
06:12 Pagi..
Ghea mengerjapkan mata mengangkat perlahan tangan kekar Alvan yang memeluk erat perut ratanya, wanita cantik itu merubah posisi menjadi duduk, tubuhnya dan Alvan sama-sama telanjang setelah menghabiskan malam penuh dengan gairah bercinta.
Ghea menatap lekat wajah tampan Alvan yang masih terlelap, ia menghela nafas panjang. "Rencanaku ingin bercerai tapi kenapa malah berakhir di ranjang seperti ini?."
Saat Ghea berdiri...
"Sssshh!!.." Ringisnya merasakan ngilu pada area sensitif, tubuhnya pegal-pegal akibat semalam. "Alvan benar-benar liar."
Dengan susah payah akhirnya Ghea sampai di kamar mandi, membersihkan diri merendam tubuhnya di dalam bathtub.
Pikirannya kembali teringat adegan bercinta semalam, wajah tampan Alvan yang mengerang di atasnya penuh kenikmatan. "Si*l padahal aku masih kesal kepadanya, i hate you Alvan Ravindra."
Namun tak bisa bohong pipi Ghea merona.
Setelah selesai membersihkan diri, Ghea mengenakan baju memberi polesan make up pada wajah cantiknya sehingga semakin indah dipandang.
Terlihat Alvan masih terlelap tidur, Ghea tak peduli setelah selesai bersiap-siap ia keluar kamar untuk pergi menuju butik.
"Non sudah bangun? sarapan dulu nggeh.." Ramah bi Lusi.
"Enggak nanti saja di butik."
"Non itu pria yang bersama non?."
Ghea tak langsung menjawab ia tak mau bi Lusi menganggap dirinya cewek nakal. "Alvan memang benar suamiku bi, tapi selama dua tahun ini kita sepakat berpisah dulu."
"Oh iya-iya."
"Kalau dia bangun dan mencari ku, jawab saja ya bi."
"Nggeh non.."
Ghea berlalu dari rumahnya menancap gas mobil menuju tempat kerja (butik).
.
Dengan mata yang masih terpejam, Alvan meraba-raba bantal di samping. Ia membuka mata saat tangannya tak menemukan seseorang yang dicari.
__ADS_1
Kosong...
Alvan celingak-celinguk mencari keberadaan Ghea, rupanya istrinya itu sudah tidak ada di sana. Alvan terkekeh sekilas. "Ghe kau menghindari ku?."
Namun Alvan tak peduli, biarkan rasa marah dan kesal Ghea reda dengan sendirinya mengenai masalah Karin kemarin. Yang jelas ia tidak akan pernah menceraikan wanita itu sampai kapanpun dan akan menagih balasan cinta dari Ghea secepatnya.
"Aaarrrgh!.." Alvan tersipu menggigit bibir bawahnya, pipinya merona mengingat adegan panas mereka semalam. "Kau benar-benar canduk ku Alisiya..."
Alvan membersihkan diri setelahnya mengenakan pakaian jas kemarin karena tidak ada baju lagi di sana, lelaki itu turun dari lantai dua terlihat bi Lusi tersenyum ramah.
"Tuan sarapan dulu sudah bibi siapkan.."
"Boleh.."
Alvan berjalan menuju meja makan, bibi mengambil dan menyerahkannya kepada Alvan. "Silahkan tuan."
"Terimakasih bi.."
"Sama-sama den."
Alvan mulai sarapan. "Bi Ghea pergi kemana? apa dia izin?."
Alvan manggut-manggut, ia tak berhenti tersenyum mengingat adegan panas semalam. "Ada satu hal yang ingin ku tanyakan, lelaki bernama Farel apa sering datang ke rumah ini?."
"Terakhir 3 hari yang lalu den."
"Karena bibi sudah tahu aku suaminya, tolong nanti jika lelaki itu datang ke sini jangan sampai masuk apalagi ngobrol berduaan dengan Ghea! di luar saja." Tegas Alvan.
"Baik den.."
"Oke."
Setelah selesai sarapan, Alvan pamit dan meninggalkan rumah Ghea menuju Jakarta pusat. Bukan tak ingin lama-lama di sana tapi perusahaan membutuhkan Alvan.
.......
Butik
"Ini kainnya mbak.." Nisa menyerahkan apa yang diminta Ghea.
__ADS_1
Tatapan Ghea kosong.
"Mbak?."
"Ah Nis, ada apa?."
"Ini kain yang mbak minta tadi."
"Oke thanks you.."
"Tentu, mbak ngelamunin apa dari tadi kok gak fokus?."
"Bukan apa-apa.." Balas Ghea sedikit tersenyum kikuk.
"Ini ada paket dari seseorang.." Nisa memberikan sebuah kotak kepada Ghea.
"Dari Farel?."
"Bukan, orang yang ini berbeda. Buka saja mbak." Ramah Nisa.
"Senyummu mencurigakan." Timpal Ghea menerima kotak itu dan membukanya.
Terlihat seperti minuman herbal, ada cake yang tampak menggiurkan dan ada sepucuk surat di sana. Ghea mengerutkan kening dan langsung membacanya.
"Minumlah minuman herbal ini agar tubuhmu bugar dan rasa sakit pada milikmu mereda, aku kembali ke perusahaan... Jangan dekat dengan lelaki manapun aku dapat melihatnya dari sini, kejadian semalam tidak akan pernah ku lupakan dan tunggu saja permainan selanjutnya."
Wajah Ghea merah saat membaca surat dari Alvan.
"Mbak cake nya kaya enak, biasanya mbak kasih buat para asisten....." Goda Nisa.
"Kali ini enggak!."
Nisa terkekeh sekilas. "Baiklah." Setelahnya ia keluar dari ruangan Ghea.
Ghea mengatur nafas agar bisa tenang. "Awas saja kau Alvan, berani mengaturku sedangkan kau di sana asyik main dengan banyak wanita.. Ck! ada apa denganmu Ghe? apa kau cemburu?."
TBC
Tinggalkan dukungannya ya!...🤗👇
__ADS_1