
"Jika dulu bukan aku yang kau inginkan lantas kenapa menerima dijodohkan dan menjadi tunanganku!." Fara masih tak terima dengan rasa sakitnya di masa lalu.
Ghea melepas genggaman tangan Alvan, ia memilih melangkah masuk mobil tak mau mendengar pembicaraan yang menurutnya menguras tenaga.
"Sayang!." Panggil Alvan.
Ghea menggelengkan kepalanya. "Selesaikan dulu aku tak apa, hanya sedikit lelah ingin berada di mobil saja."
Melihat kode dari Ghea membuat Alvan peka mau tak mau ia harus berurusan dengan Fara terlebih dahulu, setelah Ghea masuk ke dalam mobil Alvan berjalan menghampiri Fara kembali. "Jika maumu menginginkan aku kembali itu tidak mungkin, banyak cara sudah ku lakukan untuk mendapatkan Ghea, jadi jangan menghancurkan usahaku dan membuatnya pergi hanya gara-gara hal sepele!."
"Mungkin benar aku terus terang saja saat menolak pernikahan kita aku sengaja pura-pura gay untuk menghindarinya, dugaan mu benar Fara. Untuk sekarang lupakan yang lalu, aku tahu aku telah menyakiti perasaanmu dan itu salah, tapi di sisi lain aku punya hak untuk menolaknya." Tegas Alvan.
__ADS_1
Fara terdiam rasa sakit hatinya semakin terasa mendengar pengakuan Alvan. "K-kau jahat Alvan."
"Tidak, aku tidak jahat kau yang jahat pada diri sendiri. Kenapa mencintai orang yang bukan untukmu? masih banyak lagi pria yang menginginkanmu di luar sana, buka mata aku tidak mau berdebat tentang hal ini lagi, lanjutkan hidupmu dengan baik begitupun dengan diriku." Timpal Alvan lantang, tanpa menunggu jawaban dari Fara lelaki itu memilih pergi masuk mobil dan melajukannya membelah jalanan raya.
Fara menatap nanar kepergian pria yang sudah ia damba bertahun-tahun, matanya berkaca-kaca tangan wanita itu menepuk-nepuk dada karena sesak. Ucapan Alvan tidak ada yang salah, tapi rasanya benar-benar menyakitkan. "Ternyata benar, yang suka duluan akan kalah sama wanita yang dia suka... Oke Al terimakasih."
Melakukan segala cara juga percuma jika tetap Ghea lah yang Alvan pilih, Fara juga berpikir dua kali jika mengusik Alvan hidupnya yang jadi ancaman. Untuk saat ini ia akan perlahan pergi melupakan Alvan dari benak dan hidupnya.
Sambil menyetir Alvan sesekali melirik sang istri yang dari tadi diam membisu menatap ke arah luar jendela mobil. "Ghe, sayang?."
"Jangan pernah berpikir untuk pergi hanya karena beberapa wanita yang datang sehingga kau meragukan ketulusanku selama ini." Lirih Alvan lembut sambil meraih tangan Ghea menggenggam dan mengecupnya.
__ADS_1
"Kau berpikir seperti itu?."
"Aku takut, kebanyakan wanita selalu overthinking. Aku tidak mau kamu juga memikirkan masalah tadi, mas ingin kamu fokus untuk kelahiran putra pertama kita." Lanjut Alvan.
Rasa kesal dan cemburu pada lubuk hati Ghea perlahan mencair, Alvan sangat peka dengan yang ia takut dan ragukan. "Seorang wanita pasti akan ikut kemana ia dibawa oleh prianya, terimakasih sudah meyakinkanku mas walaupun tadi jujur aku langsung bad mood."
Alvan tersenyum, Ghea masih cemburu tentunya perasaan wanita itu juga masih mencintainya. "Mas maklumi sayang, ah kau menggemaskan sekali mau mas makan di jalan?."
"Nyetir yang bener mas ini, haha." Kekeh Ghea.
Alvan memilih memarkirkan mobilnya di jalan, Ghea celingak-celinguk melihat sekeliling. "Ada apa?."
__ADS_1
Alvan menatap lekat wajah cantik sang istri, tangannya menyentuh bibir ranum itu. "Mau ini dulu sebentar."
Belum sempat Ghea membalas ucapan, bibirnya sudah disambut bibir Alvan, ia mel*umatnya atas dan bawah bergantian menyesap setiap inci penuh agresif lidah keduanya bertautan mesra.