Belenggu Mr. Alvan!

Belenggu Mr. Alvan!
Episode 74


__ADS_3

Niko masuk ke dalam dengan didampingi polisi yang selalu setia menjaga, Alvan dan Ghea tersenyum. Sang papa langsung berhambur memeluk tubuh putrinya. "Syukurlah jika semuanya lancar nak papa begitu khawatir."


"Iya pah."


Mata Niko tertuju pada bayi tampan yang sedang tidur pulas. "Apa itu cucuku? ya Tuhan.." Pria paruh baya itu meneteskan air mata karena begitu terharu dan bahagia.


Alvan mempersilahkan papa mertuanya mendekati baby Kenzo, membiarkannya bermanja-manja dengan sang cucu yang terlelap. "Cucu opah yang tampan, akhirnya karena kehadiranmu putri papa tak akan kesepian merasa sendirian lagi. Kau mirip mama dan papamu nak."


Ghea yang melihat itu tersenyum bahagia ia meneteskan air matanya, dengan penuh perhatian Alvan mengelus lembut rambut sang istri mengecup keningnya dengan rasa sayang. "Terimakasih sayang, mungkin jika kau tak hadir rasa dendam itu akan terus berlanjut membelenggu diriku ke dalam rona gelap."


Tak lama mata baby Kenzo terbuka ia terbangun akan kecupan sang kakek, Ghea hendak merubah posisi takutnya baby Kenzo menangis. Namun lain dugaan baby Kenzo malah anteng menatap lekat wajah sang kakek yang gemas dengannya.


"Utututututu, cucu kakek cepat besar ya nak. Setiap kakek menjenguk kamu harus semakin tumbuh." Gemas Niko.

__ADS_1


Ghea dan Alvan tidak berani mengganggu mereka hanya tersenyum menyaksikan itu.


Sementara di luar rumah sakit.


Mama Diana yang asalnya tenang duduk santai membiarkan Ghea dan papanya Niko bersama, seketika panik saat melihat mobil suaminya Radit yang datang dan parkir di halaman rumah sakit. "Papa!." Mama Diana kelabakan langsung berlari ke arah parkiran.


Papa Radit yang keluar dari dalam mobil mengerutkan kening saat melihat istrinya berlari ke arah dia. "Ada apa ma? kenapa lari?."


Diana langsung mengembangkan senyum manis menyembunyikan kepanikan, ia langsung mengecup telapak tangan Radit. "Tumben jam segini sudah pulang? katanya ada meeting penting sampai nanti malam."


"T-tunggu!." Mama Diana menghindar menyilangkan kedua tangannya. "Jangan masuk ke dalam pah, mending antar mama ke toko mau beli sesuatu buat Ghea. Gimana?."


"Belanja? yaudah kita belanja, tapi papa mau ketemu Kenzo dulu sebentar. Ayo." Ajak Radit menarik tangan sang istri.

__ADS_1


"Enggak pah nanti aja!." Keukeuh mama Diana yang membuat papa Radit keheranan.


"Sebentar ma, ada apa dengan mama buru-buru sekali? apa ada sesuatu di dalam?." Timpal Radit.


Karena tak mau membuat suaminya semakin curiga, Diana kembali mengembangkan senyum manis. "Masa papa mau mengganggu Ghea dan Alvan yang lagi mesra-mesranya, gak mungkin kan? mama juga bisa ada di halaman rumah sakit karena gak mau mengganggu mereka yang lagi itu."


Papa Radit terdiam. "Belum 40 hari ma, Alvan gak mungkin melakukannya, jika mereka sedang bercumbu tidak mungkin selama itu."


Diana sedikit frustasi dengan sikap suaminya yang ngeyel, ia bingung harus membuat alasan apa lagi. "Pah nanti aja ya kita belanja dulu, nanti juga ketemu Kenzo gak enak ganggu anak-anak." Rengek Diana untuk kesekian kalinya.


Walaupun terasa ada sesuatu yang aneh, Radit akhirnya mengiyakan saja daripada banyak mulut dengan sang istri. "Yasudah kalau begitu kita belanja dulu ma."


Diana tersenyum langsung membawa papa Radit masuk ke dalam mobil kembali. "Terimakasih pah."

__ADS_1


"Your welcome mam."


__ADS_2