
Alvan melepas jasnya melempar sembarang, perasaan Ghea sudah tak tenang saat Alvan kembali mencumbu bibir sexy-nya, tangan kekar lelaki tampan itu memasuki baju Ghea menyentuh dan ******* gundukan kencang dengan lihai. "Aaaah!.. Apa yang kau lak....
Tok tok tok!
Ghea terkejut saat pintu ruangan diketuk, ia menggigit bibir bawah Alvan dan langsung mendorong tubuh kekarnya paksa.
Ciuman panas terlepas.
"Ah sshh!..." Ringis Alvan langsung menyentuh bibirnya
"Mbak Ghe?." Tanya Nisa dari luar.
Ghea panik langsung merapikan baju, Alvan benar-benar liar tak bisa mengontrol diri. "Kau benar-benar, ingin ku beri tendangan?!."
Alvan hanya mengembangkan senyum tipis, hatinya tetap merasa bahagia setelah pertemuan pertama ini dengan Ghea.
"Mbak Ghe?." Tanya ulang Nisa, asisten itu mendorong gagang pintu namun ternyata dikunci.
Ghea masih bungkam karena panik takut ketahuan, ia mondar-mandir mencari ide.
"Ck mengganggu saja!!." Alvan hendak melangkah, namun Ghea menahan.
"Mau kemana?."
"Membuka pintu memberinya pelajaran, berani sekali menggangguku!."
Ghea menggelengkan kepala berkali-kali. "Jangan! aku yang keluar dan kau tetap di sini."
Alvan kesal, bukankah mereka suami istri? kenapa diciduk orang takut sekali.
Dengan perlahan Ghea membuka pintu, hanya wajahnya saja yang terlihat. "Ada apa Nis?."
Nisa menatap lekat wajah atasannya itu. "Mbak Ghea apa ada sesuatu? kenapa terlihat panik begitu?."
"Enggak tadi.....
__ADS_1
Ghea langsung keluar ruangan dengan hati-hati, tanpa memberikan Nisa celah untuk melihat isi ruangannya. "Tadi tiba-tiba ada kecoa dan aku mengusirnya, bukan apa-apa."
"Bajunya tampak kusut." Batin Nisa, namun ia tak mempedulikan keanehan itu.
"Oh iya mbak itu non Karin pengukuran sudah selesai, dia sedang mengenakan pakaiannya kembali. Dan ini.." Nisa menyerahkan sebuah buku. "Setiap ukuran tubuh dari beberapa rencana rancangan fashion yang dibicarakan tadi."
"Oke.." Ghea menerima dan kembali ke tempat semula, sebisa mungkin ia tetap tenang.
"Tuan Alvan kemana?." Nisa celingak-celinguk saat tempat duduk kosong.
"Bukankah tadi ke ruangan mbak Ghea?." Timpal Tami asisten yang satunya melihat kemana Alvan pergi tadi.
Deg!
Ghea seketika terdiam mematung, semua asisten yang ada di sana menatapnya apalagi Nisa. "Mbak?."
Dalam waktu bersamaan Karin keluar dari tempat pengukuran, ia duduk kembali berhadapan dengan Ghea. "Ada 7 tema fashion yang berbeda, saya akan menanti karya bagus anda Gheanya."
Kedatangan Karin ada untungnya mengalihkan pertanyaan para asisten tentang Alvan. "Tentu setelah selesai, nanti pihak kami kirimkan ke perusahaan."
Karin menatap lekat wajah cantik Ghea, ia yang cantik masih iri dengan kecantikan seorang Gheanya bahkan ingin memiliki wajah itu.
Entah kenapa ada daya tarik tersendiri, wanita saja sangat suka menatapnya apalagi pria. "Kalau boleh tahu kamu sudah menikah atau apa?."
Ghea mengembangkan senyum palsu. "Bukankah itu privasi?."
Karin tersenyum kikuk walaupun ia merasa tak nyaman karena telah bertanya lebih padahal dekat saja tidak. "Oke maaf lancang." Ucapnya terpaksa.
"Dimana Alvan?." Karin mencari keberadaan lelaki itu.
Asisten juga celingak-celinguk harus menjawab apa.
Dalam waktu bersamaan Alvan muncul dari arah belakang, Karin tersenyum langsung menghampiri dan menggandeng tangan kekar itu dengan manja.
"Lepas!." Dingin Alvan to the point.
__ADS_1
Niatnya ingin membuat semua yang ada di sana iri, namun Karin malah mendapat teguran. Tak lama model itu mengembangkan senyum kembali.
Sementara Ghea hanya acuh saja.
"Semuanya sudah selesai, ayo kita kembali ke perusahaan." Ajak Karin.
"Aku sudah menyuruh seseorang untuk menjemputmu, pulanglah sendiri aku ada kepentingan di sini!."
Ghea dan semua yang ada di sana menatap Alvan.
"Tapi aku maunya sama kamu Al.." Rengek Karin.
"Kau siapa? berhenti mendekatiku aku sudah memiliki istri."
"What!!."
Ghea menelan salivanya. "Tidak mungkin! jangan!." Batinnya panik.
Para asisten terkejut tak menyangka.
Karin melotot mendengar ucapan Alvan. Tidak lama bodyguard yang disuruh Alvan datang.
"Bawa Karin pulang!."
"Baik tuan."
Alvan menarik tangan Ghea membawanya pergi ke belakang. "Mengganggu waktuku saja!."
Karin dibuat semakin terkejut syok, apalagi para asisten di sana mereka terbelalak. "Ada apa ini sebenarnya?."
"Alvan!." Teriak Karin.
"Ayo!.." Bodyguard itu membawa paksa tubuh Karin untuk pulang.
"Tidak! lepas br*ngsek! aku belum selesai.." Berontakn-nya tak terima.
__ADS_1