
Suasana seketika hening, hanya suara Karin yang terisak.
"Karin papa mau mulai sekarang lupakan Alvan, kenapa kamu masih menyukainya sedangkan dia sudah memiliki istri seperti tidak ada lelaki lain jangan memalukan." Ujar Yasha.
"Gak bisa pah ini susah hati gak bisa bohong, hanya Alvan yang ku mau dan harus dia yang jadi suamiku!." Kekeh Karin.
"Kau hanya terobsesi dengan Alvan, jangan menyiksa diri dia tidak mungkin melihatmu selain sebagai bawahan!." Potong Yasha dengan nada tinggi.
"Pah..." Tria menenangkan. "Bukan waktu yang tepat untuk bicara." Tria tahu jika itu tak mempan Karin sangat keras kepala.
"Aku akan terus berusaha sampai nanti Ghea benar-benar hamil jika tidak, maka kesempatan ada di sana dan apapun akan ku lakukan!." Potong Karin.
Yasha hanya diam frustasi ia memilih pergi duluan karena putrinya keras kepala, sementara Tria dan Karin menyusul Yasha untuk pulang ke rumah dengan perasaan sedih tak terima tentunya.
.
Ghea yang baru membersihkan diri selepas pulang dari butik segera mencari handphonenya yang berdering dari tadi.
Handphone ketemu Ghea langsung menerima panggilan video call, bibirnya tersenyum saat melihat nama kontak yang menghubungi.
"Al?."
"Honey sayangnya aku tak bisa ke sana karena pekerjaan, kapan kau selesai dengan rancangan itu?." Rengek Alvan manja.
"Biasanya juga kau sering sendiri tanpa sosok diriku di samping Al." Sengaja Ghea.
__ADS_1
"Sekarang beda, kemungkinan jika dari dulu tidak ada konflik antara kita, tidak akan ada jarak bukan?."
Ghea tersenyum sekilas.
"Gheeeee, sayaaaaanngg... Jika mau pulang sekarang aku akan mengirim seseorang untuk menjemput, bagaimana?." Rengek Alvan lagi.
Ghea menggigit bibir bawahnya karena gemas melihat tingkah Alvan, masih melekat dalam benaknya Alvan sosok pria yang sangat bengis dan tegas namun kali ini 1000000% berubah drastis.
"Masih ada pekerjaan sebentar lagi." Balas Ghea sambil mengelus lembut layar handphone. "Ada apa dengan raut wajahmu tak seperti biasanya?."
Alvan tak langsung menjawab. "Bukan apa-apa hanya lelah saja tanpa ada kamu di sini."
"Ini hari minggu bukankah kamu memiliki waktu luang kenapa lelah?."
"Tadi menemui Haikal."
Karena tidak mau membuat suasana hati antara mereka kacau, Alvan memilih untuk tidak menceritakan pertemuannya dengan keluarga Karin, sangat mengganggu pikirnya. "Ya hanya menemui Haikal sayang."
Ghea membaringkan tubuhnya di atas kasur begitu juga dengan Alvan di seberang, keduanya saling tatap cukup lama seolah mengutarakan perasaan masing-masing lewat tatapan.
"Kapan pekerjaanmu selesai?."
"Sepertinya sore besok."
"Aku mungkin akan langsung memindahkan butik ke Jakarta pusat." To the point Alvan.
__ADS_1
Ghea tersenyum. "Hmmm lakukan saja."
Alvan membalas senyuman Ghea. "Sekarang tidurlah kita bertemu besok sayang, good night."
"Good night Al."
Dengan perasaan bahagia pada hati masing-masing, panggilan pun berakhir takut keterusan hingga pagi.
Saat hendak tidur handphone Ghea kembali berdering, ia langsung menerima panggilan. "Ya hallo?."
"Ghe gue ganggu gak?."
"Gak Sony ada apa?."
"Alvan bilang gak sama lo kalo tadi dia ketemuan dengan keluarga Karin membahas perjodohan, Karin model yang itu." Terus terang Sonya.
Ghea mengerutkan keningnya. "Perjodohan siapa?."
"Ini gila memang, ya perjodohan Alvan dengan Karin Ghe."
Ghea terkejut. "Ha?!.." Alvan tidak membicarakan hal itu hanya pertemuannya dengan Haikal.
"Bilang gak?."
"Gak Sony lo tahu dari mana?."
__ADS_1
"Enggak ya? gue tahu karena mereka nge-booking restoran papa gue, dan kebetulan gue juga lagi ke sana Ghe."
"Ghe jangan dulu salah paham mungkin Alvan gak ngasih tahu ke lo karena itu bukan sesuatu yang penting untuk dibahas, gue melihat dengan kepala sendiri kok suami lo dengan tegas menolak dijodohkan." Lanjut Sonya.