BENIH CINTA NIKAH MUDA!!

BENIH CINTA NIKAH MUDA!!
EXPART - PENAT


__ADS_3

Di taman dekat cafe RS Fantasi...


"Haloo... Iya Frans. Ada apa?"


"......"


"Hmm... Saya masih tidak tau kapan bisa ambil penerbangan ke London. Apakah Sir Gustav tidak bisa menyelesaikan?"


"....."


Fandi menghela nafas panjang. Sepertinya pembicaraan di telepon ini mengganggu pikirannya.


"Oke... Oke... Tiga hari lagi saya kembali. Oke..." Huuuft... Nafas Fandi begitu berat. Sebenarnya meninggalkan perusahaan terlalu lama juga tidak baik. Selama sebulan lebih Fandi pulang ke Indonesia. Tapi setiap hari ia selalu kepikiran kondisi kantornya di London.


Yang Fandi pikirkan saat ini bukanlah kondisi Lilia sebenarnya. Tapi ia sedang memikirkan jawaban yang sekiranya Risa berikan padanya nanti. Dirasa otaknya sudah tidak bisa lagi menampung pikiran antara pekerjaan dan pengejaran cintanya.


Kepalanya nyut-nyutan sekali pagi ini. Ia ingin kembali ke cafe untuk menyeruput secangkir kopi pahit untuk meredakan migrain di kepalanya. Tapi niatnya malah sirna, Fandi belum siap akan bertatap muka dengan Risa lagi.


Setelah kejadian beberapa jam tadi, rasanya Fandi belum siap lagi bertemu dengan Risa. Belum siap jika Risa menolak lamarannya.


Fandi memutuskan untuk duduk di bangku taman. Membiarkan tubuhnya dibalut sinar matahari pagi. Lalu ia membungkuk, sambil mengurut pelan alis tebalnya.


Mendengus beberapa kali, lalu menghelas nafas panjang. Seandainya ia tidak kepincut daya tarik Risa, pasti tiga minggu yang lalu ia sudah kembali ke sarangnya di London.


Saat pikirannya galau sampai ia merasa pusing, tiba-tiba ia kaget saat ada seseorang yang menepuk lembut bahunya. Tapi Fandi belum juga mengangkat wajahnya. Dengan masih tertunduk dan memijat keningnya, Fandi mulai mengeluarkan suaranya.


"Huuuft... Ada apa sih Ar. Gue lagi puyeng nih. Udah sono lo temenin Lilia aja. Tinggalin gue sendiri!!"


"Mas... Ini Risa, bukan Ardian!"

__ADS_1


Ditengah kepalanya yang masih merasakan kesemutan yang laur biasa, Fandi langsung mengarahkan wajahnya pada suara disampingnya. Sekarang kepalanya malah menjadi berat sekali. Rasanya saat ini bukanlah waktu yang tepat jika Risa menyampaikan penolakan atas lamarannya tadi. Tentu saja saat ini Fandi sangat takut, takut menerima bahwa hatinya akan segera hancur.


"Eeehh... Risa, kok kamu ada disini?"


Fandi mengalihkan pandangan ke jam tangannya. Sudah jam setengah sembilan. Seharusnya Risa sekarang bersiap-siap untuk jamnya bertugas.


"Kamu nggak kerja? Malah nyusul kesini. Ada apa?"


Entahlah... Rasanya hati Fandi ingin memungkiri niat Risa mendatanginya ke taman. Ia ingin menutup rapat kedua telinganya sehingga tidak perlu mendengar kata-kata yang akan menyakiti hatinya.


"Mmm... Mas Fandi kayaknya lagi ada masalah ya? Masalah kerjaan?"


Fandi sedikit lega karena Risa belum mengungkit perihal lamarannya beberapa jam yang lalu.


"Iya nih... Ada klien di London yang mau taken kontrak, tapi maunya ketemu langsung sama aku. Sedangkan aku masih belum bisa balik ke London".


"Lhoo... Masalah sepenting itu kenapa malah mas Fandi tunda? Emang nanti nggak nyesel?"


"Hmmmm... Karena sepenting itu makanya sekarang aku lagi pusing banget Sa. Yang disana pengen cepet-cepet aku balik. Tapi aku juga nggak bisa ninggalin yang disini".


Risa kini benar-benar bingung dengan sikap Fandi. Apa lagi yang lebih penting jika berhubungan dengam kliennya? Bukankah Lilia juga sudah membaik. Malahan sebentar lagi sudah bisa istirahat di rumah.


"Ya kalau gitu kan mas buruan balik aja ke London sih. Emangnya masalah apa sih disini yang nggak bisa ditinggal? Sampek muka mas kucel gitu".


Pertanyaan Risa menambah berat beban kepala Fandi. Rasanya Fandi ingin berteriak kencang . Mungkin jika didepannya ada kolam ia langsung menceburkan dirinya kesana agar otaknya tidak mendidih.


Fandi masih terdiam, mencoba menenangkan hati dan pikirannya. Tapi saat ia mengatur irama di kepalanya, Risa malah menyulut ledakan yang membuat Fandi tidak bisa menahan keresahan didalam kepalanya sedari tadi.


"Ya gimana aku mau balik ke London coba. Kalau hati aku aja masih nggantung disini. Aku akan balik ke London setelah dapat jawaban dari kamu Sa. Sebenernya aku juga nggak bisa lama ninggalin kantor yang di London. Apalagi waktu taken kontrak kayak gini, orangnya agak resek lagi. Tapi nunggu jawaban dari kamu tuh lebih penting ketimbang nemuin klien yang bikin aku tambah pusing".

__ADS_1


Rona kini hinggap di wajah Risa. Ia menunduk tak sanggup memandang kearah Fandi. Baru pertama kali ada seseorang yang menganggapnya sangat penting. Apalagi itu adalah seorang laki-laki. Tiba-tiba degupan jantung Risa menggendang. Ia bahkan takut kalau-kalau Fandi akan mendengarnya.


Setelah Fandi malah mengeluarkan unek-uneknya, perasaannya yang begah jadi sedikit plong. Ia melihat tingkah Risa yang tiba-tiba diam dengan kepala yang tertunduk. Ia mendapati wajah dan telinga Risa yang memerah.


Risa yang masih menunduk malu tiba-tiba saja mengerjap saat tangan Fandi menyentuh keningnya.


"Sa... Kamu gapapa kan? Wajah kamu merah. Tapi kayaknya nggak demam. Kamu lagi nggak enak badan? Mau aku anter ke dalem?" Risa menggeleng. "Atau mau aku antar pulang aja?" Risa juga menggeleng.


Rasanya migrain Fandi datang lagi. Padahal setelah mengeluarkan unek-uneknya tadi kepalanya sudah merasa ringan. Bisa-bisa ia akan pingsan kalau keadaannya terus seperti ini.


"Sa... Kamu ngomong dong. Aku bingung nih. Aku kan bukan dokter sa. Kalau kamu emang lagi ngerasa sakit bilang aja". Tapi lagi-lagi Risa hanya menggeleng.


Setelah Risa kembali mendengar nafas berat Fandi, ia memberanikan diri untuk menatap wajah Fandi.


"Aku... Malu mas..." Jawaban Risa setelah bertemu dengan mata lelah Fandi.


Tentu saja Fandi merasa aneh dengan sikap Risa. Hal apa yang sampai membuatnya malu seperti ini. Seharusnya Fandi yang tengah malu karena dengan gamblang mengeluarkan unek-uneknya tadi. Taoi kenapa malah Risa?


"Kamu kenapa bisa malu Sa? Emangnya kamu habis ngapain?" Fandi masih mencoba menerka-nerka hal yang membuat Risa jadi salah tingkah. Tapi sepertinya nihil.


"Aku malu karena kamu menganggap aku orang yang penting buat kamu mas".


Semilir angin yang menembus ubun-ubun Fandi seakan membawa semua beban yang memberat di kepalanya. Kata-kata Risa barusan membawa perasaan Fandi terbang melayang-layang.


🌷🌷🌷🌷🌷


πŸƒBERSAMBUNG...


Terima kasih kalian yang sudah membagi VOTE dan LIKE nya sayaaaaang 😘😘

__ADS_1


Tetap dukung author dengan VOTE, LIKE, & KOMEN kalian yaaa


Salam Hangat Author 😍😘


__ADS_2