
Alvan menatap lekat wajah cantik sang istri, tangannya menyentuh bibir ranum itu. "Mau ini dulu sebentar."
Belum sempat Ghea membalas ucapan, bibirnya sudah disambut bibir Alvan, ia mel*umatnya atas dan bawah bergantian menyesap setiap inci penuh agresif lidah keduanya bertautan mesra.
Keduanya menikmati ciuman panas itu, tangan kekar Alvan mer*mas lembut dada kencang istrinya bermain leluasa di sana. Ghea meremas rambut Alvan saat suaminya beralih mencumbu leher dan area dada.
"Mas... Ini di jalan."
Suara kecupan lembut terdengar membuat Ghea malu sendiri walaupun hal itu sudah sering Ghea alami. "Tapi ini di dalam mobil hanya kita berdua sayang." Balas Alvan yang kembali melanjutkan aksinya.
"Bagaimana dengan anak kita? dia menyaksikannya mas."
Alvan melepas cumbuan, sambil terkekeh ia mencubit hidung mancung Ghea. "Kamu ini ada-ada saja, gak papa dia menyaksikan biar dia juga tahu step by step cara membuatnya dulu."
Sambil tersipu Ghea mengalihkan pandangan. "Apaan sih mas."
Alvan tersenyum seraya mencium kening Ghea lama, tangannya merapikan kembali kemeja sang istri yang dibukanya tadi. "Nanti kita lanjutkan di rumah."
"Kemarin sudah mas." Sengaja Ghea.
"Kamu candu bagiku entah kenapa begitu menggoda sekali, aku akan melakukannya pelan sayang sekaligus memperlancar persalinan nanti." Balas Alvan sambil mengedipkan matanya.
"Haish.."
__ADS_1
"Setelah melahirkan nanti aku akan banyak puasa, bukankah begitu honey? jadi sekarang saja akan ku habiskan waktuku." Sengaja Alvan ingin melihat reaksi Ghea.
"Bagaimana jika aku kelelahan?." Tanya Ghea sambil mainin rambut Alvan.
"Salah sendiri begitu candu, aku tak tahan dibuatnya."
"Mas ini.."
Alvan terkekeh sambil mengecup beberapa kali pada perut buncit sang istri. "Aku tahu batasan sayang se-berhasratnya diriku jika kau kelelahan tak mungkin ku lakukan."
"Hmm aku tahu dirimu mas." Balas Ghea.
"Oke jika tidak ada tempat yang ingin kau kunjungi lagi sayang mari kita pulang, bagaimana?." Tanya Alvan.
"Ada satu tempat lagi yang ingin ku kunjungi, tapi apa mas mengijinkan?."
"Menemui papa."
Alvan terdiam tak langsung menjawab.
"Sudah lama sekali, jika kau tak mengijinkan juga tak apa mas aku hanya mengutarakan apa keinginanku saat ini." Lanjut Ghea.
Alvan masih terdiam namun lelaki itu menyalakan mobilnya kembali menancap gas. "Kita ke sana sekarang, aku juga sudah lama tak menemuinya."
__ADS_1
"Benarkah?." Timpal Ghea dengan mata berbinar.
"Tentu, jika aku tak membawamu ke sana juga takutnya malam ini tidak diizinkan tidur bersama." Balas Alvan.
"Haish!." Timpal Ghea.
Keduanya terkekeh.
"Terimakasih ya mas kamu sudah mau mengerti keinginanku selama ini, walaupun mungkin banyak yang bikin kamu kesel." Lanjut Ghea lagi.
"Shuuuuutt! aku suamimu sayang, selagi aku bisa aku akan melakukannya untukmu dan putra kita."
Ghea semakin mengembangkan senyumnya, sambil mengobrol mobil itu melaju menuju kantor polisi dimana Niko berada. Tak perlu menunggu waktu lama sekitar 20 menit mobil Alvan sampai di halaman kantor polisi.
Karena banyak yang kenal siapa sosok Alvan, para petugas di sana tak sedikit memberi salam hormat. "Mari masuk."
"Terimakasih." Ramah Alvan dan Ghea.
Sesampainya di dalam Alvan dan Ghea menunggu kedatangan Niko yang dipanggilkan petugas, sudah 1 bulan ini Ghea belum bertemu lagi dengan sang papa.
Dari arah berlawanan Niko datang digiring petugas, raut wajahnya tersenyum melihat sang putri yang didampingi oleh menantunya. "Kalian."
Niko dan Ghea langsung berpelukan, Niko senang melihat perkembangan calon cucunya yang sebentar lagi melihat dunia. "Tampak baik sekali."
__ADS_1
"Pah." Sapa Alvan.
Niko menoleh ke arah mantunya, masih ada rasa canggung dan rasa bersalah. "Al.."