Belenggu Mr. Alvan!

Belenggu Mr. Alvan!
Episode 42


__ADS_3

Rumah utama


Ruang keluarga...


"Untuk pertama kalinya setelah dua tahun saya melihat non Ghea mendatangi perusahaan tuan Alvan." Lapor Rama.


Diana dan papa Radit menoleh.


"Dan kemarin 4 hari yang lalu untuk pertama kalinya juga tuan Alvan mendatangi kediaman Ghea di Jakarta timur, dapat diartikan kemungkinan hubungan keduanya mulai membaik.." Lanjut paman Rama.


Diana yang mendengar itu senang seolah menemukan titik terang antara hubungan Alvan dan Ghea yang selama ini renggang akan dendam.


Tak seperti Radit terlihat pria paruh baya itu masih terdiam dengan ekspresi wajah datar.


"Ram apa Ghea masih berada di Jakarta pusat?." Tanya Diana.


"Untuk itu belum tahu tapi sepertinya masih." Jawab Ram.


"Aku sangat ingin bertemu dengan Ghea." Timpal Diana.


Rama menatap atasan sekaligus kakaknya Radit. "Bagaimana denganmu kak? apa ada sesuatu yang harus ku lakukan mengenai hal ini?."

__ADS_1


"Sayangnya surat cerai untuk mereka berdua sudah ku urus, tapi mengenai hubungan mereka saat ini akan ku tanyakan dulu kepada Alvan. Perjodohan dengan Karin putri Yasha biar ku tangguhkan dulu." Balas Radit.


"Jangan cuma ditangguhkan pah sekaligus batalkan saja, lagian mama dari dulu tak setuju putra kita kan sudah beristri ya walaupun hubungan mereka tak baik tetap saja menjodohkannya salah." Potong Diana.


"Keputusan ada di papa ma, melihat Ghea bagi papa seolah-olah melihat bayangan Andre yang dibunuh orang biadab itu!."


Diana terdiam. "Dendam sudah selesai, Niko menerima hukumannya dengan setimpal. Tidak ada salahnya mari kita lupakan perlahan, walaupun Ghea putri dari lelaki itu ia tidak tahu masalahnya bahkan menjadi korban juga."


"Mama harus tahu papa memang memaafkan tapi tidak dengan melupakan, orang tua mana yang bisa melupakannya sedangkan menantu sendiri putri dari Niko!." Potong Radit.


Apa yang diucapkan sang suami memang benar adanya, Diana diam ia sendiri bimbang.


"Papa butuh waktu sendiri!.." Ujar Radit seraya pergi meninggalkan ruang keluarga setelah debat dengan Diana.


Diana menunduk memijit pusing keningnya, Rama terdiam melihat kakak iparnya yang begitu tertekan dengan situasi saat ini.


"Ram awasi saja perkembangan hubungan Ghea dan Alvan, Radit berencana melakukan perjodohan itu juga karena melihat hubungan Alvan dan Ghea yang selama ini tidak ada perkembangan." Ucap Diana.


"Tentu!."


"Bawa putrimu yang kedua ke sini, menanti cucu dari Alvan sangat lama sekali." Ketus Diana.

__ADS_1


Rama terkekeh sekilas. "Kebetulan nanti Anaya dan istriku akan ke sini kak, jadi tunggu saja. Dan Alvan kemungkinan ia sedang berusaha mengabulkan permintaanmu itu."


"Benarkah?." Diana tak percaya.


"Kan tidak ada yang tahu kak."


"Kau benar semoga Tuhan membalas doa-ku selama ini Ram." Ucap Diana walaupun ia merasa itu tak mungkin.


.......


Karin yang sepulang dari perusahaan Alvan dipenuhi rasa tak terima terhadap Ghea, rasa itu seketika menghilang saat mendengar apa yang diucapkan orang tuanya.


"Dijodohkan dengan Alvan pah?." Antusias Karin, kedekatan mereka seolah akan masuk ke arah yang lebih serius.


"Seperti katamu Alvan memang sudah memiliki istri, namun alasan om Radit ingin melakukan perjodohan ini juga karena hubungan Alvan dan istrinya yang buruk, dia lelah menunggu hadirnya sosok cucu selama dua tahun tanpa ada perkembangan dari mereka." Jelas Yasha.


Karin menutup mulut saking senangnya. "Ini kesempatan untukku pah untuk menggeser posisi Ghea!."


Yasha dan istrinya tersenyum.


"Cih! berani sekali mengancam ku kau Ghea, sedangkan selama ini kau tidak bisa memberi keturunan untuk Alvan!." Batinnya puas, situasi saat ini membuat Karin merasa dimenangkan.

__ADS_1


__ADS_2