
"L-lepas!." Ghea menepis tangan kekar yang menggenggam tangannya erat. "Kenapa harus memberitahukan status kita yang sebenarnya Al? kau tidak membicarakan ini dulu!."
Alvan menatap lekat wajah cantik yang tampak marah itu. "Kenapa? apa aku tidak boleh memberitahu isi dunia bahwa kau istriku? aku tidak mungkin tak mengakuimu di depan orang-orang Ghe!."
"Dia Karin kekasihmu orang yang selama ini dekat denganmu bukan? apa katanya jika aku istrimu sedangkan aku mendesign fashion produk perusahaan kamu juga!."
Alvan menggelengkan kepala. "Bukan itu alasanmu, ingat Ghe model bukan hanya dia saja aku bisa mengganti dengan siapapun. Dan ingat aku tidak memiliki hubungan dengan orang itu!."
"Bergandengan dan bermesraan di hadapanku tadi apa?." Potong Ghea dengan nada sedikit tinggi.
Alvan mengembangkan senyum tipis. "Kau cemburu?."
"Tidak, aku bahkan akan menagih kata talak yang tertunda selama dua tahun ini." Balas Ghea seraya mengalihkan pandangan.
Alvan meraih wajah cantik itu agar menatapnya. "Aku tidak akan menceraikan mu sampai kau benar-benar membalas perasaan ini."
"Oke setelah aku membalas perasaanmu maka ceraikan aku."
"Tidak.."
"Kenapa?."
"Jika kau sudah mencintaiku tentu saja permintaan cerai tidak akan keluar dari mulutmu bukan?." Timpal Alvan.
Terjebak, Ghea terdiam apa yang Alvan ucapkan benar.
Alvan menatap Ghea. "Kapan, kapan kau akan membuka hati untukku Ghe? sudah 8 tahun aku menantimu. Ini tak mudah, apa yang kurang dari diriku? terus terang saja aku lemah dalam hal ini."
"Tentang yang terjadi di masa lalu mari lupakan, semuanya sudah selesai." Lanjut Alvan.
Mendengar itu hati Ghea tersentuh. "Al sekarang susul Karin bicara dengannya dan selesaikan." Ghea sengaja mengalihkan pembicaraan.
Tatapan mata Alvan berubah menjadi tajam. "Apa kau ingin aku menggerayangi-mu sekarang!."
"Coba saja jika berani!." Ghea tak mau kalah.
__ADS_1
"Oke!.." Alvan membuka kancing kemejanya satu persatu. "Kau benar-benar memancing ke-liaran ku Gheanya."
Ghea menelan saliva perlahan, sepertinya ia salah bicara bukan ini yang ia inginkan. "Al bukan itu maksudku..."
"Aku juga tidak berniat seperti ini, andai saja jika kamu memberi peluang agar aku bisa masuk ke dalam hatimu. Kau seolah terus menghindar, memikirkan bagaimana reaksi orang lain hah?." Sanggah Alvan.
"Mereka tidak ada hubungannya dengan rumah tangga kita, stop!." Alvan langsung memeluk tubuh Ghea. "Aku tidak akan pernah menceraikan mu."
Hal yang ditakutkan Ghea terjadi, ia sendiri juga tidak bisa bohong jika merindukan Alvan.
Cukup lama Alvan memeluk Ghea melepas kerinduan, Ghea hanya meletakkan tangannya pada pinggang Alvan.
Sementara itu..
Para asisten butik keheranan dan tak menyangka. "Jadi mbak Ghea istri tuan Kaivan?."
"Aku pernah dengar juga 1 bulan yang lalu, saat mbak Ghea ditanya statusnya apa dia menjawab sudah memiliki suami yang kita tahu dia selama ini tidak berhubungan dengan pria." Timpal Nisa.
"Woah ini benar-benar mengejutkan, tapi entah kenapa mereka begitu cocok dan serasi."
"Oke."
.
Malam hari..
Bibi pembantu Lusi terkejut saat Ghea membawa lelaki tampan dengan postur tubuh kekar ke rumahnya. "Non?."
Saat Ghea hendak berucap....
"Terimakasih selama ini sudah menjaga istri saya bi, saya suaminya." Potong Alvan sengaja.
Ghea melotot, bukan Alvan namanya kalau tidak bertindak tanpa persetujuan.
Bi Lusi terkejut namun ia seketika mengerti. "Ah baiklah tuan.." Ramahnya sopan.
__ADS_1
Karena sedikit kesal, tanpa berucap Ghea memilih pergi ke lantai dua dimana kamarnya berada, Alvan tersenyum puas, langkahnya mengikuti wanita itu.
Sesampainya di kamar
Alvan melepas jasnya, membuka 3 kancing kemeja membiarkan dada bidangnya terekspos.
Ghea berusaha untuk tetap tenang memilih menguncir rambut indahnya.
"Banyak sekali perubahan pada dirimu.."
"Kau juga." Balas Ghea.
"Ghe..."
Ghea membalas tatapan mata Alvan.
"Tidak kah kita melakukannya? mama sudah sangat menginginkan cucu."
Pipi Ghea sedikit merona..
"Kau kini tak se-liar dulu, why?." Sengaja Alvan memancing.
Jarak keduanya sangat dekat, Alvan meraih tangan Ghea sengaja meletakkan pada miliknya di bawah sana. "Dia merindukanmu.."
Saat Ghea hendak berucap, Alvan langsung meraup bibir sexy Ghea menciumnya penuh agresif. Kini tidak ada celah antara tubuh keduanya.
Tubuh mereka mulai memanas, Ghea perlahan memejamkan mata ikut membalas ciuman panas itu. Ia tak bisa menolak sentuhan Alvan yang membuatnya tak karuan.
Tangan kekar Alvan menyentuh paha mulus Ghea, semakin masuk ke dalam menyentuh area sensitif.
"Aaaahhhh!..." Lenguh Ghea. "K-kau!.."
Alvan tersenyum ia beralih mencium leher jenjang Ghea meninggalkan bekas kepemilikan di sana. "Maaf bila aku tak bisa menahannya Ghe.."
Ghea meremas kemeja Alvan, saat lelaki tampan itu sengaja menggesekkan miliknya di bawah sana. "Al.... Ahh!.."
__ADS_1