Belenggu Mr. Alvan!

Belenggu Mr. Alvan!
Episode 49


__ADS_3

Cafe A..


Haikal sudah tampak menunggu di dalam, setelah memarkirkan mobil Alvan masuk ke dalam cafe tersebut.


"Tuan Al." Sambutnya mempersilahkan duduk.


Alvan duduk sambil melihat sekeliling. "Bagaimana dengan Riza? apa saham yang dia beli dariku aman?."


"Sahabat tuan cukup mahir namun di sini pengembangannya masih saya bantu." Balas Haikal.


Alvan manggut-manggut. "Lakukan saja dan jika di luar kantor jangan memanggilku tuan, om Haikal."


Haikal terkekeh. "Baiklah Al om sudah terbiasa melakukannya."


Keduanya mengobrol, Haikal pria berumur 32 tahun yang sudah memiliki seorang istri dan satu anak jangan ditanyakan lagi kedekatannya dengan keluarga Alvan bagaimana. Ia sudah berbakti melayani Nox Company dari sejak kepemimpinan Radit Ravindra.


Sudah seperti saudara kemana-mana bersama apalagi bertugas sebagai sekretaris.


"Ada apa Al ada masalah apalagi dengan papamu?." Tanya Haikal.


"Nanti malam keluargaku dan keluarga Karin akan bertemu untuk membahas perjodohan." To the point Alvan.


"Siapa yang mau dijodohkan? tuan Radit hanya tinggal memiliki satu putra itu pun Al kau sudah menikah."


"Entah apa isi pikiran papa dia ingin aku bercerai dengan Ghea lalu menikahi Karin, bukan seperti papa yang ku kenal." Timpal Alvan.


"Kemungkinan tuan Radit belum bisa melupakan kejadian di masa lalu antara kalian dan keluarga Niko, ikuti saja dulu aku rasa tuan Radit tak setega itu." Haikal ikut resah.


"Hmmm."


Keduanya kembali mengobrol mengenai pembelian saham yang akan dilakukan Alvan pada salah satu PT terbesar di negara itu.


.

__ADS_1


Jakarta timur


Setelah sampai, Ghea langsung memasuki rumahnya yang ia tinggalkan selama dua hari.


"Eh non pulang?." Sapa bi Lusi antusias.


"Nggeh bi." Ramah Ghea.


Bi Lusi memang sudah tahu jika selama di Jakarta pusat Ghea bersama suaminya.


"Bi nanti kemungkinan aku ke sini lagi setelah selesai pekerjaan di butik." Ucap Ghea mengambil kain yang sudah siap bibi bawakan.


"Tidak sarapan dulu? ini bibi buatkan bekal buat non untuk makan siang."


Ghea menerimanya. "Terimakasih bi."


"Nggeh non, hati-hati!."


Ghea kembali melanjutkan perjalanan menuju butiknya, sesampainya di butik para asisten dan customer yang sedang belanja menyapa ramah Ghea.


Ghea hanya tersenyum berjalan lurus menuju ruangannya.


"Lo gak bilang dari tadi sih Ghe." Rengek Sonya dari seberang.


Ghea menahan handphone dengan bahu, sementara tangannya sibuk mengambil peralatan. "Lo juga gak ngasih tahu gue duluan Sony."


"Yaudah lah gak papa gue juga balik ke Jakarta pusat karena saudara nikahan, sekaligus mampir ke restoran yang dikelola papa." Timpal Sonya lagi. "Sangat disayangkan gue kesini lo kesana Ghe." Sonya terkekeh.


"Lain kali." Kekeh Ghea.


"Ya."


"Yaudah gue ada kerjaan Sony."

__ADS_1


"Oke gue juga harus anter mama ke mall, see you."


"See you."


Panggilan pun berakhir.


.


Malam hari


Restoran C..


Tampak keluarga Karin sudah menunggu kedatangan keluarga Alvan, tak banyak pengunjung di sana karena mereka sengaja nge-booking tempat itu.


Hidangan lezat sudah tertata rapi, dan tidak lama pula Radit datang diikuti mama Diana yang digandeng putranya Alvan.


Yasha dan Tria istrinya berdiri menyambut, begitupun dengan Karin.


"Selamat malam tuan Radit."


"Selamat malam."


Yasha dan Radit berpelukan, dua keluarga bertukar salam dengan ramah. Terlihat Karin tak lepas mengembangkan senyum manisnya, ia tak pernah sebahagia ini akan dijodohkan dengan pria yang didamba.


Alvan sendiri malam ini begitu tampan dan gagah.


Kini mereka semua duduk di meja bundar itu.


Tidak ada reaksi dari Alvan ia jengah untuk menghadiri rencana konyol ayahnya, Diana yang peka itu memegang tangan Alvan agar tetap tenang.


"Alvan.." Sapa Karin lembut.


Alvan hanya menatapnya dengan raut wajah datar.

__ADS_1


__ADS_2