
"Bukan begitu maksud mama pah dengerin dulu!." Diana ikut naik pitam. "Mereka nanti akan ke sini kita tanya mengenai foto ini, jangan dulu pakai emosi dan suruh orang kepercayaan untuk menyelediki pengirim foto, mama mohon..."
"Ck!."
"Mending papa kontrol emosi dan cari tempat bagus untuk meredakannya, setelah Alvan dan Ghea sampai mama panggil. Biar pengirim foto ini mama urus kepada Rama." Ucap Diana.
"Suruh juga Rama untuk mencari tahu siapa pria yang ditindih Ghea! padahal bukan ini yang papa inginkan kenapa masalah terus datang?." Frustasi Radit.
"Serahkan kepada mama, insting wanita tidak pernah meleset." Potong Diana.
Tanpa bicara lagi Radit memilih pergi ke tempat lain, tujuannya menyejukkan pikiran di taman belakang halaman rumah.
Sementara itu mama Diana langsung menuju tempat dimana Rama berada. "Ram.." Ucapnya setelah berhadapan dengan saudara sekaligus orang kepercayaan.
"Iya kenapa kak."
Diana menunjukkan pesan itu. "Ini pasti mudah bagimu, tolong cari siapa pengirim pesan ini dan cari juga siapa lelaki yang ditindih Ghea!."
__ADS_1
"Akan ku lakukan.. Apa kakakku Radit sudah melihatnya juga?."
Diana memijit pusing kening. "Justru itu Ram, kakakmu kau sendiri tahu bagaimana orangnya apalagi Ghea terkena getah akan konflik dendam dulu. Jadi tak mudah bagi Radit menerimanya, di saat ia sudah perlahan menerima malah dapat pesan seperti ini!."
"Bawa pengirim pesan ini ke hadapanku! sepertinya ia membenci dan tak suka kepada mantuku Gheanya." Lanjut Diana.
Rama akhirnya mengetahui. "Tak perlu khawatir biar ku urus."
"Okey."
Rama izin pamit untuk melakukan penyelidikan, seperginya Rama dari halaman rumah besar itu tidak lama mobil yang dikenal Diana datang. "Apa itu Alvan?."
"Hai Al." Balas mama Diana, wanita paruh baya itu tampak celingak-celinguk. "Katanya mau ke sini bareng Ghea, apa dia ikut?."
Alvan menatap mobilnya. "Sebentar."
Pintu mobil sebelah kiri Alvan buka, pria tampan itu mengulurkan tangannya untuk pegangan Ghea. Mama Diana tersenyum melihat mantu kesayangannya yang memang benar ikut juga.
__ADS_1
"Ma..." Sapa Ghea sopan memberikan salam.
"Hai sayang."
Mereka berdua berpelukan.
"Di mana papa? apa ada urusan di luar?." Tanya Alvan.
"Papa ada kok di dalam, ayo kita masuk." Balas mama Diana.
Diana merangkul Ghea mereka mengobrol sambil masuk ke dalam rumah itu, walaupun berasa di anak tirikan namun Alvan merasa senang melihatnya.
Sesampainya di ruang keluarga mereka bertiga duduk, para bibi pembantu datang membawakan jamuan.
"Sebelum mama panggilkan papa ada sesuatu yang terjadi mengenai Ghea sendiri, bisa dikatakan suasana hati papa sedang kacau. Mama cuma mau tanya." Diana mengambil handphone dan memperlihatkan sesuatu kepada mereka berdua. "Bagaimana kronologi dari foto ini? apa Alvan tahu? mama mau mendengar dari mulut mantu mama secara langsung."
Jujur Ghea terkejut foto itu bisa sampai pada mama Diana, apalagi Alvan yang berang melihatnya semakin murka. "Sialan!."
__ADS_1
"Biar aku saja yang jawab ma, niatnya kami ke sini ingin menyampaikan kabar bahagia namun malah mendapat gangguan menjijikkan, siapa lagi pengirimnya kalau bukan Karin!." Alvan menceritakan semua yang terjadi saat Ghea dan dirinya dijebak waktu party di hotel.
Tanpa mereka semua sadari, papa Radit mendengar pembicaraan.