
Pagi harinya..
Evan mengerjapkan mata saat sinar matahari menyorot mata lewat celah jendela, pria itu terkejut saat menyadari seorang wanita telanjang bulat sama sepertinya juga berbaring di samping.
"Karin!?." Evan merubah posisi menjadi duduk, ia syok melihat tubuh Karin yang kakinya masih terikat rantai.
Bekas cinta banyak sekali di tubuh polos wanita itu, sebisa mungkin Evan mengingat kejadian semalam. "Apa aku melakukannya dengan Karin?."
Evan celingak-celinguk namun hening tidak ada siapa-siapa, lelaki itu terdiam tak ingat kejadian semalam hanya ingat wajah Ghea saja yang menatapnya dengan tatapan marah.
Evan berdiri ia berjalan melepas rantai yang terpasang di antara dua kaki Karin, juga melepas ikatan jas pada tangannya.
"Hiks... Hiks... Hiks..."
Karin yang ternyata juga sudah bangun terisak.
"Karin???."
Karin semakin terisak ia meringkuk menutupi tubuh polosnya.
Evan semakin bimbang. "Apa mungkin ini ulah pria yang kau cintai itu?."
Tidak ada jawaban, Karin hanya terisak. "Kau menyetubuhi tubuhku Van!."
"Aku tahu tapi itu di luar kendaliku."
"Bukan kau yang ku inginkan untuk tidur di sini bersamaku, tapi Alvan! bagaimana jika aku hamil anakmu Van hiks hiks..." Lirih Karin.
__ADS_1
"Semuanya sudah terjadi aku bisa apa?." Balas Evan.
Karin mengusap air matanya ia merubah posisi menjadi duduk, wanita itu menatap wajah Evan masih dengan posisi telanjang bulat.
"Apa benar kau menyukaiku?."
Sebuah pertanyaan singkat membuat Evan terkejut dan merasa terpanggil. "Darimana kau tahu?."
"Jawab saja Van!."
"Sepertinya lelaki berkuasa itu mudah sekali untuk mencari sesuatu." Lirih Evan. "Ya, aku sudah lama mencintaimu." Jawabnya kini jujur.
"Jangan berbuat hal gila lagi Karin, datanglah ke tempat di mana kau dihargai. Alvan sudah memiliki wanita yang tampaknya begitu ia cintai, sekarang lihat aku yang sudah lama menyukaimu." Ujar Evan.
"Pasti tak mudah tapi cobalah, Alvan bukan orang sembarangan makanya saat kau merencanakan untuk party ini aku ragu. Jangan karena ego kau nanti kehilangan nyawa." Lanjut Evan.
Evan yang peka langsung menutup tubuh Karin dengan selimut, ia sendiri mengenakan kembali celananya yang berada di lantai.
Bagi Evan juga terasa sangat sakit melihat wanita yang dicintainya menangisi pria lain, cukup lama Karin terisak menangisi diri sendiri.
"Keluarkan sepuasnya aku ingin kau merasa lega setelah ini."
.
Mansion Alvan
Ghea masuk duluan ke dalam rumah sementara Alvan baru memarkirkan mobil di halaman.
__ADS_1
"Non sud.....
Bi Lusi yang menyapa Ghea tak melanjutkan ucapan melihat nyonya-nya yang nyelonong dengan raut wajah datar.
"Apa ada sesuatu?." Batinnya.
Tidak lama Alvan juga masuk.
"Eh tuan?."
"Ya bi?."
"Non Ghea?." Timpal bi Lusi.
"Bukan apa-apa."
"Ya sudah, itu bibi sudah mempersiapkan makan malam untuk kalian berdua tuan."
"Baik bi terimakasih."
Bi Lusi tersenyum ramah. "Sudah tugas bibi." Wanita paruh baya itu berlalu kembali ke dapur, begitu juga dengan Alvan yang menyusul sang istri ke kamar.
"Sayang apa kau masih marah?." Tanya Alvan saat tiba di kamar, ia menghampiri Ghea yang hendak ke kamar mandi untuk ganti baju.
"Tidak."
"Tidak apanya? look at me honey.." Alvan meraih wajah cantik Ghea agar membalas tatapan. "I'am sorry jika sudah melukai hatimu." Rengek nya manja.
__ADS_1
Ghea menghela nafas panjang mengalah. "Iya Al.."