BENIH CINTA NIKAH MUDA!!

BENIH CINTA NIKAH MUDA!!
EXRA PART-IJINKAN KUGANDENG TANGANMU!!


__ADS_3

Louwish kembali dalam sunyinya. Otaknya masih berputar-putar memikirkan akibat kedepannya yang mungkin juga bisa menyakiti kembali hati Sinta, anaknya.


" Om... Kasih Bagas kesempatan om. Bagas nggak peduli sepahit apapun masa lalu Ana om. Bagas tulus om sama Ana. Tolong kasih Bagas kesempatan untuk bisa membahagiakan Ana om".


Louwish masih membisu. Seakan suaranya enggan membalas permintaan Bagas.


Tanpa disadari Louwish maupun Bagas, ada seseorang di balik tembok ruang tamu yang mendengar semua percakapan mereka. Ya... Dia adalah Sinta. Sejak Bagas memasuki ruang tamunya, ia berniat mengintip tamu yang berkunjung pagi-pagi ke rumahnya.


Setelah mendengar suara yang sudah familiar itu, Sinta memutuskan untuk tidak menampakkan dirinya. Dan sekarang betapa campur aduk perasaan Sinta setelah mendengar pernyataan Bagas.


Tubuh Sinta bergetar hebat. Merinding seperti melihat film horor yang penuh dengan jump scare. Mukanya kini memerah, air matanya menerobos keluar dari rongga matanya.


Suasana hening sejenak Lowish dan Bagas membuat suara sesenggukan Sinta terdengar. Louwish yang menyadari hal itu menghampiri sumber suara yang agak jauh disana.


"Ana... Sayang... Apa kamu?"


Belum sempat kalimat Louwish yang terbata-bata itu menyambung, Sinta menghamburkan pelukan pada nya. Begitu pilu isakan anak tunggalnya. Ia bisa merasakan luapan emosi yang bercampur aduk dalam tangisan Sinta.


Kini Bagas berada tepat dibelakang Louwish yang sedang mendekap hangat Sinta yang tengah tersedu-sedu. Mata Bagas menjadi layu melihat Sinta yang tengah terisak. Ia memberanikan diri untuk membuka mulutnya.


"An..."

__ADS_1


Ayah dan anak itu melepaskan pelukan mereka. Louwish memilih meninggalkan Sinta dan Bagas agar mereka bisa membicarakan masalah mereka sekarang.


Bagas mengerti dengan tindakan Louwish. Kesempatan yang diberikan Louwish padanya tak akan ia sia-siakan. Sepeninggal Louwish dari sekat ruang tamu itu, Bagas mengambil langkah mendekatkan dirinya kepada Sinta. Memeluk tubuh Sinta yang masih sedikit bergetar.


Tanpa kata, mereka terdiam dalam dekapan selama beberapa menit. Bagas memegang kedua bahu Sinta. Mengusap lembut air mata yang sudah terlanjur jatuh di kedua pipi Sinta.


Bagas mengajak Sinta untuk duduk di kursi ruang tamu. Ia menggenggam tangan Sinta. Masih dirasakannya sedikit bergetar. Bagas menepuk lembut tangan yang ia genggam.


"An... Maaf..."


Sinta yang tadinya tertunduk melayangkan pandangan penuh tanya kepada Bagas. Kini tangisnya benar-benar sudah berhenti. Ia menatap mata Bagas yang sendu. Mata yang tidak pernah Sinta temui pada seorang Bagas. Tentu saja hal ini menjadi pertanyaan besar bagi Sinta.


Sejenak Bagas masih terdiam. Ia sedang menyusun kalimat yang akan ia keluarkan, agar Sinta tidak salah menangkap omongannya, agar Sinta tidak lagi terluka hatinya.


"An... Gara-gara aku, kamu jadi nangis kayak gini. Maafin aku An... Aku nggak bermaksud nyakitin hati kamu. Aku cuma... Aku ingin ngasih kamu kebenaran ini".


"Kebenaran? Kebenaran apa maksud kamu Gas?" Sungguh Sinta sangat bingung dengan penjelasan Bagas. Apakah ada hal yang tidak benar selama ia mengenal Bagas?


"Kebenaran tentang ketulusanku An. Tentang perasaanku sebenarnya sama kamu. Aku ingin kamu tahu, aku serius An sama kamu. Aku cuma butuh kamu untuk jadi pendamping di hidup aku!"


Mata Sinta kini merengut. Ia tahu Bagas selama ini sering mengatakan ingin menikah dengannya. Tapi Sinta merasa bahwa itu hanya candaan saja.

__ADS_1


Sebenarnya Sinta sedikit ada rasa terhadap Bagas, tapi segera ia usir rasa itu. Ia takut hatinya akan hancur saat ia mencoba menjalin sebuah hubungan. Ia tidak siap untuk terpuruk untuk kedua kalinya.


"Tapi Gas... Kamu nggak tau kan. Aku ini sudah kotor. Aku bahkan nggak pantas untuk bersanding dengan seseorang. Apa kata orang nanti tentang pasanganku? Gimana dengan keluarga calon suamiku seandainya tahu aku ini sudah tidak layak untuk anak mereka? Aku nggak bisa Gas... Aku..."


Belum tuntas cuitan Sinta, Bagas membekap mulut Sinta dengan mulutnya. Ia menyusuri tiap sudut bibir Sinta dengan lembut.


Sinta sangat terkejut dengan tidakan Bagas. Tapi entah kenapa Sinta tidak menolak perlakuan Bagas terhadapnya. Ia merasakan kehangatan yang mulai menyelimuti dadanya. Jantungnya sedikit berpacu, tapi masih terasa hangat.


Perasaan ini berbeda dengan perlakuan Ronald dulu yang selalu malayangkan ciuman kasar kepadanya. Bahkan kini kehangatan itu menyamarkan bayangan Ronald yang ada dipikirannya.


Tanpa sadar Sinta membalas ******* Bagas dengan halus. Perasaannya yang hancur bertahun-tahun kini telah berganti dengan rasa hangat yang menjalar keseluruhan kepalanya.


Bagas yang menyadari balasan yang Sinta berikan, lalu meraba lembut tengkuk Sinta. Memperdalam kecupan mereka.


"Mungkin benar... Inilah yang disebut cinta buta. Rasanya hangat, berbeda dengan ci****** yang ia pernah lakukan selama ini. Rasa ini seperti... TULUS", batin Bagas yang benar-benar sudah memantapkan hatinya.


Beberapa menit calon kekasih itu melepas hasrat terpendam mereka. Bagas melepas kenikmatan yang akan ia peroleh setelah ia berhasil mengikat janji setianya dengan Sinta.


Bagas lalu berlutut didepan Sinta yang masih duduk di kursi. Ia menggenggam kedua tangan Sinta, mengecupnya sekilas, lalu memandang mata bidadarinya.


"An... Dengerin aku. Jangan memotong penjelasanku. Setelah kamu dengar semua yang aku ungkapkan, baru kamu boleh menerima atau menolak aku!"

__ADS_1


__ADS_2