
Melihat mansion besar milik Ghea yang hampir hancur porak-poranda, Sonya dan Elyn syok. Di sana tidak ada Niko maupun Ghea.
"Ada apa ini! dengan situasi om Niko yang diambang kebangkrutan seharusnya Ghea di sini bukan?." Ujar Sonya memegang kepala perasaannya tak menentu panik. "Dimana mereka?."
"Ck!!.." Elyn berdecak kesal saat menghubungi Ghea berkali-kali, namun handphone sahabatnya itu tidak aktif. "Gak ada, ya Tuhan...."
"Rumah Alvan! iya, mungkin mereka ada di sana." Potong Sonya.
"Terus ini kenapa rumah Ghea harus hancur?."
"Kita tanyakan nanti, ayo kita ke sana mungkin Ghea membutuhkan kita Lyn."
"Oke."
Mereka naik ke dalam mobil, menancap gas menuju kediaman Alvan.
.
.
Tok tok tok!
Ghea menoleh ke arah pintu kamar saat ada yang mengetuknya. "Ghe ini gue sama Elyn." Ujar Sonya.
"Ghe??."
Cklek....
Pintu dibuka dengan perlahan.
Elyn dan Sonya terdiam melihat kondisi Ghea, tidak perlu ditanya mereka tahu apa yang terjadi dengan sahabatnya itu.
__ADS_1
GREP!
Elyn dan Sonya langsung memeluk Ghea. "Gak papa ini cobaan dari Tuhan, gak papa Ghe lo masih punya kita berdua.."
Mata Ghea yang sudah bengkak kembali berlinang, kondisi hancur seperti ini ia semakin tak kuat jika ada yang menenangkan.. Isaknya semakin pecah.
Karena ingin tenang setelah puas menumpahkan air mata, Ghea membasuh mukanya dan duduk di kursi bersama Sonya dan Elyn.
"Om Niko dimana Ghe?." Tanya Sonya.
Ghea menggeleng.
"Lah?."
"Tuan Alvan? aku tidak melihatnya juga."
Ghea kembali menggeleng. "Entahlah, aku mungkin sekarang membenci keduanya."
Elyn dan Sonya saling tatap.
"Sekarang saja." Potong Ghea.
"Hanya kita dan mereka yang bersangkutan, masalah ini jangan sampai bocor ke orang yang tak dikenal." Mohon Ghea.
Kedua sahabatnya itu sontak mengangguk. "Don't worry Ghe..."
Ghea menghela nafas panjang sebelum menceritakan semuanya, apa yang ia alami dan rasakan saat ini Ghea ceritakan kepada mereka berdua tanpa terkecuali.
Elyn dan Sonya syok mereka gemetar menutup mulutnya. "Ghe...."
"Ya Tuhan...." Elyn memegang kepalanya, perasaan wanita itu tak tenang mendengar apa yang dialami Ghea. "Rumit, ini sangat rumit."
__ADS_1
"Gak mungkin! tapi...." Sonya gemetar masih tak percaya. "Sekarang om Niko dimana?."
Dengan tatapan kosong Ghea mengangkat bahu menandakan ketidak-tahuan. "Aku hanya berpesan kepada Alvan agar jangan membunuh papa sebelum kita bertemu."
"Ghe mending kita lapor polisi, takutnya om Niko kenapa-napa." Ujar Elyn.
"Di sini papa yang melakukan tindakan kriminal."
"Dari pada dia dianiaya dan dibunuh suami lo, mending diadili di pengadilan. Ghe gue tahu papa lo salah, tapi masa lo gak kasian gitu-gitu juga orang tua lo satu-satunya yang masih tersisa." Timpal Sonya.
"Sudah, namun pihak berwajib ternyata terlibat dalam penangkapan papa. Mungkin mereka sedang mengurusnya."
Sonya dan Elyn menghela nafas lega. "Gue rasa suami lo gak bakal membunuh om Niko, polisi ada di sana sebagai penegak hukum Ghe."
"Hmmm semoga saja."
Mereka berdua kembali memeluk Ghea menenangkan. "Sudah, ini akan terlewati Ghe. Biarkan nanti om menjalani hukuman sebagai penebus dosanya.."
Ghea perlahan mengembangkan senyum tipis, bebannya berkurang dengan datangnya mereka berdua.
"Ghe hubungan lo sama Alvan gimana?."
"Dia mencintaiku, sering sekali Alvan mengucapkannya, Entah itu kalimat penenang atau apa aku tak percaya." Jawab Ghea.
Elyn dan Sonya saling tatap. "Tentang balas dendam itu sikapnya terhadap lo gimana Ghe? pernah mencekik atau KDRT lainnya?."
"Enggak."
"Berarti benar dia mencintai lo Ghe dan mungkin alasan Alvan enggan menceraikan juga karena itu." Balas Elyn yakin.
Ghea hanya diam.
__ADS_1
"Perasaan lo juga terhadap Alvan sekarang bagaimana?."
"Gue mulai luluh dan diam-diam menyimpan perasaan, tapi karena kejadian ini perasaan itu lenyap." Lirih Ghea. "Aaarrrgh ini membuatku gila!."