dengan kepala tanpa otak....


PLAK!!...

__ADS_1


Sebuah tamparan keras berhasil mendarat di pipi mulus Alvan.


__ADS_2