
Ini hanyalah cerita fiksi. Tidak ada unsur menyinggung atau merugikan pihak manapun. Dan cerita ini tidak diambil dari kisah nyata.
Selamat berfantasi ππ
π·π·π·π·π·
Setelah 30 menit berlalu, Kevin ikut tertidur karena bahan obrolan yang sudah habis. 1 jam kemudian akhirnya mereka sampai ditempat tujuan.
Fandi membangunkan adik-adiknya agar bisa istirahat di dalam villa. Mereka membawa barang bawaan masing-masing lalu masuk ke dalam.
Para orang tua menempati kamar di lantai 1, sedangkan anak-anak menempati kamar lantai 2. Mereka langsung istirahat dikamar masing-masing. Dinda sudah berpesan pada Bu Isa (pengurus villa mereka) agar menyiapkan makan siang jam 1 nanti.
π·π·π·π·π·
(Di kamar Kevin)
Bruuuukk...
Kevin melempar badannya ke ranjang. Memejamkan matanya yang masih berat. Lalu...
Deeert... Deeertt...
__ADS_1
HP nya berbunyi, pesan WA masuk
βοΈβοΈ : Dah nyampe?
βοΈβοΈπ΅ : Udah. Barusan
βοΈβοΈ : Pasti capek. Yadah istirahat gih!
βοΈβοΈπ΅ : Engk kok. Kalo ngobrol sm kamu capeknya ilang
βοΈβοΈ : Dasar doyan gombal. Dah istrht aja. Q mo bantuin bunda dulu. Have fun π
βοΈβοΈπ΅ : Iya. Ntr klo udh gk sibuk chat ya!!
Mata Kevin yang tadinya berat sekarang jadi segar. Pipinya sedikit menghangat menerima pesan chat barusan. Siapakah orang yang bisa membuat Kevin yang cuek jadi pria melankolis seperti sekarang.
Kevin memutuskan untuk memaksa matanya untuk tidur. Karena hari masih menjelang siang. Tidak mungkin dia berkunjung ke pantai karena pasti sangat panas. Akhirnya Kevin terlelap karena lelah berkutat dengan pikirannya. Berharap akan segera masuk sekolah untuk bertemu orang yang spesial dihatinya.
π·π·π·π·π·
(Di kamar Fandi)
__ADS_1
Setelah merapikan pakainnya kedalam lemari, Fandi bergegas mandi. Walaupun badannya tidak lengket, karena tadi berangkat subuh, jadi suhu didalam mobil tidak terasa panas.
Ia berendam dengan air dingin. Berharap membantu menghilangkan kalut dalam pikirannya sekarang.
"Aahh... Jika kata andai itu bisa aku gumamkan, apakah hatiku akan tenang?" Suara dalam pikiran Fandi sedang bergemuruh.
Fandi memejamkan matanya. Berharap waktu akan merubah rasa sakit di hatinya kini. "Kenapa bukan aku? Kenapa bukan aku? Apakah kamu sungguh tidak mengerti perhatian yang dulu selalu aku berikan? Apa kamu hanya menganggap ku hanya sebagai kakak?" Fandi menenggelamkan wajahnya kedalam bathtub.
"Seharusnya aku langsung maju saat mendapat kabar perjodohanmu. Kenapa sekarang aku baru menyesalinya. Padahal waktu itu sudah jelas tahu aku akan sangat menyesal. Tapi kenapa mulut ini hanya bisa bungkam. Apakah tidak sebesar itu rasaku padamu? Atau apakah kamu tidak menganggap ku sebagai laki-laki?" Pikiran Fandi masih berbicara sedih.
Ia duduk didalam bathtub. Bergumam lirih, "Seharusnya sekarang aku yang ada di sampingmu, ooohh... Lilia. Kenapa aku begitu bodoh. Kenapa hatiku bisa seberat ini untuk melepasmu?"
Fandi menenggelamkan wajah sedihnya kedalam tangannya. Dia masih bingung harus bersikap bagaimana untuk kedepannya. Ia menyadari bahwa sifat ini tentu tidak baik untuk dirinya, untuk Lilia pula, dan untuk keluarganya apalagi. Fandi berharap Tuhan akan selalu merangkulnya. Walaupun saat ini perasaannya salah.
π·π·π·π·π·
π¬οΈ BERSAMBUNG.....
Support aku dengan like dan vote kalian sayang ππ
Komen nya dong biar meriah... Yang suka jangan sungkan klik gambar jempol nya ya sayaaang. Vote juga jangan ketinggalan biar author semangat buat up tiap hariπππ
__ADS_1
βοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈ